DetailNews.id, Tana Tidung – Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) telah merehabilitasi sekitar 10.900 hektare kawasan mangrove di Kalimantan Utara (Kaltara). Capaian tersebut mendekati 78 persen dari target 14.000 hektare hingga 2027. Untuk mempercepat pencapaian target, M4CR menyiapkan tambahan rehabilitasi seluas 1.170 hektare.
PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara Tahun 2026, Akhmad Ashar Sarif, mengatakan pelaksanaan rehabilitasi mangrove terus berjalan sesuai tahapan program. Saat ini, tim juga tengah menyusun rencana kerja untuk mendukung kegiatan penanaman lanjutan.
“Dari target sekitar 14.000 hektare untuk periode 2024 sampai 2027, saat ini realisasinya sudah mencapai sekitar 10.900 hektare,” ujar Akhmad usai menjadi narasumber dalam Media Gathering M4CR Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2026, Senin (2/11/2026).
Dia menjelaskan, untuk tahap berikutnya M4CR telah menyiapkan rencana penanaman seluas 800 hektare. Selain itu, terdapat dukungan tambahan sekitar 370 hektare yang juga sedang direncanakan.
Dengan demikian, total tambahan luasan rehabilitasi yang disiapkan mencapai sekitar 1.170 hektare.
“Ke depan masih ada penyusunan rencana kerja. Saat ini sudah disiapkan sekitar 800 hektare dan rencananya akan mendapat dukungan tambahan 370 hektare. Jadi totalnya sekitar 1.100 hektare lebih,” jelasnya.
Akhmad menyebut, penambahan luasan tersebut menjadi bagian dari upaya M4CR untuk memenuhi target rehabilitasi mangrove hingga 2027. Berdasarkan target 14.000 hektare dan realisasi saat ini, masih terdapat sekitar 3.100 hektare yang perlu direhabilitasi.
Selain kegiatan rehabilitasi, M4CR juga mendorong penerapan sistem silvofishery atau wanamina. Konsep ini mengintegrasikan kegiatan budidaya perikanan dengan upaya mempertahankan fungsi ekologis kawasan mangrove.
Namun, Akhmad mengatakan dampak penerapan silvofishery terhadap lingkungan maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat masih membutuhkan kajian lebih lanjut.
Menurutnya, informasi mengenai hasil penerapan sistem tersebut sejauh ini masih banyak bersumber dari pengalaman kelompok masyarakat di daerah. Karena itu, diperlukan penelitian untuk memastikan manfaatnya secara lebih terukur.
“Untuk silvofishery, memang masih perlu dilakukan riset lebih lanjut untuk melihat hasil nyatanya. Saat ini informasi mengenai dampaknya masih berdasarkan pengalaman kelompok-kelompok di daerah. Jadi, hal itu perlu dikonfirmasi lagi melalui penelitian,” katanya.
Dia menambahkan, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui sejauh mana penerapan silvofishery memberikan manfaat, baik terhadap kelestarian lingkungan maupun peningkatan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
“Kami ingin melihat hasil nyatanya, baik dari aspek lingkungan maupun sosial ekonomi masyarakat, sehingga penerapannya bisa dinilai berdasarkan kajian yang lebih jelas,” tegasnya.
Peliput: Raden




