DetailNews.id, Tarakan — Ribuan kader Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) memadati Ballroom Hotel Tarakan Plaza, Sabtu (10/1/2026), dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat NU di Kota Tarakan.
Acara berlangsung khidmat dan penuh semangat, menandai delapan dekade pengabdian perempuan NU dalam dakwah, pendidikan, moderasi beragama, serta kerja-kerja sosial di tengah masyarakat.
Ketua PC Muslimat NU Kota Tarakan, Hj. Siti Laela Al Khafidzoh, S.Pd., M.Si., menyebut peringatan harlah ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum syukur sekaligus konsolidasi kekuatan perempuan NU di wilayah perbatasan.
“Ini adalah anugerah luar biasa. Hari ini menunjukkan Muslimat NU terus hidup, tumbuh, dan menguat dari akar rumput,” ujar Siti Laela, disambut tepuk tangan hadirin.
Acara ini dihadiri langsung Ketua PP Muslimat NU Pusat Dra. Hj. Arifah Choiri Fauzi, M.Si., yang juga menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Wakil Gubernur Kalimantan Utara Ingkong Ala, SE., M.Si., Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul, M.Kes., Ketua PCNU Kota Tarakan KH Abdul Samad, LC., M.Pd., unsur Forkopimda, serta mitra strategis Muslimat NU, termasuk Pertamina.
Dalam sambutannya, Hj. Siti Laela menekankan peran nyata Muslimat NU Kota Tarakan dalam dunia pendidikan dan penguatan toleransi. Muslimat NU mengelola berbagai lembaga pendidikan, mulai dari PAUD, TKIT, SDIT, hingga Sekolah Citra Bangsa.
Menariknya, sekitar 50 persen peserta didik berasal dari latar belakang non-Muslim, sebagai wujud nyata komitmen Muslimat NU dalam merawat kebinekaan.
“Untuk anak-anak Kristiani dan Katolik, kami siapkan pendamping rohani sesuai keyakinan mereka. Inilah wajah Islam rahmatan lil alamin yang kami rawat melalui pendidikan,” kata Siti Laela.
Mewakili Gubernur Kaltara Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum., Wakil Gubernur Ingkong Ala menyebut perjalanan 80 tahun Muslimat NU sebagai bukti keteguhan dan konsistensi perempuan dalam membangun bangsa dari tingkat keluarga.
“Muslimat NU telah menunjukkan peran strategis, tidak hanya di bidang keagamaan, tetapi juga sosial, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga. Mereka adalah pilar ketahanan sosial dan moral bangsa,” ujarnya.
Ingkong Ala menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara untuk terus bersinergi dengan Muslimat NU dan seluruh elemen masyarakat dalam memperkuat peran perempuan dan perlindungan anak.
Sementara itu, Ketua PP Muslimat NU sekaligus Menteri PPPA Dra. Hj. Arifah Fauzi, menyampaikan pesan mendalam tentang makna pengabdian dan keberkahan hidup. Ia menceritakan pengalamannya bertemu seorang profesional asal Singapura yang heran melihat semangat ratusan ribu Muslimat NU yang hadir dalam peringatan harlah di Gelora Bung Karno.
“Muslimat NU berkhidmat dengan ikhlas. Mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan dana. Ini yang membuat hidup menjadi barokah,” ujar Arifah.
Mengutip pesan ibundanya, Arifah menjelaskan bahwa hidup barokah bukan soal banyaknya harta, melainkan sejauh mana hidup memberi manfaat. Hidup yang manfaat bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.
“Dan tempat berlatih mengurusi orang banyak itu adalah Muslimat NU,” katanya.
Ia juga mengingatkan pesan KH Hasyim Asy’ari bahwa siapa pun yang merawat NU, termasuk Muslimat NU, akan dianggap sebagai santri beliau dan didoakan husnul khatimah. Dalam konteks pengasuhan anak dan pencegahan kekerasan, Arifah menegaskan pentingnya kasih sayang ibu dalam keluarga.
“Ketika seorang ibu menenangkan anak dengan pelukan dan kata-kata lembut, saat itu dosa-dosanya digugurkan. Dari keluarga yang penuh kasih, lahir generasi yang sehat dan berdaya,” ujarnya.
Puncak pesan Harlah ke-80 Muslimat NU disampaikan Arifah Fauzi dengan penegasan peran perempuan sebagai penggerak peradaban.
“Ketika seorang perempuan mengangkat dirinya dengan ilmu, akhlak, dan kualitas, sesungguhnya ia sedang mengangkat keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya,” katanya.
Peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU di Kota Tarakan menjadi penegasan bahwa perempuan NU bukan hanya penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga agen perubahan yang aktif membangun pendidikan, merawat toleransi, dan memperkuat fondasi bangsa dari keluarga.
Peliput: Raden







