DetailNews.id, Tarakan – Keberhasilan seseorang tak selalu diukur dari posisi saat ini, melainkan dari seberapa jauh langkah yang telah ditempuh. Prinsip itu seolah melekat dalam perjalanan hidup Supa’ad Hadianto, SE., anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), yang tumbuh dari kerasnya kehidupan sebagai perantau.
Perjalanan hidup Supa’ad dimulai pada 1979. Saat itu, ia masih kecil ketika sang ibu, membawanya merantau ke Kalimantan. Keputusan itu bukan tanpa alasan, melainkan karena tekanan ekonomi yang begitu berat.
“Saya pindah ke Tarakan jauh-jauh karena saya orang miskin. Di desa asal, saya merasa tidak akan pernah berkembang,” kenang Supa’ad, mengingat masa kecilnya disela kegiatan reses, Selasa (17/2/2026).
Namun, kehidupan di tanah rantau tak serta-merta menjadi mudah. Tak lama tinggal di Tarakan, ia kembali harus berpindah ke Nunukan. Di sanalah, kerasnya hidup mulai benar-benar menempa mentalnya sejak dini.
Di usia yang masih belia, Supa’ad sudah terbiasa membantu ibunya berjualan soto ayam setiap sore. Sementara itu, ayahnya bekerja sebagai tenaga honorer di PT Inhutani dengan penghasilan yang jauh dari kata cukup.
Hari-hari dilalui dengan penuh keterbatasan. Sekolah tetap dijalani, meski harus diselingi dengan kerja keras demi membantu keluarga. Bagi Supa’ad kecil, rasa lelah bukan alasan untuk berhenti berjuang.
“Kenapa saya ceritakan ini? Supaya orang tahu bahwa saya bisa sampai di titik ini bukan karena jalan mudah. Saya ditempa oleh kesulitan,” ujarnya.
Menurutnya, justru dari keterbatasan itulah lahir ketangguhan mental. Ia meyakini, orang yang terbiasa menghadapi kesulitan akan memiliki daya juang yang lebih kuat dibanding mereka yang sejak awal hidup dalam kemapanan.
“Orang yang ditempa kesulitan, mentalnya jauh lebih kuat,” tegasnya.
Perjalanan hidup kembali menguji keluarganya saat sang ayah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi itu membuat Supa’ad harus kembali ke Tarakan. Di kota inilah, ia melanjutkan pendidikan hingga lulus dari SMA Negeri 2 Tarakan pada 1989.
Pengalaman hidup sebagai anak dari keluarga sederhana, bahkan pernah merasakan menjadi bagian dari kehidupan buruh dan pedagang kecil, membentuk cara pandangnya hingga kini. Ia mengaku tak pernah bisa menutup mata terhadap kesulitan yang dihadapi masyarakat kecil.
“Kalau saya mendengar pedagang kaki lima atau pelaku UMKM mengeluh, hati saya langsung tersentuh. Saya dibesarkan dari kehidupan seperti itu,” tuturnya.
Kini, saat duduk sebagai wakil rakyat di tingkat provinsi, Supa’ad membawa serta pengalaman hidupnya sebagai kompas dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat. Ia menaruh perhatian besar pada program-program kerakyatan yang berdampak langsung.
Di antaranya adalah dorongan terhadap penguatan ekonomi melalui Koperasi Merah Putih. Ia meyakini koperasi bisa menjadi wadah kuat bagi masyarakat kecil untuk bangkit dan mandiri secara ekonomi.
Selain itu, ia juga mengawal program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar benar-benar tepat sasaran, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan. Baginya, pemenuhan gizi adalah fondasi penting bagi masa depan generasi bangsa.
Namun, di tengah semangat tersebut, Supa’ad tak menutup mata terhadap tantangan yang ada. Ia mengungkapkan bahwa kondisi keuangan daerah saat ini sedang tidak baik-baik saja.
APBD Provinsi Kaltara mengalami penurunan signifikan sekitar Rp600 miliar, dari Rp3,1 triliun menjadi Rp2,472 triliun. Situasi ini menuntut pemerintah daerah untuk melakukan efisiensi di berbagai sektor tanpa menghambat pembangunan.
Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran, Supa’ad menegaskan komitmennya untuk tetap memperjuangkan aspirasi masyarakat. Ia terus berupaya menjembatani kebutuhan warga, mulai dari infrastruktur hingga layanan kesehatan, kepada pemerintah provinsi.
Bagi Supa’ad, jabatan bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia berharap kisah hidupnya bisa menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki peluang untuk bangkit, tak peduli seberapa sulit titik awalnya.
“Jangan hanya lihat saya saat sudah menjadi anggota DPRD, tapi lihat perjalanan saya. Kita semua punya sejarah, dan kita semua punya harapan untuk masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Peliput: Raden





