DetailNews.id, Tarakan – Sekitar 2.000 jemaah memadati Pesantren Tahfiz Darul Quran Kota Tarakan dalam Tabligh Ramadan yang menghadirkan dai nasional, Hanan Attaki, Senin (2/3/2026). Dalam tausiah yang hangat dan penuh sentuhan anak muda, Ustadz Hanan mengajak umat mengubah orientasi hidup, berhenti mencari validasi manusia dan mulai mencari perhatian Allah SWT.
Di hadapan ribuan jemaah yang didominasi kalangan muda, Ustadz Hanan menyoroti fenomena sosial yang kini marak, keinginan untuk terus “caper” atau cari perhatian kepada manusia, terutama melalui media sosial.
“Kita ini kreatif sekali kalau soal cari perhatian manusia. Kita posting, kita story, kita live, kita taruh di status, di profil. Dengan segala cara kita ingin dapat validasi. Tapi apa hasilnya? Semakin kita caper kepada manusia, sering kali justru kita diremehkan,” ujarnya.
Menurutnya, semakin seseorang menggantungkan harga diri pada penilaian manusia, semakin besar potensi kecewa yang akan dirasakan. Sebab, manusia memiliki sifat lupa dan ego.
“Manusia itu mudah lupa. Sulit mengakui satu kebaikan kita. Tapi kalau satu saja kesalahan kita, bisa diingat lama sekali. Itu fitrah manusia,” katanya.
Ia mencontohkan bagaimana dalam kehidupan sehari-hari, banyak relasi yang dibangun atas dasar mencari perhatian. Istri yang ingin diperhatikan suami, suami yang ingin dimengerti istri, anak yang ingin pengakuan orang tua, hingga dalam dunia kerja antara atasan, bawahan, konsumen, bahkan investor.
“Sudah 11 bulan dalam setahun kita sibuk caper kepada manusia. Hasilnya apa? Kecewa, marah, sakit hati, merasa diabaikan. Karena kita menaruh harapan pada tempat yang salah,” tuturnya.
Dalam momentum Ramadan, Ustadz Hanan mengajak jemaah mengganti “mode hidup”. Jika selama ini menggunakan “mode ekstrovert” untuk mencari perhatian manusia dengan cara tampil, pamer, bahkan berlebihan, maka Ramadan adalah waktu beralih ke “mode introvert” untuk mencari perhatian Allah.

“Kalau mau caper ke manusia, kita harus ekspresif. Harus tampil, harus show off, harus pamer. Kadang sampai over acting. Tapi kalau caper ke Allah, cukup diam di sepertiga malam, angkat tangan, menangis, dan berdoa. Tidak perlu dilihat siapa-siapa,” ucapnya.
Ia juga menyinggung fenomena media sosial, di mana seseorang bisa mengulang-ulang unggahan hanya demi dilihat oleh satu orang yang diharapkan memberi perhatian.
“Kita tunggu 24 jam, kok dia nggak lihat story kita. Besok kita ulang lagi, bahkan kita buat khusus hanya dia yang bisa lihat. Seminggu kita ulang-ulang cuma demi satu orang. Kenapa tidak energi itu kita pakai untuk Allah?” katanya, disambut anggukan jemaah.
Menurutnya, perhatian manusia terbatas dan sering kali penuh kepentingan. Sebaliknya, perhatian Allah tidak pernah terputus.
“Kalau kita caper ke Allah, Allah tidak pernah meremehkan. Tidak pernah mengabaikan. Tidak pernah lupa dengan satu kebaikan hamba-Nya. Bahkan amal kecil pun Allah catat,” tegasnya.
Ia menutup tausiah dengan mengajak seluruh jemaah menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki orientasi hati.
“Ramadan ini mari kita ganti mode. Dari sibuk mencari validasi manusia menjadi sibuk mencari ridha Allah. Karena kalau Allah sudah ridha, kita tidak lagi butuh tepuk tangan manusia,” pungkasnya.
Tabligh Ramadan tersebut menjadi salah satu momentum spiritual yang memperkuat semangat masyarakat Tarakan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus menjadikan bulan suci sebagai titik balik perubahan diri.
Peliput: Raden






