DetailNews.id, Bitung — Upacara Adat Tulude yang digelar oleh Rukun TASUMARO di Pantai Dodik, Kelurahan Wangurer, Kecamatan Girian, Minggu (15/2/2026), menjadi momentum strategis dalam memperkuat persatuan lintas iman di wilayah pesisir Indonesia timur.
Tradisi tahunan masyarakat Nusa Utara ini tidak hanya merefleksikan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga menegaskan peran adat sebagai instrumen sosial dalam merawat harmoni di tengah kemajemukan bangsa.
Kehadiran berbagai unsur masyarakat lintas agama memperlihatkan bahwa nilai budaya masih menjadi titik temu yang kokoh bagi kehidupan bersama.
Mengusung tema “Mekoa Munara Mapia Ghihile Ana U Sembau Mawu Rumendingang Si Kite Kebi”, rangkaian Tulude berlangsung dalam suasana khidmat dan sarat makna toleransi.
Salah satu momen simbolik terlihat ketika seluruh prosesi dihentikan sejenak saat kumandang azan berkumandang, sebagai wujud penghormatan terhadap umat Muslim di tengah komunitas yang terdiri dari berbagai keyakinan.
Dalam struktur adat, prosesi pemotongan Kue Tamo menjadi salah satu ritus paling sakral. Kue Tamo kemudian diserahkan kepada Panglima Adat Brigade Nusa Utara Indonesia sebagai simbol amanah moral untuk menjaga persaudaraan dan nilai kebersamaan masyarakat Nusa Utara di tengah tantangan zaman.
Menanggapi makna simbolik tersebut dalam sambutannya, Panglima Adat Brigade Nusa Utara Indonesia, Ical Mamuntu, menegaskan bahwa tanggung jawab adat tidak berhenti pada seremoni, melainkan harus diterjemahkan dalam tindakan nyata menjaga persatuan.
“Penyerahan Kue Tamo ini adalah amanah besar. Nilai-nilai luhur leluhur harus tetap hidup dan menjadi perekat sosial, bukan tergerus oleh arus modernisasi,” ujar Ical Mamuntu.
Lebih jauh, Ical Mamuntu menilai bahwa Tulude adalah refleksi jati diri masyarakat pesisir yang menjadikan perbedaan sebagai kekuatan kolektif. Ia menekankan bahwa adat memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan sosial bangsa.
“Upacara Tulude membuktikan bahwa perbedaan keyakinan bukan pemisah, melainkan kekuatan organik. Di pesisir Bitung, kita menunjukkan bahwa adat dan rasa syukur mampu menyatukan semua,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kebersamaan sebagai fondasi menghadapi dinamika sosial dan ekonomi ke depan.
“Persatuan lahir dari kerendahan hati untuk bersyukur. Kita tidak bisa berjalan sendiri. Kebersamaan adalah kunci agar masyarakat Nusa Utara tetap tangguh menghadapi perubahan,” lanjutnya.
Upacara ini turut dihadiri Lurah Wangurer Siti Mariam Lariha, Danramil Kodim 1310/Bitung Markus Tilaar, serta Panglima Brigade Nusantara Utara Kota Bitung sekaligus Ketua HNSI Bitung, Mario Mamuntu.
Dalam pandangan Mario Mamuntu sebagai Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kota Bitung (HNSI) , Tulude memiliki fungsi strategis sebagai ruang konsolidasi sosial masyarakat pesisir yang bertumpu pada nilai gotong royong dan solidaritas.
“Tulude adalah ruang persatuan masyarakat pesisir. Tradisi ini menumbuhkan semangat kebersamaan yang menjadi modal sosial utama dalam membangun kesejahteraan,” ujar Mario
Ia menegaskan bahwa kekuatan budaya harus ditempatkan sebagai energi pembangunan, bukan sekadar peninggalan masa lalu.
“Ini bukan hanya warisan budaya, tetapi energi moral yang mendorong masyarakat agar tetap berdaya, mandiri, dan sejahtera,” tegasnya.
Acara yang dipimpin Ketua Adat Yekonia Nanangkong tersebut ditutup dengan sesi foto bersama serta penyerahan hadiah lomba Racing Pakura, dan atraksi seni tari yang menandai kuatnya ikatan emosional dan kebersamaan warga pesisir Pantai Dodik.
Peliput : ical






