FDetailNews.id, Bitung — Insiden yang terjadi di Kompleks Sari Kelapa, Lingkungan III, RT 12 RW 03, Kota Bitung, Sulawesi Utara, pada Minggu (25/1/2026) sekitar ba’da Ashar, menjadi sorotan publik setelah melibatkan seorang warga dan anggota Brigade Mobil (Brimob) Polda Sulawesi Utara. Selasa (27/1/2026)
Peristiwa tersebut terjadi di kawasan Kompleks Sari Kelapa, yang disebut berjarak dari lokasi rumah duka. Anggota Brimob berinisial KS, berpangkat Bhayangkara Satu (Bharatu) dan bertugas di Kalasey, memberikan klarifikasi terkait tudingan dugaan kekerasan fisik dan verbal terhadap tokoh masyarakat setempat, Rinto Pakaya alias Haji Tito.
KS membantah keras tuduhan telah melakukan pemukulan maupun tindakan pendorongan. Ia menegaskan kehadirannya di lokasi tidak lain untuk meredam situasi agar tidak berkembang menjadi keributan yang lebih luas.
Menurut keterangan KS, ia mendatangi lokasi setelah menerima informasi bahwa pamannya diduga menjadi korban penganiayaan oleh seorang pria berinisial RA. KS menegaskan tidak memiliki niat melakukan tindakan kekerasan terhadap siapa pun.
Namun demikian, situasi di lapangan disebut mulai memanas setelah KS mengaku menerima makian dari sejumlah pihak. Ia menyebut mendapat kata-kata bernada penghinaan yang dinilainya merendahkan martabat pribadi, termasuk sebutan “teroris” dan “testa itam”.
Selain itu, KS juga mengungkapkan dirinya merasa dilecehkan secara verbal terkait pakaian yang dikenakannya. Busana gamis yang dipakai, menurutnya, dijadikan bahan ejekan oleh pihak tertentu.
“Saya dimaki, dan pakaian yang saya kenakan juga diejek. Ada ucapan seperti, ‘Eh buka ngana pe gamis kong mari bakalae pemmai,’” ujar KS menirukan ucapan yang diterimanya di lokasi kejadian.
KS menambahkan, situasi tersebut membuatnya merasa terancam, terlebih setelah ada seseorang berinisial P yang menurutnya berupaya memancing terjadinya bentrokan fisik.
“Biking apa mo pukul pa ng blum kita pukul ng so ba lapor apa lagi so pukul,” ungkap KS dalam dialek Manado.
Ia juga menyebut sempat dikerumuni oleh sejumlah orang yang disebutnya berasal dari kelompok Haji Tito, sehingga tekanan psikologis yang dirasakannya semakin meningkat.
“Terkait tuduhan adanya pemukulan atau dorongan, itu tidak benar. Saya merasa terancam karena sudah dikerumuni, dan saya hanya berusaha melindungi diri,” tegas KS.
Peliput : ical







