DetailNews.id, Jakarta – Sejumlah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dari berbagai daerah mendesak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) segera mengambil sikap tegas terkait eskalasi konflik internasional menyusul serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran yang disebut menimbulkan korban jiwa, termasuk tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Desakan tersebut disampaikan melalui komunikasi intens para pimpinan PWNU, yakni Ketua PWNU Kalimantan Utara KH Alwan Saputra, Ketua PWNU DKI Jakarta KH Samsul Ma’arif, Ketua PWNU DI Yogyakarta KH Ahmad Zuhdi Muhdlor, S.H., M.Hum, Ketua PWNU Sumatera Selatan KH Hendra Zainuddin Al Qodiri, dan Ketua PWNU Papua Pegunungan KH Abdul Qahar Yelipele.
Mereka menilai tindakan militer yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hukum internasional dan berpotensi memperkeruh situasi geopolitik global.
“Kami melihat tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran terhadap norma internasional dan berpotensi memicu konflik yang lebih luas. Apalagi dampaknya tidak hanya regional, tetapi bisa menjalar ke berbagai belahan dunia,” ujar H. Alwan Saputra salah satu perwakilan PWNU dalam keterangannya, Senin (2/3/26).
Sebagai organisasi Islam terbesar di dunia, mereka berharap PBNU dapat menunjukkan sikap kritis dan responsif terhadap isu kemanusiaan global, khususnya yang menyangkut negara-negara mayoritas Muslim.
PWNU juga menyoroti belum adanya pernyataan resmi PBNU hingga hari kedua sejak eskalasi konflik terjadi. Kondisi itu dikhawatirkan memunculkan persepsi ketidakpedulian terhadap penderitaan umat Islam di berbagai negara yang terdampak konflik.
“Kami berharap PBNU tidak diam terlalu lama. Sikap moral dan keagamaan sangat penting untuk menunjukkan kepedulian terhadap kondisi umat, meskipun konflik terjadi di luar negeri,” lanjutnya.
Selain mendesak sikap tegas terhadap agresi militer tersebut, PWNU juga meminta PBNU mengkritisi keterlibatan Indonesia dalam forum Board of Peace (BOP) yang disebut sebagai inisiatif perdamaian yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Menurut mereka, keberadaan forum perdamaian seharusnya berorientasi pada meredakan konflik, bukan justru beriringan dengan kebijakan sepihak yang berpotensi memicu peperangan.
“Di satu sisi forum tersebut bertujuan menciptakan perdamaian, termasuk harapan perdamaian di Palestina. Namun di sisi lain, tindakan sepihak Amerika dinilai kontradiktif karena justru memicu eskalasi konflik,” katanya.
PWNU berharap PBNU dapat mengambil posisi yang jelas, baik dalam bentuk pernyataan sikap, seruan perdamaian, maupun kecaman terhadap tindakan yang dianggap merugikan kemanusiaan dan stabilitas dunia.
Mereka menegaskan, sikap PBNU dinilai penting sebagai representasi suara moral umat Islam Indonesia dalam merespons dinamika konflik global yang berdampak luas terhadap perdamaian dunia.
Peliput: Raden






