DetailNews.id, Bitung — Aktivitas blasting atau peledakan yang diduga dilakukan PT Meares Soputan Mining (MSM)/PT Tambang Tondano Nusajaya (TTN) kembali memicu kemarahan warga Kelurahan Pinasungkulan, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, Sulawesi Utara.
Warga menilai perusahaan mengabaikan keselamatan masyarakat, meski dampak peledakan telah dirasakan selama bertahun-tahun dan menimbulkan kerusakan fisik serta trauma berkepanjangan.
Puncak kemarahan warga terjadi ketika sejumlah masyarakat nekat menerobos barikade aparat kepolisian dan petugas keamanan perusahaan. Aksi tersebut disebut sebagai bentuk keputusasaan, setelah berbagai keluhan yang disampaikan warga dinilai tidak pernah ditindaklanjuti secara serius.
Salah satu warga Lingkungan I Pinasungkulan, Esty Sumilat, mengungkapkan bahwa aktivitas blasting bukan kejadian baru.
Menurutnya, peledakan telah berlangsung sejak 2021 hingga 2023 dan kembali dilakukan saat ini, dengan jarak lokasi blasting hanya sekitar 400 meter dari permukiman warga.
“Setiap kali blasting, getarannya sangat kuat. Rumah bergetar, WC rusak, jendela pecah, dan tembok rumah retak. Kami tinggal di sini dalam rasa takut,” ujar Esty sambil menunjukkan kerusakan rumahnya kepada wartawan, Kamis (5/2/2026).
Esty menambahkan, sebelumnya pihak perusahaan masih memberikan pemberitahuan melalui grup WhatsApp dan papan pengumuman. Namun belakangan, informasi tersebut tidak lagi disampaikan, sehingga warga merasa semakin diabaikan.
“Kami sudah melapor. Bukan hanya rumah kami yang rusak, ada sekitar 21 rumah terdampak. Tapi blasting tetap jalan. Kami dirugikan, dan sampai sekarang tidak ada tanggung jawab nyata dari perusahaan,” tegasnya.
Kecaman keras juga disampaikan Ketua Umum Persatuan Organisasi Lintas Agama dan Adat (POLA) Kota Bitung, Puboksa Hutahaean. Ia menilai aktivitas blasting PT MSM/TTN telah melampaui batas kewajaran dan menunjukkan minimnya kepedulian terhadap keselamatan warga yang tinggal di sekitar area tambang.
“Kami melihat langsung dan merasakan sendiri dampaknya. Dari jarak yang cukup jauh saja getarannya sangat terasa. Apalagi rumah-rumah yang berada dekat dengan titik blasting. Ini bukan sekadar gangguan, tapi sudah menjadi ancaman serius bagi keselamatan warga,” tegas Puboksa.
Puboksa juga menyoroti dugaan kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan, termasuk perubahan alur sungai dan kawasan sekitar. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memicu bencana lingkungan jika tidak segera ditangani.
“Perusahaan mengambil emas dari perut bumi, tetapi mengabaikan keselamatan masyarakat. Negara tidak boleh diam. Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian ESDM, hingga Kementerian HAM harus turun langsung ke lapangan,” katanya.
Ia mendesak pemerintah pusat dan daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas blasting PT MSM/TTN, termasuk opsi penghentian sementara hingga relokasi warga demi mencegah jatuhnya korban.
“Kalau tidak ada tindakan tegas, gelombang aksi masyarakat yang lebih besar akan turun. Jangan tunggu bencana dan korban jiwa baru negara hadir,” pungkas Puboksa.
Sementara itu, terpisah, juru bicara PT MSM/TTN, Sinyo Rumondor, saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa pihak perusahaan masih dalam tahap komunikasi dengan warga terdampak.
“Masih dalam tahap penyelesaian. Tim Community Relation sementara berkomunikasi dengan warga. Jika ada perkembangan lebih lanjut, akan kami informasikan,” ujarnya singkat.
Peliput : ical






