DetailNews.id, Tarakan — Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Utara (Kaltara) yang baru, Ichi Langlang Buana Machmud, S.Pi., M.Pi., menegaskan komitmennya mendorong ekspor langsung komoditas unggulan Kaltara.
Komitmen tersebut disampaikan Ichi agar nilai tambah ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat lokal, saat bersilaturahmi dengan insan pers di Cafe Malabar, Kota Tarakan, Jumat (6/2/2026).
Ichi menjelaskan, karantina memiliki tiga fungsi utama, yakni perlindungan perbatasan (border protection), perlindungan komoditas dari penyakit dan organisme berbahaya, serta fungsi economic tools sebagai instrumen pendukung perdagangan internasional.
Dalam fungsi ekonomi itu, ia menyoroti masih lebarnya disparitas data antara lalu lintas domestik dan ekspor.
Menurutnya, banyak komoditas asal Kaltara, seperti rumput laut, kepiting, lobster, dan hasil pertanian lain, selama ini diekspor melalui daerah luar seperti Surabaya, Makassar, atau Jakarta, sehingga nilai ekspornya tidak tercatat sebagai milik daerah.
“Barangnya dari sini, tetapi hanya transit di Surabaya untuk ganti kapal. Nilai ekspornya akhirnya tercatat di sana, bukan di Kaltara,” ujar Ichi yang baru satu minggu bertugas sejak resmi dilantik pada 15 Januari 2026.
Ia menilai, jika ekspor langsung dapat dibuka dari Kaltara, dampak ekonominya akan signifikan bagi nelayan dan petani. Ichi mencontohkan pengalamannya saat bertugas di Banjarmasin, ketika ekspor kepiting ke China berhasil dibuka secara langsung.
“Harga kepiting di tingkat nelayan yang awalnya Rp35.000-Rp45.000 per kilogram, bisa naik di atas Rp100.000. Bahkan pada musim tertentu tembus Rp300.000. Itu dampak nyata dari ekspor langsung,” jelasnya.
Untuk mendukung hal tersebut, Karantina Kaltara kini memperkuat kolaborasi dengan Pelindo, Bandara Internasional Juwata, serta maskapai penerbangan. Selain itu, pemanfaatan sistem Single Submission Ekspor (SSM Ekspor) terus didorong agar proses perizinan lebih sederhana dan data ekspor tercatat di Kaltara.
“Saat ini sekitar 87 persen pelaku usaha sudah menggunakan SSM Ekspor. Target kami hingga akhir tahun bisa mencapai di atas 95 persen, sehingga nilai ekspor benar-benar tercatat sebagai milik daerah,” kata Ichi.
Ia menegaskan, upaya tersebut bukan untuk menutup mata terhadap praktik ilegal, melainkan membuka akses agar pelaku usaha dapat beralih ke jalur legal dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian daerah.
Di akhir pertemuan, Ichi menegaskan keterbukaan institusinya terhadap pengawasan publik. Ia mempersilakan insan pers menjalankan fungsi kontrol sosial dan menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan berimbang.
Ichi juga menyampaikan apresiasi terhadap peran media sebagai mitra strategis pemerintah. Menurutnya, jurnalis memiliki jangkauan langsung ke masyarakat yang tidak selalu dapat dijangkau melalui kanal resmi pemerintah.
“Sebagus apa pun kami bekerja dan sebaik apa pun informasi kami sampaikan melalui kanal internal, tanpa bantuan media, pesan itu tidak akan tersampaikan secara utuh ke masyarakat. Karena itu, wartawan kami pandang sebagai mitra strategis,” ujarnya.
Lanjutnya, media memiliki peran penting dalam mengawasi kinerja pemerintah. Oleh sebab itu, Karantina Kaltara membuka ruang komunikasi seluas-luasnya bagi insan pers, baik untuk konfirmasi maupun klarifikasi.
“Kami ini digaji dari uang rakyat, jadi wajar jika diawasi. Kalau ada hal yang perlu diklarifikasi, pintu kami terbuka. Kita diskusi,” pungkas Ichi.
Peliput: Raden






