Sabtu, Juni 20, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaBoltaraAksara Rayo Resmi Dicatat Negara, Harapan Baru Pelestarian Bahasa Bintauna

Aksara Rayo Resmi Dicatat Negara, Harapan Baru Pelestarian Bahasa Bintauna

DetailNews.id, Boltara – Bahasa Bintauna kini memiliki sistem tulisan sendiri. Melalui penelitian selama beberapa tahun, Wahyu Ha Ponongoa berhasil mengembangkan Aksara Rayo sebagai upaya mempertahankan bunyi asli dan identitas bahasa daerah tersebut.

Melalui penelitian yang dimulai sejak 2021, Wahyu berupaya menghadirkan sistem tulis yang mampu merekam dan mempertahankan fonetik bahasa Bintauna secara tepat. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam wawancara dengan awak media Kamis (18/6/2026), Wahyu yang merupakan pemuda Bintauna sekaligus penggerak Teras Inomasa menjelaskan bahwa gagasan Aksara Rayo berangkat dari kegelisahannya melihat pergeseran cara pengucapan bahasa daerah dari generasi ke generasi.

“Aksara Rayo saya rancang sebagai sistem tulis yang mampu mengikat bunyi asli bahasa Bintauna. Harapannya, generasi mendatang tetap dapat membaca dan mengucapkan bahasa Bintauna sebagaimana diwariskan oleh para leluhur,” ujarnya.

Menurut Wahyu, Aksara Rayo merupakan sistem tulisan yang lengkap dengan 24 konsonan dasar, tanda diakritik, aksara turunan, hingga sistem penulisan angka.

Berdasarkan karakteristiknya, Aksara Rayo termasuk dalam jenis aksara abugida, yaitu sistem penulisan yang setiap konsonannya memiliki vokal inheren dan dapat diubah menggunakan tanda diakritik.

Sebelum merancang Aksara Rayo, Wahyu terlebih dahulu mempelajari berbagai sistem aksara yang berkembang di Indonesia. Kajian tersebut dilakukan agar sistem tulisan yang dibuat memiliki dasar ilmiah dan mampu menjawab kebutuhan bahasa Bintauna.

Nama Rayo diambil dari bahasa Bintauna yang berarti daun puring. Penamaan tersebut terinspirasi dari ungkapan kuno masyarakat Bintauna, “Ino Sumbolla no Rayo”, yang bermakna “tempat hidupnya puring”.

Bagi Wahyu, filosofi tersebut menggambarkan identitas budaya yang menjadi dasar lahirnya Aksara Rayo.

“Hampir semua yang saya bangun dalam Aksara Rayo berangkat dari hasil penelitian terhadap bahasa Bintauna dan warisan budaya masyarakat. Karena itu, nama Rayo saya pilih sebagai identitas yang memiliki akar sejarah dan makna budaya,” katanya.

Perjuangan tersebut kemudian mendapat pengakuan negara. Aksara Rayo resmi tercatat sebagai karya seni rupa melalui Surat Pencatatan Ciptaan yang diterbitkan Kementerian Hukum Republik Indonesia pada 7 Juni 2026 dengan Nomor Pencatatan 001269466.

Meski telah mendapatkan pencatatan hak cipta, Wahyu menegaskan bahwa tujuan utama pengembangan Aksara Rayo bukan sekadar pengakuan administratif, melainkan agar aksara tersebut dapat digunakan dan diwariskan.

Ia berharap Aksara Rayo ke depan dapat masuk dalam pembelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah.

“Insyaallah, ke depan saya akan terus mengupayakan agar Aksara Rayo dapat masuk dalam kurikulum muatan lokal. Dengan begitu, anak-anak Bintauna tidak hanya mengenal bahasanya, tetapi juga memiliki sistem tulis sendiri sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya daerah,” tuturnya.

Wahyu berharap Aksara Rayo dapat menjadi warisan budaya yang hidup, dipelajari, dan digunakan oleh generasi mendatang sebagai salah satu upaya menjaga keberlangsungan bahasa Bintauna.

Peliput : Kifli

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments