Selasa, Februari 10, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaBulunganJejak Sejarah Dua Makam Keramat di Bulungan: Said Adnan bin Alwi Al...

Jejak Sejarah Dua Makam Keramat di Bulungan: Said Adnan bin Alwi Al Idrus dan Datu Aji Kuning

Oleh: Joko Supriyadi, ST., MT

DetailNews.id, Bulungan — Di pesisir Pantai Pindada, sekitar empat kilometer dari muara Sungai Pindada, Bulungan, Kalimantan Utara, terdapat sebuah makam tua yang hingga kini terus diziarahi. Makam itu adalah peristirahatan terakhir Said Adnan bin Alwi Al Idrus, seorang pemuka agama berpengaruh yang wafat pada awal abad ke-20.

Di sekitar makam tersebut, pada masa lalu pernah berdiri sebuah perkampungan yang kini telah hilang ditelan waktu. Berdasarkan peta Belanda tahun 1936, kawasan itu tercatat dengan nama Kampung Batoe Makota.

Nama kampung ini tersimpan dalam dokumen kolonial Memorie van Overgave van het Bestuur der Onderafdeling Tarakan yang ditulis H. Hahmann, seorang Gezaghebber bij het Binnenlandsch Bestuur (B.B.), pejabat pemerintahan Hindia Belanda setingkat kepala wilayah.

Keberadaan Said Adnan tidak dapat dilepaskan dari tokoh besar lainnya di pesisir utara Kalimantan, yakni Datu Aji Kuning atau Haji Sultan Syarafudin, seorang bangsawan Gunung Tabur yang dikenal menentang dominasi Belanda. Di Kampung Tanah Kuning, tidak jauh dari Pindada, terdapat makam Datu Aji Kuning beserta putranya, Datu Mahkota. Nama Tanah Kuning diyakini berasal dari nama Sultan tersebut, sementara Batoe Makota diambil dari nama sang putra.

Para sejarawan lokal menduga Said Adnan merupakan pemuka agama yang membimbing masyarakat di kedua kampung itu. Hubungan eratnya dengan Datu Aji Kuning menjadikan Said Adnan bukan hanya tokoh spiritual, tetapi juga bagian dari dinamika sosial-politik kawasan pesisir Bulungan pada masa kolonial.

Sultan yang Tak Direstui Belanda

Datu Aji Kuning tercatat dalam berbagai arsip Belanda sebagai figur yang sulit dikendalikan. Setelah wafatnya Sultan Hasanuddin, Aji Kuning diangkat sebagai wali atau pemangku Sultan pada 1 Juni 1883 karena putra mahkota masih belum cukup umur. Namun, status ini memicu konflik.

Arsip sejarah.

Pada 1884, Belanda mencabut kewenangan Aji Kuning dan menunjuk tiga bangsawan Gunung Tabur sebagai wali. Penolakan Aji Kuning berujung pada penangkapan dan pembuangannya ke Banjarmasin. Meski sempat ditahan, dukungan kuat dari masyarakat dan elite istana membuat Belanda akhirnya membebaskannya.

Melalui kebijakan dwifungsi kepemimpinan, Belanda kemudian mengangkat Aji Kuning sebagai Wakil Sultan pada 21 Juni 1885 dengan gelar Muhammad Syarifudin, sebagaimana tercatat dalam Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indië tahun 1886. Namun hubungan Aji Kuning dengan pemerintah kolonial tetap tegang hingga ia turun takhta pada 1892.

Hijrah ke Bulungan dan Warisan Sejarah

Dokumen Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap tahun 1907 mencatat Aji Kuning telah bermukim di Pendada, Bulungan, kini wilayah Mangkupadi. Di sana, ia berdagang dan berinteraksi dengan masyarakat pedalaman. Menurut kisah populer, Aji Kuning menikahi putri Sultan Bulungan, Sultan Kaharudin II, yang semakin menguatkan posisinya sebagai tokoh penting di wilayah ini.

Datu Aji Kuning wafat pada 13 Agustus 1917 dan dimakamkan di Tanah Kuning, berdampingan dengan istrinya dan Datu Mahkota. Sementara Said Adnan bin Alwi Al Idrus wafat beberapa tahun kemudian dan dimakamkan di Kampung Batoe Makota, Pantai Pindada.

Hingga kini, kedua makam tersebut dianggap keramat dan menjadi tujuan ziarah. Pada 2021, kompleks makam Datu Aji Kuning resmi masuk dalam daftar Situs Wisata Religi dalam Perda RTRW Kabupaten Bulungan, sejalan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Lebih dari sekadar tempat peristirahatan, makam Said Adnan dan Datu Aji Kuning menjadi penanda ingatan kolektif masyarakat Bulungan, tentang spiritualitas, perlawanan, dan jejak sejarah yang membentuk identitas kawasan pesisir Kalimantan Utara.

Peliput: Raden

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments