Senin, April 6, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaNasionalRagam Kisah Pra-Paskah hingga Pasca-Paskah: Tentang Waktu, Keadilan, dan Pertobatan

Ragam Kisah Pra-Paskah hingga Pasca-Paskah: Tentang Waktu, Keadilan, dan Pertobatan

DetailNews.id, Tarakan – Sosok hebat anggota dewan dari dapilku memberiku pemahaman baru. Adalah Hinca Panjaitan, sang idola itu, yang berulang kali mengutarakan ungkapan bijak: “Justice delayed, justice denied”. Ungkapan yang terasa pas saat siaran langsung RDPU Komisi III DPR RI bersama mitranya, Kejaksaan Agung, baru-baru ini.

Terlepas dari substansi hukum yang ternyata diakui oleh APH bahwa ada kesilapan dalam mendakwa, faktanya hakim memutuskan terdakwa tidak bersalah, divonis bebas. Namun, sudah terlanjur ada korban. Pesakitan ratusan hari akibat “kecerobohan” jaksa penuntut umum.

Ah… anggap saja lagi apes. Namun, kecerobohan pertama tak membuahkan penyesalan. Muncul kelalaian susulan. Ada faktor kurang cermat yang dipadu dengan aksi kurang sigap. Pemahaman tentang diksi “penangguhan” dan pengalihan kembali menjadi persoalan. Lagi-lagi, apes menimpa si korban. Ketidaksigapan itu membuat keadilan belum berpihak kepadanya. Ungkapan “justice delayed, justice denied” pun nyata terjadi.

Ketidaksigapan petugas dalam mengeksekusi penangguhan dari rumah tahanan menjadi “drama” dalam pembahasan perkara tersebut saat RDPU yang sakral itu.

Masih beruntung, Hinca Panjaitan tegar. Ia tak merasa lelah mengawal jam demi jam, menit demi menit, hingga keadilan itu tiba pada waktunya. Waktu menjadi hal krusial dalam substansi perkara. Durasi sewa dinilai tidak sesuai bill of quantity, ditambah nilai intangible dari kreativitas yang memang tak memiliki rujukan baku. Namun secara total, nilai pekerjaan masih tidak jauh dari kewajaran. Ini mungkin menjadi pertimbangan majelis hakim saat menjatuhkan putusan bebas.

Waktu… itu pula yang menjadi satu sisi ketika, menjelang Paskah, muncul ungkapan dari seorang pengamat freelance, Vander Sinaga, yang berkata: “Baru paham bahwa Tuhan memutuskan lebih banyak hewan di Bahtera Nuh dibanding manusia”.

Aku terhenyak. Ungkapan penuh makna itu terngiang di kepalaku. Benar juga, pikirku. Jika lebih banyak manusia dalam aksi penyelamatan Bahtera Nuh, tak terbayang apa yang mungkin terjadi kemudian.

Kupadukan dengan ungkapan bahwa “kedelai tak tersandung di lubang yang sama”, sindiran halus bagi kita, manusia, yang sering ceroboh atau bahkan sengaja mengulang kecerobohan.

Tulisan ini memang sarat makna filosofis. Namun bukan hanya itu, ia juga konkret. Seminggu menjelang Paskah, hampir tiap hari muncul di layar ponselku narasi “penyesalan”. Semua terkait unggahan yang kebablasan sebelumnya.

“Sungguh aku menyesal, berjanji tak akan mengulangi ujaran kebencian itu.” Ini salah satunya. Tentu disertai harapan untuk dimaafkan, setelah korban dari unggahan tersebut merespons keras dan bahkan berencana melaporkannya ke pihak berwajib.

Saat kutanya mengapa begitu gegabah, dijawab karena terpengaruh minuman keras. Hmm… masih mencoba mengelak. Namun waktu menjadi pengadil. Ujaran tak patut itu diposting pada pagi hari, jelas kesadarannya masih utuh. Yang pasti, korban sudah ada, dan kini masih mempertimbangkan: melanjutkan proses atau memberi maaf.

Beberapa bentuk penyesalan itu dikemas dalam video. Tanpa diminta. Narasi permohonan maaf dengan sikap yang tampak “sempurna”: kedua telapak tangan menyembah, suara memelas, berlangsung beberapa menit. Pertanda bahwa ujaran kebencian sudah berada di level yang membahayakan pelakunya sendiri.

Padahal, sudah berulang kali diingatkan agar bijak bermedia sosial. Jika tak ingin tersandung, maka: check, double check, dan re-check sebelum menekan tombol “enter”. Saring sebelum sharing. Bijak bermedsos.

Ada pula petuah: “Ringgas manangi-nangi, bangkol manghatahon,” yang berarti banyak mendengar dan hemat dalam berkata-kata.

Kembali ke judul. Kisah bermakna di masa pra-Paskah… Saat Paskah, ucapan “Selamat Paskah” membanjiri layar ponselku. Mulai dari yang sederhana dua kata, hingga yang penuh warna dan “berat” secara data—memperkaya provider.

Namun, alangkah baiknya kembali ke dasar: makna sesungguhnya. Aksi penyelamatan oleh Kristus, rela berkorban hingga mati di kayu salib. Siapakah yang rela menyerahkan nyawanya untuk menyelamatkan sahabatnya?

Kini kita memasuki masa pasca-Paskah. Jangan hanya menjadi rutinitas. Penghayatan mendalam tentang aksi penyelamatan itu harus merasuk ke dalam hati. Melangkah dengan pasti. Bekerja dengan nurani. Bertanggung jawab dalam mengemban amanah. Jika mampu, memberi kepada yang berkekurangan. Berpihak kepada yang terbatas.

Harus berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Eling… karena dimensi waktu.

Tak jauh berbeda, perjalanan jasmani dan rohani kita juga bersinggungan dengan momentum lain: Imlek, puasa bulan Ramadan, Nyepi, dan Paskah.

Tulisan ini kutorehkan saat merayakan Paskah bersama keluarga besar. Kuposting saat mendarat di Bandara Kualanamu, memulai hari kerja baru, Senin pagi, 6 April 2026.

Berkendara menuju RUPS bank yang masih membutuhkan banyak sentuhan agar tak berjalan biasa-biasa saja, terlebih di tengah dunia yang politik dan ekonominya bergejolak.

Damailah bumiku. Damailah negeriku. Terhindar dari sikap saling bermusuhan.

Penulis: Ir. Vickner Sinaga, MM.

  • Bupati Kabupaten Dairi 2025–2030,
  • BOD PLN 2009–2014,
  • Penerima Setya Lencana Pembangunan dari Presiden RI
  • Penulis buku “Solusi Out of The Box”, seri 1 s/d 5

Peliput: Raden

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments