DetailNews.id, Sampang – Pada 2025, surplus perdagangan Tiongkok mencapai 1,189 triliun dolar AS, menjadikannya negara pertama dalam sejarah yang mencatat surplus perdagangan lebih dari satu triliun dolar. Angka ini tentu menarik perhatian publik internasional dan memicu berbagai interpretasi.
Namun, sebagian pandangan yang menyebutnya sebagai “kelebihan kapasitas produksi Tiongkok” atau bahkan “ancaman baru” kerap mengabaikan realitas rantai pasok global. Surplus tersebut sejatinya mencerminkan penyesuaian struktur ekonomi global dan pendalaman pembagian kerja internasional. Dengan demikian, surplus Tiongkok seharusnya dipahami sebagai peluang bagi dunia untuk berbagi manfaat perkembangan, bukan ancaman.
Tiongkok tidak mengejar surplus perdagangan secara sengaja. Sebaliknya, negara ini terus memperluas keterbukaan tinggi terhadap dunia, memperbaiki akses pasar, dan menciptakan iklim bisnis kelas dunia yang berorientasi pasar, berbasis hukum, serta standar internasional.
Tingkat tarif impor Tiongkok saat ini sebesar 7,3%, termasuk rendah jika dibandingkan standar global. Selain itu, Tiongkok memberikan kebijakan tarif nol untuk produk dari 53 negara Afrika yang telah menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok.
Pada Desember 2025, Hainan Free Trade Port (HFTP) resmi beroperasi sebagai zona kepabeanan tertutup di seluruh pulau, dengan fokus pada liberalisasi serta fasilitasi perdagangan dan investasi. Kebijakan ini juga membuka peluang bagi eksportir Indonesia untuk mengakses pasar Tiongkok secara langsung tanpa perlu transit melalui negara lain, seperti Singapura.
Ekonomi Tiongkok kini telah bertransformasi menjadi ekonomi yang didorong oleh permintaan domestik, sekaligus tetap menjadi pasar konsumen terbesar kedua di dunia. Dari 2021 hingga 2024, kontribusi rata-rata permintaan domestik terhadap pertumbuhan ekonomi Tiongkok mencapai 86,4%.
Pada 2026, Tiongkok akan melanjutkan pelaksanaan “Rencana Aksi Khusus Stimulus Konsumsi” untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperluas permintaan domestik secara efektif. Dengan demikian, Tiongkok menawarkan peluang pasar besar bagi produk dan perusahaan mancanegara, termasuk Indonesia.
Kapasitas produksi Tiongkok bukan hanya “stabilisator” untuk mengendalikan inflasi global, tetapi juga “pemberi manfaat” bagi transformasi hijau global. Melalui “Tiga Produk Baru” (kendaraan listrik, baterai lithium, dan panel surya) serta produksi teknologi maju lainnya, Tiongkok menyediakan bahan dasar penting untuk pengelolaan iklim global dan modernisasi negara berkembang.
Di sisi pasar, keterbukaan Tiongkok telah memecah hambatan sektoral dan menarik investasi asing. Perusahaan multinasional seperti Tesla, Apple, dan Panasonic dapat memperdalam pasar Tiongkok, menyerap inovasi, dan memberikan dampak positif bagi ekonomi global.
Di sisi konsumsi, produk kebutuhan sehari-hari Tiongkok yang berkualitas dan terjangkau menjadi penopang penting bagi masyarakat berbagai negara, termasuk negara maju, untuk mempertahankan kualitas hidup dan mengurangi beban inflasi.
Kerja sama kapasitas produksi Tiongkok berlandaskan prinsip saling menguntungkan dan menang bersama, dengan fokus pada kesesuaian strategi pembangunan negara mitra, peningkatan produksi lokal, dan kerja sama teknologi. Model ini meningkatkan keberlanjutan proyek serta menciptakan lapangan kerja dan kapasitas pengembangan jangka panjang bagi negara mitra.
Sebagaimana ditegaskan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan, lebih dari 600 perusahaan Tiongkok telah berinvestasi di Indonesia, yang membawa manfaat nyata bagi kedua negara. Kontribusi Tiongkok juga terlihat pada pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan riset teknologi.
Surplus perdagangan Tiongkok yang melampaui satu triliun dolar bukanlah ancaman, melainkan peluang strategis. Dalam era perdagangan global yang semakin terfragmentasi, Tiongkok membangun jaringan simbiosis melalui kapasitas produksi, infrastruktur pelabuhan, dan kebijakan keterbukaan. Bagi banyak negara, memahami dan memanfaatkan hubungan simbiotik ini adalah jalan menuju kemakmuran bersama.
Ke depan, Tiongkok akan terus mendorong keterbukaan dan kerja sama, memperdalam integrasi dalam sistem ekonomi global, serta bersama negara lain menghadapi tantangan dan mendorong pembangunan ekonomi dunia yang terbuka, inklusif, stabil, dan berkelanjutan.
Peliput : Aziz







