DetailNews.id, Muara Pantuan – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) terus memperkuat komitmennya dalam penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui inovasi pengelolaan limbah organik di area operasinya.
Salah satu terobosan yang dilakukan adalah memanfaatkan sampah sisa makanan dari kafetaria pekerja sebagai pakan ternak bebek milik masyarakat di Pulau Nubi, Desa Muara Pantuan, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Inovasi tersebut tidak hanya mampu mengurangi timbunan sampah organik, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional perusahaan karena limbah yang sebelumnya harus diangkut menuju fasilitas pengelolaan kini dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
Kepala Lapangan South Processing Unit (SPU) PHM, Teddy Indrawan, menjelaskan sebelum program berjalan, seluruh sisa makanan dari kafetaria pekerja setiap hari harus diangkut menuju fasilitas pengelolaan limbah yang berjarak sekitar 30 kilometer dari lokasi operasi.
Menurut Teddy, pola tersebut membutuhkan proses pengangkutan rutin yang juga memiliki potensi risiko keselamatan dalam kegiatan operasional.
“Melalui program ini, sisa makanan yang sebelumnya dikelola sebagai limbah kini dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selain mendukung penerapan prinsip ekonomi sirkular, inisiatif ini juga mengurangi kebutuhan pengangkutan limbah dan menurunkan potensi risiko keselamatan dalam operasional. Program ini memberikan manfaat lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah,” jelasnya.
Program tersebut lahir dari hasil kajian tim HSSE SPU yang melihat peluang agar limbah organik tidak hanya berakhir di tempat pengolahan, tetapi dapat dimanfaatkan kembali menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna.
Kesempatan itu kemudian dimanfaatkan masyarakat Pulau Nubi yang tengah mengembangkan usaha budidaya bebek. Melalui kerja sama dengan PHM, seluruh sampah organik sisa makanan dari kafetaria dimanfaatkan sebagai pakan ternak sehingga menciptakan hubungan saling menguntungkan antara perusahaan dan masyarakat.
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, mengatakan program tersebut merupakan salah satu contoh implementasi prinsip ESG yang tidak berhenti pada pengelolaan lingkungan semata, tetapi juga mampu menciptakan manfaat sosial dan ekonomi.
“Kami berharap kolaborasi PHM dan masyarakat dapat terus berkembang dan menginspirasi lahirnya berbagai inovasi lain yang berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Kami akan terus mendorong program-program yang menciptakan nilai bersama bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Sementara itu, Head of Communication Relations & CID PHM, Achmad Krisna Hadiyanto, menilai keberhasilan program tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan lingkungan di industri hulu migas dapat dilakukan secara inovatif tanpa mengabaikan aspek pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, konsep ekonomi sirkular yang diterapkan PHM mampu memberikan manfaat berlapis, mulai dari pengurangan volume limbah organik, efisiensi biaya pengelolaan limbah perusahaan, hingga terciptanya peluang usaha baru bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
PHM menegaskan akan terus mendorong inovasi serupa sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan operasi hulu migas yang aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Peliput: Raden






