DetailNews.id, Muara Pantuan – Sampah organik sisa makanan dari kafetaria pekerja PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) kini tak lagi menjadi limbah yang harus dibuang. Melalui inovasi berbasis ekonomi sirkular, sisa makanan tersebut dimanfaatkan sebagai pakan ternak bebek milik masyarakat Pulau Nubi, Desa Muara Pantuan, Kecamatan Muara Pantuan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Program tersebut menjadi contoh kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat dalam mengubah limbah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi. Selain mengurangi timbunan sampah organik di area operasi perusahaan, program ini juga membantu menekan biaya pakan ternak sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Inisiatif itu bermula dari kajian Fungsi Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) South Processing Unit (SPU) PHM yang melihat potensi pemanfaatan sisa makanan pekerja sebagai pakan ternak.
Pada Juni 2025, Ketua RT Pulau Nubi, H. Taher, kemudian mengajukan permohonan kepada PHM agar sisa makanan dari kafetaria perusahaan dapat dimanfaatkan untuk mendukung rencana budidaya bebek petelur dan bebek pedaging yang sedang dikembangkan masyarakat.
Budidaya dimulai pada September 2025 dengan 300 ekor bibit bebek. Setelah memasuki masa produktif sekitar lima bulan kemudian, populasi kembali ditambah sebanyak 300 ekor pada Februari 2026.
Bertambahnya jumlah ternak membuat kebutuhan pakan meningkat. Kondisi tersebut kemudian dijawab melalui pemanfaatan sampah organik dari kafetaria SPU. Sejak April hingga Juni 2026, seluruh sisa makanan organik dari area operasi PHM berhasil dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Hasilnya mulai dirasakan masyarakat. Sejak Februari 2026, peternakan bebek yang dikelola H. Taher bersama warga mampu menghasilkan sekitar 60 hingga 90 butir telur setiap hari. Bahkan dalam beberapa kesempatan produksinya mencapai lebih dari 100 butir telur per hari.
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, meninjau langsung peternakan tersebut dalam kegiatan Management Walk Through (MWT) pada 11 Juli 2026. Menurutnya, inovasi tersebut merupakan implementasi nyata komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
“Kami berharap kolaborasi PHM dan masyarakat dapat terus berkembang dan menginspirasi lahirnya berbagai inovasi lain yang berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Sejalan dengan semangat ESG, kami akan terus mendorong program-program yang menciptakan nilai bersama atau creating shared value bagi seluruh pemangku kepentingan,” kata Setyo.
Ia menegaskan, keberhasilan program ini menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan tidak hanya berorientasi pada aspek operasional perusahaan, tetapi juga dapat menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat.
Ke depan, H. Taher bersama warga Pulau Nubi berencana memperluas skala usaha budidaya bebek agar mampu meningkatkan produksi telur sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Head of Communication Relations & CID PHM, Achmad Krisna Hadiyanto, mengatakan program tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan lingkungan di sektor hulu migas dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Program yang awalnya bertujuan mengurangi sampah organik kini berkembang menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular yang memberikan manfaat bagi banyak pihak, mulai dari berkurangnya limbah, efisiensi operasional perusahaan hingga meningkatnya peluang usaha masyarakat di sekitar wilayah operasi,” ujarnya.
Sebagai perusahaan yang mengelola Wilayah Kerja Mahakam, PHM terus menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial dan lingkungan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, infrastruktur hingga tanggap bencana sebagai bagian dari komitmen mendukung pembangunan berkelanjutan.
Peliput: Raden






