DetailNews.id, Tarakan – Suasana hening menyelimuti majelis saat Pengasuh dan Pembina Al-Hikam Cinta Indonesia, Habib Alkindi Bilfaqih, menyampaikan pesan yang menggugah tentang makna ilmu dan kerendahan hati.
Habib Alkindi mengingatkan bahwa menuntut ilmu bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban bagi setiap muslim.
“Menuntut ilmu itu fardu ‘ain. Bahkan Nabi bersabda, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina,” tuturnya lembut.
Baginya, pesan itu bukan sekadar ajakan belajar, tetapi fondasi peradaban. Rasulullah ingin umatnya menjadi pribadi yang saleh sekaligus kuat menghadapi perubahan zaman. Umat yang tidak gagap menghadapi tantangan, karena dibekali ilmu dan kebijaksanaan.
Namun di tengah semangat mencari ilmu, Alkindi mengajak jamaah untuk merenung lebih dalam: ilmu manusia ada batasnya.
“Pengetahuan itu berbatas. Sementara keberadaan itu tidak berbatas,” ucapnya pelan, seakan ingin setiap kata meresap ke dalam hati.
Ia menyoroti fenomena yang kerap terjadi hari ini, ketika seseorang tidak mengetahui sesuatu, lalu dengan mudah menyimpulkan bahwa hal itu tidak ada. Bahkan lebih jauh, diberi label salah atau sesat.
“Seolah-olah kebenaran itu ditentukan dari apa yang kita tahu. Padahal yang kita tahu hanya setetes dari lautan ilmu Allah,” katanya.
Menurut Alkindi, sikap merasa paling benar sering kali lahir bukan karena kedalaman ilmu, melainkan karena lupa bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas. Bisa jadi, orang lain memiliki sudut pandang yang berbeda karena ia belajar dari tempat dan pengalaman yang berbeda.
“Jangan pernah menyebut orang lain sesat hanya karena pikirannya berbeda dengan Anda. Bisa jadi itu hanya karena keterbatasan pengetahuan kita,” pesannya.
Ia pun mengingatkan sabda Nabi Muhammad SAW, minal mahdi ilal lahdi, menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Sebuah isyarat bahwa manusia tidak pernah benar-benar selesai belajar.
“Hanya kematian yang menjadi batas pencarian ilmu kita. Selama masih hidup, kita adalah murid,” ujarnya.
Di akhir tausiyahnya, Alkindi mengajak umat untuk merendahkan hati, memperluas cara pandang, dan tidak mudah menghakimi. Karena boleh jadi, yang kita anggap salah hari ini hanyalah sesuatu yang belum kita pahami.
“Ilmu kita terbatas. Keberadaan Allah tak berbatas. Maka jangan jadikan diri kita sebagai ukuran kebenaran,” pungkasnya, mengajak jamaah untuk merenung.
Peliput: Raden






