DetailNews.id, Sleman – Ketua DPD Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jupiter Ome menanggapi peristiwa dugaan kekerasan terhadap seorang mahasiswi asal Pekalongan di depan kostnya di Jalan Rusunawa, Cambahan, Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Jupiter Ome menyayangkan peristiwa ini terjadi. Karena itu, ia mendorong aparat kepolisian untuk menindaklanjuti kasus ini sehingga tidak membuat gaduh masyarakat.
“Kasus ini tidak boleh dibiarkan. Terduga pelaku harus diproses mau dia wartawan atau siapa, karena tindakan kekerasan seperti ini tidak boleh dibiarkan. Apa lagi kasus ini murni kriminal dan tidak ada kaitannya dengan pekerjaan jurnalistik, jika terduga lelaku benar jurnalis,” sebut Ome, Selasa (3/2/2026).
Omeh juga meminta terduga pelaku ini didalami terkait kebenaran profesinya sebagai jurnalis atau bukan. Karena itu lanjut Ome telah merusak citra baik jurnalis nyambi driver ojol.
“Peristiwa ini tidak bisa kita biarkan. Apa lagi terduga pelaku mengaku seorang wartawan. Kalau betul dia wartawan tentu menciderai dan merusak citra baik profesi wartawan,” tegas Ome.
Masih menurut Ome, apa yang dilakukan oleh oknum driver ojol ini tentu saja membuat masyarakat Sleman menjadi risau dan was-was. Selain itu, menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap ojek online atas ulah oknumnya yang ditengarai melakukan kekerasan kepada penumpang.
Sebelumnya dugaan kekerasan yang diduga dilakukan oleh driver ojol terhadap seorang mahasiswi salah satu Perguruan tinggi di DIY, viral di media sosial. Awalnya, diunggah melalui akun FB yang diunggah oleh EBudi Omponk.
Dalam unggahan itu, korban mendapat kekerasan dari seorang driver Maxim Car dan mengaku sebagai wartawan.
Peristiwa itu terjadi di depan kost korban yang berlokasi di Jalan Rusunawa, Cambahan, Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, belum lama ini.
Menurut penuturan korban, kejadian bermula saat dirinya memesan layanan Maxim Car untuk perjalanan menuju tempat kost. Namun sejak awal, korban mengaku sudah merasa tidak nyaman karena menerima pesan dari driver yang dinilainya bernada tidak sopan dan tidak pantas.
Setibanya di lokasi tujuan, korban bermaksud melakukan pembayaran secara tunai menggunakan uang pecahan Rp100.000. Sayangnya, driver mengaku tidak memiliki uang kembalian. Korban kemudian diminta menukarkan uang tersebut ke toko terdekat.
Korban mengaku telah menawarkan alternatif pembayaran lain, yakni dengan cara transfer. Namun tawaran tersebut juga ditolak oleh driver. Merasa bingung dan tertekan, korban kemudian merekam kejadian tersebut sebagai bentuk dokumentasi.
Situasi justru semakin memanas. Driver disebut tersulut emosi karena direkam, lalu marah-marah dan diduga melakukan kekerasan fisik terhadap korban.
Peristiwa ini menimbulkan trauma bagi korban dan memicu keprihatinan publik, khususnya terkait keamanan penumpang transportasi daring, terutama bagi perempuan dan mahasiswa perantauan.
Peliput : Muhammad






