DetailNews.id, Tarakan – Aliansi Ormas Adat Lokal Tarakan kembali mendatangi Mapolres Tarakan untuk mempertanyakan perkembangan laporan dugaan penistaan Pancasila. Koordinator Aliansi Ormas Adat Lokal Tarakan, Ricky Febriansyah, SE., mengatakan pihaknya mendapat informasi bahwa laporan tersebut masih dalam tahap penyelidikan. Polisi kini disebut tengah memeriksa sejumlah saksi.
“Jadi tadi pertemuan hari ini, kami mendapatkan informasi bahwa laporan kita sedang berproses. Masih tahapan pemanggilan saksi-saksi,” kata Ricky, Rabu (25/8/26).
Ia menegaskan kedatangan mereka bukan untuk mendesak polisi segera menetapkan pihak tertentu sebagai tersangka. Aliansi, kata dia, menghormati proses hukum yang sedang berjalan.
“Intinya masih berproses dan kita dari teman-teman juga support dan menghargai proses hukum yang berjalan,” ujarnya.
Menurutnya, laporan tersebut berkaitan dengan dugaan pelesetan terhadap Pancasila dalam sebuah aksi demonstrasi. Dia menegaskan pihaknya tidak mempermasalahkan masyarakat menyampaikan kritik kepada pemerintah. Namun, penyampaian aspirasi dinilai tetap harus memperhatikan etika.
“Demo mengkritik pemerintah itu hal yang dilindungi dalam undang-undang. Tapi tetap dalam koridor dan ada etika penyampaian aspirasi,” katanya.
Ricky mengatakan pihaknya telah menyerahkan bukti berupa rekaman video kepada polisi. Mengenai siapa saja yang akan dimintai pertanggungjawaban, dia menyerahkan sepenuhnya kepada penyidik.
“Terkait jumlah orang itu karena kita akan berdasarkan bukti visual video. Jadi kita cuma menyerahkan video, biar nanti pihak yang berwajib yang menentukan,” jelasnya.
Dia juga meminta proses pemeriksaan dilakukan secara teliti. Menurutnya, polisi perlu memastikan terlebih dahulu apakah peristiwa tersebut memenuhi unsur pelanggaran hukum.
“Pihak kepolisian kan juga tidak serta-merta harus cepat. Barang ini harus diteliti dengan jeli apakah memang bersalah atau bagaimana,” ujarnya.
Aliansi, lanjut Ricky, tidak ingin mencampuri kewenangan penyidik. “Kita juga tidak bisa teriak-teriak mau desak pihak kepolisian. Biar mereka bekerja secara detail agar tidak salah langkah,” tegasnya.
Dari pertemuan tersebut, Ricky menyebut sudah ada sejumlah saksi yang dipanggil untuk dimintai keterangan. “Sementara ada beberapa instansi yang saya tidak disebutkan,” ungkapnya.
Ricky mengatakan inti persoalan yang dilaporkan bukan kritik terhadap pemerintah, melainkan dugaan perubahan atau pelesetan terhadap sila-sila Pancasila.
“Kalau kita berbicara soal kritik, masyarakat boleh mengkritik pemerintah. Tapi kalau sudah memplesetkan Pancasila, kemudian isi poin-poinnya diganti dengan poin-poin yang mereka buat, itu yang membuat kami merasa perlu mengambil sikap,” katanya.
Menurut dia, Pancasila memiliki kedudukan penting sebagai ideologi negara sehingga penggunaannya dalam menyampaikan aspirasi perlu diperhatikan.
“Jadi kita sebagai warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi Pancasila merasa, kalau kita membiarkan ini, seperti apa?” ujarnya.
Meski demikian, Ricky mengaku pihaknya tetap terbuka terhadap hasil pemeriksaan polisi. Dia tidak ingin langsung menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut merupakan bentuk penghinaan sebelum ada penilaian dari aparat penegak hukum.
“Kalau ternyata mereka tidak ada maksud untuk menghina, tapi lebih ke gaya atau ekspresi mereka, itu nanti kembali kepada hasil pemeriksaan,” katanya.
Dia kembali menegaskan bahwa Aliansi menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian.
“Jadi kembali lagi, kita negara hukum. Apa pun hasilnya nanti, biarlah pihak yang berwajib yang menentukan,” pungkas Ricky.
Aliansi Ormas Adat Lokal Tarakan diketahui terdiri dari sejumlah organisasi masyarakat adat dan lokal, di antaranya LPADKT, Laskar Borneo Bersatu (LBB), TAB serta PERPEDAYAK.
Peliput: Raden




