DetailNews.id, Bitung – Komitmen menghadirkan pertanian modern dan produktif di Kota Bitung kembali dibuktikan oleh penggagas Program Petani Sehat sekaligus Owner Girian Jaya Farm, Wolter Lomo, melalui keberhasilan panen sekitar 20 ton jagung hibrida di lahan seluas tiga hektare di Kelurahan Tanjung Merah, Kecamatan Matuari, Selasa (9/6/2026).
Panen tersebut merupakan hasil kolaborasi Kelompok Tani Sehati, Monobox, dan Girian Jaya Farm yang selama beberapa bulan terakhir menerapkan teknologi budidaya modern berbasis benih unggul dan pemanfaatan prebiotik untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Keberhasilan itu mendapat apresiasi langsung dari Wali Kota Bitung Hengky Honandar yang hadir bersama unsur Forkopimda, jajaran pemerintah daerah, penyuluh pertanian, serta para petani.
Menurut Wolter Lomo, hasil panen yang dicapai menjadi bukti bahwa sektor pertanian di Kota Bitung memiliki potensi besar untuk berkembang apabila didukung teknologi yang tepat dan pendampingan berkelanjutan kepada petani.
”Hari ini kita melihat sendiri bahwa lahan pertanian di Bitung mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi. Kuncinya ada pada kemauan berinovasi, penggunaan benih unggul, dan pendampingan yang konsisten kepada petani,” ujar Wolter.
Ia menjelaskan, dari total hasil panen sekitar 20 ton, sebanyak 8 ton akan dipersiapkan sebagai bibit unggul untuk mendukung musim tanam berikutnya sehingga manfaat program dapat terus berlanjut.
”Sebagian hasil panen ini kami siapkan menjadi bibit unggul untuk musim tanam berikutnya. Tujuannya agar petani memiliki akses terhadap benih berkualitas dan tidak selalu bergantung pada pasokan dari luar daerah,” katanya.
Wolter mengatakan, benih jagung hibrida Girian Jaya 817 yang dikembangkan bersama teknologi prebiotik terbukti mampu meningkatkan produktivitas tanaman secara signifikan dibanding pola tanam konvensional.
”Teknologi prebiotik yang kami gunakan membantu memperbaiki kualitas tanah, meningkatkan aktivitas mikroorganisme, dan membuat unsur hara lebih mudah diserap tanaman. Dampaknya terlihat langsung pada pertumbuhan dan hasil panen,” jelasnya.
Menurutnya, produktivitas jagung di Kota Bitung masih bisa ditingkatkan jauh di atas rata-rata saat ini yang berkisar antara 3 hingga 4 ton per hektare.
”Kami menargetkan produktivitas minimal 8 ton per hektare. Kalau teknologi ini diterapkan secara luas, saya yakin petani Bitung bisa menggandakan hasil panennya dan memperoleh keuntungan yang lebih besar,” ungkap Wolter.
Selain penggunaan benih unggul, program yang digagasnya juga menerapkan bahan penyubur tanah yang mampu menekan penggunaan pupuk hingga 50 persen serta nutrisi anti-stres untuk menjaga kesehatan tanaman.
Wolter menegaskan bahwa tujuan utama program tersebut bukan hanya meningkatkan produksi jagung, tetapi juga menciptakan petani yang mandiri dan sejahtera.
”Kami tidak sekadar mengejar hasil panen. Yang lebih penting adalah bagaimana petani bisa mengurangi biaya produksi, meningkatkan pendapatan, dan memiliki pengetahuan untuk mengelola pertanian secara modern,” tegasnya.
Ke depan, Girian Jaya Farm bersama para mitra akan terus melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada kelompok-kelompok tani di berbagai kecamatan di Kota Bitung.
”Saya ingin semakin banyak petani muda tertarik terjun ke sektor pertanian. Pertanian hari ini bukan lagi pekerjaan tradisional, tetapi sudah menjadi sektor usaha yang menjanjikan jika dikelola dengan ilmu pengetahuan dan teknologi,” tambah Wolter.
Panen jagung di Tanjung Merah sekaligus menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah, petani, akademisi, dan pelaku usaha dalam mendukung program swasembada pangan serta mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan berkelanjutan di Kota Bitung.
Peliput : ical






