DetailNews.id, Bitung – Ketua Umum BPP Ormas Adat Makatana Minahasa, Alvis Metrico Sumilat, angkat bicara terkait kembali mencuatnya pemberitaan lama yang menyeret nama Komandan Satrol Bitung, Kolonel Laut (P) Marvill Marfel Fritz E.D., S.E., M.Tr.Hanla., CRMP., yang saat ini juga telah dikukuhkan sebagai Tonaas Tonsea Waraney UN Tasik oleh Majelis Adat Budaya Tonsea.
Menurut Alvis, pengangkatan kembali isu yang sebelumnya telah melalui proses klarifikasi dan jalur mekanisme resmi perlu disikapi secara bijaksana agar tidak memunculkan kegaduhan baru di tengah masyarakat.
“Sebagai bagian dari elemen masyarakat adat, kami memandang bahwa setiap persoalan yang sudah berjalan melalui mekanisme yang berlaku harus dihormati bersama. Jangan sampai ruang publik dipenuhi narasi yang justru berpotensi memecah kebersamaan,” kata Alvis Metrico Sumilat, Jumat (22/5/2026).
Ia menegaskan bahwa Kota Bitung selama ini dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi keberagaman, toleransi, serta semangat hidup berdampingan antar suku, agama, dan golongan.
Karena itu, menurut Alvis, setiap informasi yang berkembang di ruang publik harus dibangun di atas prinsip profesionalisme, verifikasi, dan tanggung jawab moral.
“Kami menghormati kebebasan pers sebagai bagian penting demokrasi. Tetapi profesionalisme, verifikasi informasi, keberimbangan, serta etika dalam menyampaikan informasi kepada publik juga merupakan prinsip yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
Alvis menilai isu berkaitan dengan suku, agama, ras, dan antargolongan merupakan persoalan sensitif yang membutuhkan kehati-hatian semua pihak.
“Isu SARA bukan persoalan sederhana. Dampaknya bisa luas. Karena itu semua pihak harus bijak, objektif, dan tidak membangun opini yang berpotensi memperkeruh situasi sosial di tengah masyarakat,” tegasnya.
Sebagai Ketua Umum BPP Ormas Adat Makatana Minahasa, Alvis juga mengingatkan pentingnya menjaga ruang demokrasi yang sehat tanpa mengabaikan nilai persatuan.
“Kritik adalah bagian dari demokrasi. Tetapi demokrasi yang sehat juga harus dibangun di atas data, fakta, verifikasi, dan tanggung jawab moral kepada masyarakat,” katanya.
Ia turut menyoroti posisi Marvill sebagai sosok yang telah menerima pengukuhan adat sebagai Tonaas Tonsea Waraney UN Tasik.
Menurutnya, pengukuhan adat bukan sekadar simbol kehormatan, tetapi juga amanah sosial yang melekat dalam menjaga nilai persatuan, kebersamaan, dan keharmonisan di tengah masyarakat.
“Ketika seseorang sudah diberi amanah adat, maka yang harus dijaga bukan hanya nama pribadi, tetapi juga nilai persatuan yang menjadi roh budaya kita bersama,” ujar Alvis.
Di akhir keterangannya, Alvis Metrico Sumilat mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kondusivitas Kota Bitung.
“Mari kita jaga Bitung sebagai rumah bersama yang penuh keberagaman. Jangan biarkan perbedaan pandangan berkembang menjadi perpecahan. Persatuan harus tetap menjadi fondasi utama kehidupan bermasyarakat,” pungkasnya.
Peliput : Ical





