Kamis, April 23, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaKaltaraTergerus di Tanah Sendiri! BRIN Ungkap Budaya Tidung di Perbatasan Kaltara Kian...

Tergerus di Tanah Sendiri! BRIN Ungkap Budaya Tidung di Perbatasan Kaltara Kian Memudar

DetailNews.id, Tarakan – Tim periset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap kondisi budaya suku Tidung di wilayah perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara) yang kian tergerus. Riset yang dilakukan sejak 2024 itu menyoroti kuatnya pengaruh globalisasi dan interaksi lintas etnis.

Ketua tim riset, Fairul Zabadi, menyebut penelitian difokuskan pada dokumentasi budaya Tidung di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, meliputi Kabupaten Nunukan, Kecamatan Sebatik, Kota Tarakan hingga Kabupaten Tanah Tidung.

“Tujuan penelitian untuk mendokumentasikan budaya meliputi adat istiadat, kuliner, permainan tradisional suku Tidung di wilayah perbatasan Kaltara dan Malaysia dalam rangka pelestarian budaya dan penguatan identitas kebangsaan,” ujar Fairul, Selasa (21/4/2026).

Penelitian ini melibatkan sejumlah peneliti dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN serta kalangan dosen, yakni Fatmahwati, Wahyudi, Seifu Zaman, Eka Suyatin, Royan Nur Fahmi, serta Ajeng Charaka.

Riset dilakukan dalam tiga tahap selama tiga tahun, dimulai dari Nunukan dan Sebatik, dilanjutkan ke Tarakan, dan akan berakhir di Tanah Tidung.

Hasil sementara menunjukkan budaya Tidung menghadapi tantangan serius. Selain arus globalisasi, perubahan fungsi wilayah dari daerah persinggahan menjadi kawasan hunian multietnis turut memengaruhi eksistensi budaya lokal. Di wilayah Sebatik, pengaruh budaya Malaysia juga dinilai semakin kuat.

Dalam riset tahun kedua di Tarakan, tim berhasil mendokumentasikan berbagai warisan budaya. Di antaranya permainan tradisional seperti Batu Lele, Lugu (Balugu), Simbon, dan Babitor, serta kuliner khas seperti Nasi Subut, Nasi Rasul, Sabai Banabok, hingga Ketumpuk Udang.

Tak hanya itu, sejumlah ritual adat juga masih dijalankan masyarakat, seperti Mandi Safar, Melarung Kapal ke Laut, hingga Besetan Badewa. Tradisi lain seperti Nyembaloy dan Bekeparat juga menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni sosial masyarakat Tidung.

Tim peneliti juga mencatat adanya tradisi lisan, pengetahuan lokal, serta sikap masyarakat terhadap bahasa Tidung sebagai bagian dari objek pemajuan kebudayaan. Namun, data yang dikumpulkan di Tarakan masih dalam tahap pengolahan.

Dalam kesimpulannya, riset ini menyoroti mulai “kaburnya” identitas masyarakat Tidung akibat tingginya interaksi lintas batas negara dan budaya. Kondisi ini dinilai berpotensi memengaruhi identitas kebangsaan, terutama di wilayah perbatasan seperti Sebatik.

Meski begitu, budaya Tidung dinilai masih memiliki kekuatan sebagai perekat sosial dan identitas nasional. Nilai gotong royong, kebersamaan, hingga integritas dalam adat istiadat dan tradisi dinilai mampu memperkuat karakter masyarakat perbatasan.

Upaya pelestarian pun terus dilakukan, salah satunya melalui Festival Iraw dan berbagai program komunitas adat. Namun, peneliti menilai perlu langkah lebih konkret seperti penyusunan buku, pengembangan bahan ajar, hingga pertunjukan budaya.

“Pelestarian harus terus dilakukan agar budaya Tidung tidak hanya terdokumentasi, tetapi juga tetap dipraktikkan dan dikenali oleh generasi berikutnya,” pungkasnya.

Peliput: Raden

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments