DetailNews.id, Halbar – Nahdlatul Ulama (NU) menegaskan komitmennya sebagai kekuatan sosial-keumatan dengan menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, yang terdampak banjir terbesar sepanjang sejarah wilayah tersebut, Rabu (7/1/2026).
Bencana banjir akibat hujan ekstrem ini merendam ribuan rumah warga, merusak infrastruktur vital, serta melumpuhkan aktivitas masyarakat di sejumlah desa. Beberapa jembatan penghubung antarwilayah dilaporkan roboh, menyebabkan akses transportasi sempat terputus.
Penyaluran bantuan difokuskan pada desa-desa dengan dampak terparah, yakni Desa Tongute Ternate, Tongute Asal, Gamlamo, dan Tobgute. Di wilayah tersebut, ketinggian air dilaporkan mencapai pinggang hingga atap rumah warga. Ribuan penduduk terpaksa mengungsi tanpa sempat menyelamatkan harta benda, sementara jembatan penghubung Tobgute–Gamlamo mengalami kerusakan parah.
Kegiatan kemanusiaan ini dipimpin langsung oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Halmahera Barat, H. Imrat Idrus, S.Sos., M.Si, yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Kabupaten Halmahera Barat. Ia turun langsung ke lokasi bencana bersama jajaran pengurus PCNU serta badan otonom NU, di antaranya Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, dan IKA PMII.
“Ini bukan sekadar penyaluran bantuan logistik, tetapi bentuk tanggung jawab moral dan kemanusiaan NU. Warga Kecamatan Ibu sangat membutuhkan kehadiran dan kepedulian semua pihak. NU hadir untuk memastikan mereka tidak merasa sendirian menghadapi musibah ini,” ujar H. Imrat Idrus di sela-sela kegiatan.
Selain menyalurkan bantuan berupa sembako dan air bersih, NU juga melakukan pendataan awal terhadap warga terdampak, khususnya kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan perempuan yang saat ini berada di sejumlah titik pengungsian.
Banjir besar tersebut turut merusak fasilitas umum masyarakat, termasuk Lapangan Sepak Bola Tobgute yang terendam total, sehingga proses distribusi bantuan harus dilakukan dengan cepat dan terkoordinasi.
Dalam pelaksanaannya, NU berkoordinasi dengan unsur TNI/Polri, Taruna Siaga Bencana (Tagana), BPBD, serta pemerintah daerah guna memastikan distribusi bantuan berjalan tertib, cepat, dan tepat sasaran.
NU juga menegaskan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat. Menurut H. Imrat Idrus, diperlukan langkah lanjutan berupa rehabilitasi, pemulihan ekonomi warga, serta penguatan mitigasi bencana mengingat Kecamatan Ibu merupakan wilayah rawan banjir.
“Pasca banjir, warga masih harus menghadapi kerusakan rumah, kehilangan mata pencaharian, serta trauma psikologis. Pendampingan jangka panjang sangat dibutuhkan agar masyarakat dapat bangkit kembali,” katanya.
Kehadiran NU di Kecamatan Ibu menjadi simbol kuatnya solidaritas keumatan dan semangat gotong royong sosial dalam menghadapi bencana alam yang melanda Halmahera Barat dan wilayah Maluku Utara secara umum.
Peliput : Edy







