Rabu, Januari 21, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaManggaraiStop Cyberbullying: Mengapa Aib Orang Lain Bukan Bahan Hiburan dan Ladang Cuan?

Stop Cyberbullying: Mengapa Aib Orang Lain Bukan Bahan Hiburan dan Ladang Cuan?

DetailNews.id, Manggarai – Di tengah laju perkembangan teknologi digital yang kian pesat, batas antara hiburan dan penghinaan semakin kabur. Media sosial yang sejatinya dirancang sebagai ruang berbagi informasi, edukasi, dan kreativitas, kini kerap disalahgunakan menjadi panggung untuk mempermalukan orang lain demi popularitas dan keuntungan ekonomi.

Tulisan Melania Ida, mahasiswa Universitas Katolik (UNIKA) St. Paulus Ruteng, mengangkat fenomena yang patut menjadi keprihatinan bersama: cyberbullying yang dikemas dalam balutan konten kreatif. Aib, kesalahan, atau sisi rapuh seseorang dengan mudah diubah menjadi meme, video lucu, reels, hingga siaran langsung yang dimonetisasi. Dalam praktik ini, penderitaan manusia direduksi menjadi komoditas digital.

Fenomena tersebut tidak lagi dapat dianggap sebagai candaan semata. Ketika konten dibuat dengan tujuan mempermalukan dan mengeksploitasi individu tertentu, maka yang terjadi adalah pelanggaran terhadap martabat manusia. Pelaku mungkin memperoleh keuntungan finansial, engagement, atau pujian sesaat dari warganet, tetapi dampak yang ditanggung korban jauh lebih serius dan berjangka panjang—mulai dari tekanan psikologis, stres berat, hingga gangguan kesehatan mental.

Dari sisi hukum, praktik semacam ini juga menyimpan risiko serius. Penyebaran konten yang merendahkan harkat seseorang berpotensi melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), khususnya terkait pencemaran nama baik dan kesusilaan. Namun persoalan ini sejatinya melampaui aspek legal. Ini adalah persoalan etika dan kemanusiaan.

Menjadikan penderitaan orang lain sebagai bahan hiburan publik mencerminkan krisis empati di ruang digital. Ketika likes, views, dan clicks lebih diutamakan daripada rasa kemanusiaan, maka media sosial kehilangan nilai dasarnya sebagai ruang yang sehat dan beradab.

Sebagai generasi muda yang tumbuh dan hidup di era digital, kita sesungguhnya memiliki kendali penuh atas apa yang kita konsumsi dan sebarkan. Pesan yang disampaikan Melania Ida sangat tegas: berhentilah menjadikan luka orang lain sebagai hiburan. Sudah saatnya narasi digital diarahkan pada konten yang edukatif, inspiratif, dan membangun.

Ruang digital yang sehat adalah ruang yang menjunjung tinggi martabat setiap individu tanpa harus mengorbankan siapa pun demi popularitas dan keuntungan semu.

Peliput : Safrinus

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments