DetailNews.id, Manggarai – Realitas geografis bukan sekadar bentang alam, melainkan takdir yang menuntut kesadaran politik dan kesiapan teknis. Hal ini disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai, Stefanus Tawar, dalam wawancara eksklusif bersama DetailNews.id, Senin (9/2/2026), di ruang kerjanya.
Kabupaten Manggarai, yang berada di Pulau Flores, memiliki karakteristik geografis yang kompleks dan penuh tantangan. Wilayah ini didominasi pegunungan dengan lereng curam, curah hujan tinggi, serta dilintasi Sesar Flores yang aktif secara geologis. Kondisi tersebut menjadikan Manggarai sebagai daerah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana banjir, longsor, dan gempa bumi.
“Geografi adalah realitas yang tidak bisa dihindari. Tantangannya bukan bagaimana melawan alam, tetapi bagaimana merancang kehidupan, pembangunan, dan kebijakan yang selaras dengan karakter alam itu sendiri,” ungkap Stefanus Tawar.
Stefanus menegaskan bahwa penanggulangan bencana di Manggarai tidak dapat dipahami secara sempit sebagai persoalan infrastruktur. Bencana adalah fenomena multidimensi yang menyentuh setidaknya empat aspek utama kehidupan masyarakat.
Pada dimensi fisik, kerusakan jalan, jembatan, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, permukiman, dan lahan pertanian menjadi dampak yang paling kasatmata. Namun di balik kerusakan tersebut, muncul pertanyaan mendasar tentang pola pembangunan yang sering kali belum sepenuhnya mempertimbangkan karakteristik alam setempat.
Dari sisi sosial, bencana menghadirkan korban jiwa, pengungsian, gangguan kesehatan, trauma psikologis, hingga rusaknya jejaring sosial masyarakat. Menurut Stefanus, banyak warga tinggal di daerah rawan bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena keterbatasan pilihan ekonomi dan sosial.
Sementara itu, secara ekonomi, ketergantungan masyarakat pada sektor pertanian yang rentan terhadap perubahan iklim dan bencana alam membuat perekonomian daerah menjadi rapuh. “Masalahnya bukan pada sektor pertaniannya, tetapi pada belum terbangunnya sistem ekonomi yang beragam dan tangguh,” jelasnya.
Dimensi budaya juga tak luput dari ancaman. Situs-situs budaya dan rumah adat seperti Mbaru Gendang berada dalam risiko bencana. Kerusakan terhadap warisan budaya, kata Stefanus, bukan hanya kehilangan fisik, tetapi juga ancaman terhadap identitas dan kekuatan kolektif masyarakat.
Dalam menghadapi kompleksitas tersebut, BPBD Manggarai mulai menggeser pendekatan penanggulangan bencana dari reaktif menjadi preventif. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah mengadopsi model risiko bencana terstandarisasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui platform InaRISK.
Model ini mengintegrasikan empat komponen utama: bahaya, kerentanan, kapasitas, dan risiko. Analisis dilakukan berbasis data ilmiah, termasuk pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) serta data partisipatif dari masyarakat desa.
“Keberhasilan penanggulangan bencana tidak mungkin dicapai tanpa keterlibatan aktif masyarakat. Data dan teknologi penting, tetapi partisipasi warga adalah kunci,” ujar Stefanus.
Pemanfaatan model risiko ini telah digunakan dalam penetapan zona rawan bencana, penyusunan rencana kontinjensi, pengalokasian sumber daya, serta penentuan prioritas program pembangunan. Pendekatan ini menjadi bukti bahwa perencanaan berbasis risiko bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata yang berorientasi pada keselamatan dan keberlanjutan.
Pengalaman Manggarai memberikan pelajaran penting bahwa penanggulangan bencana bukan hanya tanggung jawab BPBD atau pemerintah daerah semata, melainkan agenda kebangsaan yang melibatkan seluruh elemen negara.
Realitas geografis dan geologis Indonesia adalah bagian dari identitas bangsa. Dengan strategi yang tepat, risiko bencana bukan untuk ditakuti, melainkan dikelola secara bermartabat dan berkeadilan.
Pertanyaan mendasarnya kini bukan lagi apakah bencana akan terjadi, melainkan apakah kita siap mengubah paradigma: dari reaktif menjadi preventif, dari sektoral menjadi menyeluruh, dan dari sekadar program menjadi budaya sadar bencana.
Pertanyaan inilah yang patut dijawab bersama oleh para pemimpin dan seluruh masyarakat Indonesia.
Peliput : Safrinus





