Kamis, Februari 5, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaNewsMilad HMI: Rayakanlah dengan Rasa Malu! Sebab di Luar Sekretariatmu, Rakyat Masih...

Milad HMI: Rayakanlah dengan Rasa Malu! Sebab di Luar Sekretariatmu, Rakyat Masih Lapar

Catatan Kritis untuk HMI
Milad HMI: Rayakanlah dengan Rasa Malu! Sebab di Luar Sekretariatmu, Rakyat Masih Lapar

DetailNews.id, SulutGO – Tujuh puluh sembilan tahun bukanlah usia yang singkat bagi sebuah organisasi yang sejak kelahirannya memanggul predikat besar: Harapan Masyarakat Indonesia. Di usia yang hampir satu abad ini, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah melahirkan ribuan kader, menempati berbagai ruang strategis kekuasaan, dan mengukir sejarah panjang dalam perjalanan bangsa.

Namun di tengah gegap gempita perayaan Milad ke-79 pada tahun 2026 ini, ada satu pertanyaan mendasar yang kerap luput dari mimbar-mimbar seremoni: di mana HMI ketika rakyat kehilangan kedaulatan atas piring nasi mereka sendiri?

Pertanyaan ini tidak nyaman. Tetapi justru karena itu, ia penting untuk diajukan.

Perayaan Milad seharusnya tidak semata dirayakan dengan potong tumpeng, pidato heroik, atau simposium di ruang-ruang berpendingin. Pada titik tertentu, organisasi sebesar HMI perlu berhenti sejenak bukan untuk bertepuk tangan, melainkan untuk menundukkan kepala. Sebab, ada jarak yang kian menganga antara jargon perjuangan dan realitas penderitaan rakyat.

Romantisme yang Menidurkan Kesadaran
HMI terlalu sering terjebak dalam romantisme sejarah. Nama Lafran Pane disebut dengan penuh kebanggaan. Peran HMI dalam episode-episode penting bangsa terus diulang sebagai mantra legitimasi. Namun sejarah, betapapun agungnya, tidak pernah cukup untuk mengenyangkan perut yang lapar hari ini.

Tantangan rakyat Indonesia tahun 2026 bukan lagi soal ideologi di atas kertas. Yang mereka hadapi adalah krisis pangan, biaya hidup yang mencekik, pemutusan hubungan kerja, dan penggusuran atas nama pembangunan. Dalam lanskap ini, suara HMI terdengar semakin lirih bahkan nyaris absen.

Ketika ruang-ruang sekretariat sibuk dengan perdebatan konstitusi organisasi demi memenangkan faksi dan kandidat, di luar sana seorang ibu di pasar menghitung recehan sambil menahan tangis karena harga beras tak terjangkau. Seorang buruh kehilangan pekerjaan karena kebijakan yang tak berpihak. Di titik inilah HMI seharusnya hadir, tetapi justru sering memilih menjauh.

Intelektual atau Broker Politik?
Predikat Insan Akademis, Pencipta, dan Pengabdi hari ini terasa seperti slogan yang dipajang di dinding, berdebu, dan jarang disentuh maknanya. Kader-kader HMI lebih fasih menyebut nama pejabat dan elit politik ketimbang memetakan penderitaan rakyat di akar rumput.

HMI kian lihai dalam seni negosiasi kekuasaan, namun gagap dalam advokasi murni. Kita pandai berbicara tentang akses, tetapi lupa pada keberpihakan. Jika Milad ke-79 hanya menjadi ajang pamer kedekatan dengan kekuasaan, maka sejatinya yang sedang dirayakan adalah kemunduran nurani organisasi.

Rakyat tidak membutuhkan HMI yang cemerlang di layar televisi. Rakyat membutuhkan HMI yang hadir di sawah, di gang-gang sempit perkotaan, di barisan depan penolakan kebijakan yang tidak adil.

Menjemput Kembali Khittah
Maka rayakanlah Milad ini dengan rasa malu. Malu pada atribut hijau-hitam yang dikenakan jika ia hanya menjadi tiket menuju zona nyaman. Malu pada Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang didiskusikan berulang kali, tetapi gagal menggerakkan tangan untuk memikul beban mereka yang papa.

Peringatan ke-79 ini seharusnya menjadi momentum untuk pulang-pulang ke basis massa, pulang ke nurani, pulang ke mandat awal sebagai penyambung lidah rakyat. HMI tidak boleh terus menjadi menara gading yang hanya mampu mengamati penderitaan dari kejauhan.

Sebab jika setelah 79 tahun HMI masih sibuk merayakan dirinya sendiri sementara rakyat tetap lapar di luar pintu sekretariat, maka jangan salahkan sejarah jika suatu hari nanti HMI hanya dikenang sebagai organisasi besar yang kehilangan jiwanya sebelum benar-benar mati.

Selamat Milad, Himpunanku ke-79.
Mari berhenti merayakan angka dan mulai merisaukan makna.

Penulis :
Idhar Ishak, Aktifis HMI Cabang Tondano

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments