Rabu, Maret 25, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaKaltaraDari Sopir Angkot ke Ketua DPRD, Perjalanan Babe yang Mengajarkan Arti Keteguhan

Dari Sopir Angkot ke Ketua DPRD, Perjalanan Babe yang Mengajarkan Arti Keteguhan

DetailNews.id, Tarakan – Perjalanan hidup Muhammad Yunus, SH., atau yang akrab disapa Babe jauh dari kata instan. Sebelum duduk di kursi Ketua DPRD Tarakan, ia pernah menjalani kerasnya hidup sebagai sopir angkutan kota.

Babe lahir di Bantimurung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada 12 Februari 1972. Anak dari seorang prajurit TNI ini tumbuh dalam kehidupan sederhana dan berpindah-pindah mengikuti tugas sang ayah.

Masa kecilnya dihabiskan di kampung halaman hingga menamatkan SMP. Keterbatasan ekonomi dan akses pendidikan membuatnya harus mengambil keputusan besar: merantau ke Tarakan mengikuti sang kakak.

“Karena kondisi ekonomi dan sekolah yang jauh, saya ikut kakak ke Tarakan,” kenangnya.

Di Tarakan, kehidupan tak langsung mudah. Ia harus bekerja sambil sekolah, membantu di toko bangunan hingga akhirnya menjadi sopir angkot yang melayani rute pelabuhan. Dari situlah ia mengenal banyak orang dan membangun jejaring sosial yang luas.

“Namanya sopir, saya berteman dengan siapa saja. Dari situ mungkin modal sosial saya terbentuk,” ujar Babe yang juga menjabat sebagai Ketua Partai Gerindra Tarakan.

Tak berhenti di situ, Babe juga sempat menjadi Ketua Koperasi Tarakan Rental. Namun, jalan hidupnya berubah ketika ia diajak bergabung ke dunia politik saat awal berdirinya Partai Gerindra sekitar 2008–2009. Awalnya, ia bahkan tak percaya bisa menjadi calon legislatif. Dengan latar belakang sebagai sopir angkot, ia mengaku nekat maju tanpa bekal besar.

“Saya pikir jadi caleg itu harus punya uang. Tapi waktu itu diminta KTP saja, saya didaftarkan,” katanya.

Perjuangannya pun tidak mulus. Pada Pemilu 2009, ia sempat dinyatakan menang, namun kalah setelah sengketa dan penghitungan ulang, bahkan hanya selisih satu suara. Kegagalan itu terulang pada 2014. Namun, Babe tak menyerah. Ia tetap bertahan di partai yang sama dan di daerah pemilihan yang sama.

“Dua kali gagal, tapi saya coba lagi,” ucapnya.

Kerja keras itu akhirnya terbayar pada Pemilu 2019. Ia berhasil terpilih sebagai anggota DPRD Tarakan dan terus menanjak hingga dipercaya menjadi pimpinan dewan. Kesederhanaannya pun tak berubah. Meski kini menjabat Ketua DPRD, Babe mengaku tetap menjalani hidup apa adanya, bahkan kerap bepergian tanpa protokoler ketat.

“Saya kadang lupa kalau punya jabatan. Biasa saja, tidak mau berubah,” katanya sambil tersenyum.

Di balik kesuksesannya, Babe menyebut sosok kakaknya, Haji Hamzah, sebagai orang paling berjasa dalam hidupnya. Selain itu, ia juga mengakui peran mentornya di politik Ibnu Saud yang membimbing langkahnya hingga saat ini.

Kini, setelah mencapai posisi strategis di legislatif, Babe mengaku masih ingin fokus menjalankan amanah. Meski wacana maju ke eksekutif sempat muncul, ia memilih mengikuti arahan partai dan mentor politiknya.

Perjalanan Babe menjadi bukti bahwa latar belakang bukan penghalang untuk meraih posisi penting. Dari balik kemudi angkot hingga kursi pimpinan DPRD, ia menapaki semuanya dengan kerja keras, kegigihan, dan kesederhanaan.

Peliput: Raden

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments