Selasa, Maret 10, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaJakartaCHECK, DOUBLE CHECK AND RECHECK, BARULAH TEKAN ENTER (Bijak Bermedia Sosial)

CHECK, DOUBLE CHECK AND RECHECK, BARULAH TEKAN ENTER (Bijak Bermedia Sosial)

DetailNews.id, Jakarta – Mohon maaf Pak Bupati, wargamu kami adukan karena sudah keterlaluan. Itulah petikan kalimat yang kubaca di akun media sosialku.

Responsku? Tentu saja mencoba bersikap bijak, dengan menegur lewat japri (jalur pribadi).

Ketika menyapa warga Dairi, bahkan di desa-desa terpencil sekalipun, narasi seperti judul di atas selalu kuselipkan. Kenapa? Karena masih ada keterbatasan pemahaman. Ada yang berpikir, jika ada yang protes, postingan tinggal dihapus. Padahal meski dihapus, luka bisa saja sudah terlanjur tercipta. Jejak digital pun tetap ada, setidaknya di penyedia layanan.

Ibarat paku yang telah dicabut dari dinding, lubangnya tetap ada. Karena itu, jika tak ingin meninggalkan masalah di kemudian hari, bijaklah bermedia sosial. Mari kita renungkan dan praktikkan.

Memang ada kalanya yang “disentil” tidak merespons atau menggubris. Lalu sentilannya justru ditambah lagi. Lupa bahwa objeknya mungkin sudah berada pada level yang lebih dewasa, dengan kesabaran yang tinggi. Kata orang bijak, itulah cara seseorang menunjukkan kelasnya.

Dalam beberapa kasus, objeknya bisa saja cukup sabar. Namun kerabat atau orang dekatnya tidak terima. Sementara yang mengunggah postingan merasa semuanya baik-baik saja, seolah tidak bersalah.

Padahal bisa saja objeknya sudah melepas katup pengaman kesabarannya. Terngiang pepatah: “Metmet si hapor lunjung, dijujung do uluna.”

Lingkar terdekat pun biasanya akan berdiri penuh mendukung. Dan pada akhirnya, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.

Biasanya, kata “tak sengaja” atau “silap” menjadi semacam pra-maaf. Kadang diucapkan setengah hati.

Aku teringat pesan ibu di rumah kami di Straat Tigalingga: “Ringgas manangi-nangi, bangkol manghatahon.”

Maknanya: jadilah pendengar yang baik, dan “pelitlah” dalam berkata-kata agar tidak menjadi sandungan bagi sesama.

Namun anehnya, kebiasaan sebaliknya justru sering terjadi di berbagai lapisan. Di level individu, kadang bermula dari keinginan agar orang lain tahu bahwa dia merasa lebih tahu daripada pembaca atau pendengarnya.

Masih wajar jika kemudian ia meminta maaf.

Ada pula pemilik akun yang sekadar ingin tetap terlihat eksis. Hingga pada level tertentu, ketika kehabisan materi, akhirnya memaksakan diri membuat konten tanpa empati terhadap lingkungan yang sudah jenuh.

Bagaimana dengan media sosial arus besar?

Perannya memang besar dalam memberi informasi dan edukasi. Namun kadang terjebak pada judul bombastis dengan isi yang sebenarnya “kering”.

Hal seperti ini pelan tapi pasti dapat menggerus kepercayaan publik. Padahal para pendahulu telah bersusah payah membangun citra tersebut.

Godaan membuat judul semenarik mungkin kadang membuat isi berita jauh berbeda. Pernah ada judul berita: “Puluhan orang ikut demonstrasi.” Namun di dalam berita ditulis hanya sepuluh orang. Ketika ditelisik videonya, jumlahnya bahkan lebih sedikit.

Indahnya narasi dengan gaya bahasa ringan dan puitis kini terasa semakin jarang. Sentuhan akademisi, sastrawan, dan jurnalis terdidik menjadi sesuatu yang dirindukan.

Turun gununglah. Peran mereka ditunggu agar kualitas komunikasi massa tidak semakin menurun. Kadang bahkan sudah sampai pada tingkat vulgar dan melanggar nilai kemanusiaan.

Bukankah korban dari diksi yang tidak pantas itu juga memiliki keluarga? Aku juga teringat pesan senior, Letjen TNI AD T.B. Silalahi:

“Jika tak bisa membantu, jangan memperkeruh, kawan.”

Saat itu banyak niat baik justru disambut dengan nyinyiran. Bahkan sosok yang dijuluki “Guru para Jenderal” pun merasakannya.

Kini, ketika kertas dan pena tak lagi dibutuhkan, telunjuk pun tak perlu menekan tuts. Cukup menyentuh layar.

Apakah keadaan menjadi lebih baik? Atau justru sebaliknya? Silakan menilai sendiri.

Izinkan aku berbagi satu pengalaman.

Suatu hari, acara pemberian “tali kasih” di Posko Rumah Aspirasi Mangihut Sinaga telah selesai. Beliau adalah anggota DPR RI Komisi III. Aku sebagai kepala daerah dan rekan separtai mendampingi.

Dalam perjalanan kembali ke kantor, muncul sebuah postingan di ponselku: “Pelayanan Puskesmas Batang Beruh sangat buruk.”

Aku langsung merespons. “Kita belok ke Puskesmas Batang Beruh,” perintahku kepada sopir dan ajudan.

Sesampainya di sana, staf dikumpulkan. Kami membahas kejadian hari sebelumnya. Mengapa pasien dilayani begitu lama?

Ternyata tidak ada staf yang lambat seperti yang diklaim. Memang prosesnya lama, karena setelah dicek, nama pasien tidak ada di database. Keluarga tersebut baru pindah ke Dairi.

Nama pasien di data masih tertulis “Ucok”. Belum diberi nama resmi. Ketika dicari nama “Elieser”, tentu tidak ditemukan.

Pesanku saat meninggalkan puskesmas itu hanya satu: “Lebih sabar lagi melayani masyarakat.”

Tak lama setelah itu, hujan turun dan membuat genangan air di jalan nasional. Ketinggiannya sekitar 30 cm di kedua sisi median.

Aku meminta kendaraan berhenti. Kami menyeberang ke sisi kanan jalan. Meminjam cangkul milik warga, sopir dan ajudan mengorek sedimen yang menyumbat saluran air. Tidak sampai sepuluh menit.

Lalu kami pindah ke sisi kiri jalan. Di tengah rintik hujan, kami menelusuri aliran ke arah hulu.

Ternyata saluran tidak berfungsi. Air meluap ke jalan. Gorong-gorong di pertigaan itu tersumbat.

Tak lama kemudian bantuan datang dari kelurahan, kecamatan, Dinas PUPR, dan Dinas Lingkungan Hidup. Regu pemadam kebakaran juga ikut membantu.

Akhirnya gorong-gorong berhasil dibersihkan. Banyak kain bekas spanduk yang menyumbat aliran air.

Masalah selesai. Kami kembali ke kantor.

Aku tidak tahu kapan dan bagaimana pemilik toko tempat aku berdiri saat itu mengambil foto dan video. Ia mengunggahnya di akun miliknya. Kami bahkan tidak saling mengenal.

Respons yang muncul? “Ah, itu cuma pencitraan.”

Kami memilih mengabaikannya. Toh tindakan spontan itu tidak membutuhkan validasi.

Yang membuat kaget, beberapa waktu kemudian ada wartawan media sosial yang bertanya kepada ajudanku: apakah aksi itu sengaja didesain untuk pencitraan?

Ampun…

Rupanya memang harus lebih banyak menelan pil kesabaran. Niat tulus pun bisa saja diframing menjadi negatif.

Tulisan ini kubuat di ruang transit, sambil menunggu jadwal rapat dengan Menteri Lingkungan Hidup di kawasan Kuningan, Jakarta. Senin siang, 9 Maret 2026.

Tanpa bermaksud menggurui, izinkan aku mengajak sobat semua di “warung” ini: Mari bijak bermedia sosial.

Penulis: Ir. Vickner Sinaga, MM.

  • Bupati Kabupaten Dairi 2025–2030, 
  • BOD PLN 2009–2014, 
  • Penerima Setya Lencana Pembangunan dari Presiden RI
  • Penulis buku “Solusi Out of The Box”, seri 1 s/d 5

Peliput: Raden

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments