DetailNews.id, Tarakan – Silaturahmi dan temu kangen alumni Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Pejuang Kalimantan Utara di Hotel Galaxy Tarakan, Sabtu (4/4/2026), tak hanya diwarnai nostalgia, tetapi juga refleksi serius soal sejarah hingga dinamika politik daerah.
Kegiatan yang dihadiri puluhan alumni lintas generasi dari Nunukan, Tana Tidung, Malinau, Bulungan hingga Tarakan ini turut menghadirkan Bupati Malinau Wempi Wellem Mawa, Ketua Tanfidziyah PWNU Kaltara Alwan Saputra, serta sejumlah tokoh pemuda lainnya.
Dalam kesempatan itu, Alwan Saputra menyampaikan sejumlah catatan penting terkait proses terbentuknya Kalimantan Utara (Kaltara), termasuk meluruskan isu yang sempat berkembang di tengah masyarakat.
Ia menegaskan, pembentukan Kabupaten Tana Tidung (KTT) bukanlah untuk melengkapi syarat terbentuknya Kaltara, melainkan murni karena kebutuhan administratif dan pelayanan pemerintahan.
“Perlu diluruskan, KTT itu bukan dibentuk untuk melengkapi Kaltara. Itu kebutuhan wilayah, bukan bagian dari skenario pembentukan provinsi,” ujarnya.
Kesalahpahaman tersebut sempat memunculkan anggapan bahwa KTT menghambat pembentukan Kaltara. Padahal, menurutnya, hal itu tidak benar.
“Bahkan sempat ada stigma seolah-olah KTT tidak menghendaki Kaltara. Ini yang perlu kita luruskan agar tidak menjadi beban sejarah,” katanya.
Ia kemudian menceritakan peran pemuda, khususnya KNPI, dalam mendorong percepatan pembentukan Kaltara saat proses sempat mengalami stagnasi.
Menurutnya, pada 2008, para pemuda dari enam kabupaten/kota berinisiatif membentuk tim percepatan sebagai bentuk gerakan bersama lintas daerah.
“Waktu itu kita sepakat tidak ada dominasi. Semua kabupaten/kota punya peran yang sama untuk mendorong percepatan pembentukan Kaltara,” jelasnya.
Alwan juga menyinggung strategi perjuangan saat itu yang tidak hanya dilakukan di daerah, tetapi juga dengan mendorong aksi lebih luas agar mendapat perhatian pusat. Namun, ia mengakui, dalam perjalanan tersebut terdapat kelemahan, terutama kurangnya konsolidasi di tingkat elite lokal.
“Kalau kita belajar dari daerah lain, mereka sudah siapkan dari awal siapa pemimpinnya. Di kita, itu tidak terjadi. Ini pelajaran penting,” ungkapnya.
Ia menilai, perbedaan klaim dan ego antar tokoh saat itu turut memengaruhi dinamika kepemimpinan di awal terbentuknya Kaltara.
“Banyak yang merasa paling berjuang. Akhirnya terjadi perpecahan. Ini bukan untuk menyalahkan, tapi jadi bahan evaluasi kita bersama,” tegasnya.
Alwan menyinggung kondisi politik terkini di Kaltara yang dinilainya masih belum sepenuhnya sesuai harapan awal para pejuang.
Meski demikian, ia menekankan bahwa kritik yang disampaikan merupakan bagian dari tanggung jawab moral sebagai bagian dari generasi yang ikut berjuang.
“Ini bukan menyalahkan siapa pun, tapi refleksi agar ke depan Kaltara bisa lebih baik sesuai cita-cita bersama,” tutupnya.
Kegiatan temu kangen ini pun diharapkan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang memperkuat komitmen bersama dalam melanjutkan semangat perjuangan pembangunan Kalimantan Utara.
Peliput: Raden



