Sabtu, Februari 21, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaNasionalBenchmarking: Catatan Syukur, Pariwisata dan Ketimpangan Infrastruktur

Benchmarking: Catatan Syukur, Pariwisata dan Ketimpangan Infrastruktur

Oleh: Ir. Vickner Sinaga, MM., Bupati Kabupaten Dairi 2025–2030, BOD PLN 2009–2014, Penerima Satyalancana Pembangunan Presiden RI (2012)

DetailNews.id, Sidikalang — Kabupaten Dairi bukan sekadar tujuan kunjungan. Ia adalah ruang permenungan. Tentang makna kepemimpinan, tentang kekayaan daerah yang kerap terpinggirkan, dan tentang ketimpangan pembangunan yang masih nyata terasa di Sumatera Utara.

Ucapan terima kasih yang tulus patut disampaikan kepada Dahlan Iskan atas kunjungan dua hari yang sarat makna di Dairi. Apresiasi yang sama kami sampaikan kepada Nafsiah, pendamping setia, putri Borneo tangguh, yang tetap hadir dengan semangat luar biasa, meski baru beberapa hari menjalani operasi lutut.

Bahkan kursi roda yang menyertai perjalanan itu seakan menjadi saksi bisu keagungan Taman Wisata Iman, karya visioner Bupati Dairi terdahulu, almarhum Silih MP Tumanggor. Sosok pemimpin rendah hati yang membuktikan bahwa keberanian berpikir besar mampu melahirkan dampak lintas generasi.

Taman Wisata Iman bukan sekadar destinasi rohani, melainkan monumen keyakinan bahwa daerah mampu melahirkan karya berkelas nasional ketika visi bertemu dengan keberanian.

Penghargaan juga patut diberikan kepada Eddy Keleng Berutu, Bupati Dairi periode sebelumnya, bersama Ketua TP PKK Kabupaten Dairi, yang konsisten membina para penenun di Silalahi. Tenun khas Dairi kini tak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga sumber kebanggaan. Bahkan Nafsiah, akrab disapa Ibu Dis, tak ragu memborong hasil karya lokal tersebut. Sebuah pengakuan sederhana, namun bermakna besar bagi ekonomi rakyat.

Kehangatan Dairi tergambar dalam senam bersama, perayaan Natal lintas denominasi di pelataran Gereja Katolik Sidikalang, jamuan khas di Pondok Santai Kalang Simbara, hingga pesta durian dengan ragam rasa. Semua itu menampilkan wajah Dairi yang inklusif, ramah, dan kaya jati diri.

Kekaguman berlanjut pada karya monumental Anggi Sudung Situmorang bersama arsitek Daulat Situmorang, serta kemegahan Patung Yesus di Sibeabea, Samosir.

Bahkan Dahlan Iskan menyebutnya lebih impresif dibandingkan patung serupa di Rio de Janeiro, Brasil. Sebuah pengakuan yang menegaskan bahwa Sumatera Utara memiliki potensi karya kelas dunia.

Dua malam diskusi di pendopo rumah dinas melahirkan perbincangan mendalam, tentang pariwisata berbasis aset lokal, hingga persoalan mendasar infrastruktur Sumatera Utara yang tak kunjung tuntas.

Salah satu isu paling krusial adalah Jalan Nasional Medan–Sidikalang. Hingga pergantian tahun, dua titik longsor di Lae Pondom dan satu di Lae Pandaro belum tertangani secara menyeluruh. Kecelakaan dan kemacetan berulang menjadi keseharian pahit masyarakat.

Upaya telah dilakukan, kami mendatangi Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) di Medan dan memperoleh janji percepatan kinerja kontraktor. Namun realitas alokasi tahun 2026 tetap mencengangkan, Dairi hanya memperoleh pelebaran jalan sepanjang 400 meter, dari kebutuhan riil sekitar 18 kilometer.

Usulan penanaman pohon di jalur rawan longsor sepanjang tujuh kilometer menuju Sumbul masih menunggu kajian. Yang disetujui baru sebatas pengerjaan beram di ruas Letter S–Jembatan Lae Renun. Sebuah langkah kecil, di tengah kebutuhan yang jauh lebih besar.

Diskusi kemudian mengarah pada kemacetan Medan–Berastagi. Jalan peninggalan kolonial itu jelas tak lagi memadai. Jalan alternatif bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Gagasan tol Medan–Berastagi kembali mengemuka, panjangnya sekitar 60 kilometer, dengan waktu tempuh hanya 30 menit jika terwujud.

Bandingkan dengan kondisi saat ini, dua hingga tiga jam perjalanan, itu pun jika tidak ada longsor atau truk patah as di tengah jalan.

Menariknya, biaya pembangunannya disebut hanya sekitar setengah dari proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung. Secara ekonomi layak, menarik bagi swasta, dan memiliki break even point yang relatif singkat.

Dalam diskusi bersama Prof. Johanes Tarigan (USU), muncul satu kalimat reflektif, “Masyarakat Sumatera Utara sangat penyabar.” Ungkapan yang terdengar sederhana, namun sejatinya menyimpan makna mendalam tentang ketidakadilan pembangunan.

Ironi terbesar justru terletak pada sektor energi. Dari potensi PLTA di kawasan Danau Toba saja, nilai produksi listrik diperkirakan mencapai Rp10 triliun per tahun, dari total kapasitas sekitar 1.100 MW. PLTA Renun, PLTA Asahan 1, 2, dan 3, serta pembangkit lain yang menyusul, beroperasi hampir 24 jam penuh.

Bandingkan dengan PLTA Saguling di Jawa Barat berkapasitas 700 MW yang hanya mampu beroperasi optimal sekitar empat jam per hari.

Catatan dari Dairi ini bukan keluhan. Ia adalah ajakan yang jujur dan tegas. Sudah saatnya pembangunan nasional lebih adil, lebih berimbang, dan lebih berpihak pada daerah-daerah yang selama ini setia memberi, namun terlalu lama diminta menunggu.

Karena Indonesia yang kuat bukan hanya dibangun dari pusat, tetapi dari pinggiran yang diberi kesempatan untuk tumbuh dan dihargai.

Peliput: Raden

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments