BerandaKaltaraSambut Hari Santri dan Gebyar Sholawat Insan Mandiri, Pesan Ustaz Mattori soal...

Sambut Hari Santri dan Gebyar Sholawat Insan Mandiri, Pesan Ustaz Mattori soal Keikhlasan

DetailNews.id, Tarakan – Ribuan telur Malay, lantunan sholawat, penampilan santri hingga tausiah menggema di Masjid Darul Hikmah, BTN Intraca Sektor C, Kelurahan Juata Permai, Sabtu (3/10/2026) malam.

Kemeriahan tersebut menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Santri Nasional dan Gebyar Sholawat Maulid Nabi Muhammad SAW. Ratusan jamaah, santri, wali santri hingga masyarakat turut memadati kegiatan yang berlangsung penuh nuansa religius dan kebersamaan itu.

Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara Supa’ad Hadianto, Lurah Juata Permai, serta Anggota DPRD Kota Tarakan Adyansa dan Suryadi Sangkala.

Mengusung tema “Meneladani Akhlak Nabi, Menguatkan Ukhuwah, Meraih Keberkahan Bersama Santri, Untuk Negeri”, kegiatan tersebut menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Salah satu rangkaian utama diisi tausiah oleh Ustaz Muhammad Mattori, S.H., M.Ag., Dosen STIT Ibnu Sina sekaligus Kepala Madrasah MTs Al-Anshar Tanjung Selor.

Dalam tausiahnya, Ustaz Mattori mengajak jamaah menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam menjalani kehidupan. Salah satunya dengan menjaga keikhlasan hati dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.

Menurutnya, orang yang meneladani Rasulullah SAW harus memiliki hati yang ikhlas serta mengarahkan orientasi hidup kepada rida Allah SWT dan kehidupan akhirat.

“Yang pertama, salah satu yang paling penting adalah hati yang ikhlas. Yang kedua, liman kana yarjullaha wal yaumal akhir,” ujar Ustaz Muhammad Mattori.

Orang yang berharap bertemu Allah SWT dan meyakini kehidupan akhirat akan memiliki cara pandang berbeda dalam menjalani kehidupan. Kebahagiaan tidak semata-mata diukur dari materi, pengakuan manusia maupun kenikmatan dunia.

Ustaz Muhammad Mattori, S.H., M.Ag., Dosen STIT Ibnu Sina sekaligus Kepala Madrasah MTs Al-Anshar Tanjung Selor.

“Orang yang paling dekat dengan Nabi adalah orang yang orientasi hidupnya tentang negeri akhirat, tentang pahala, tentang surga, tentang rida Allah dan balasan pada hari kiamat,” jelasnya.

Tak Perlu Sibuk Membalas Gunjingan

Ustaz Mattori mengajak jamaah melihat persoalan gunjingan dan perlakuan buruk dari sudut pandang akhirat. Seseorang yang menjadikan Allah SWT dan pahala sebagai orientasi hidup tidak perlu larut dalam keinginan membalas ketika menjadi sasaran gunjingan.

“Kalau hati kita orientasinya kepada Allah dan pahala, ketika digosipkan, Alhamdulillah, malah nambah pahala dan dosa kita berkurang,” katanya.

Ia mengingatkan jamaah mengenai hadis tentang seseorang yang datang pada hari kiamat dengan membawa banyak amal salat, zakat dan puasa. Namun, pahala tersebut dapat berpindah kepada orang lain akibat kezaliman yang pernah dilakukannya semasa hidup.

“Dia datang dengan pahala salat yang banyak, pahala zakat yang banyak, pahala puasa yang banyak. Akan tetapi dia pernah memakan harta orang lain, mencaci, mengibah dan menggosip orang lain. Maka pahala yang banyak tadi diberikan kepada orang yang dizaliminya,” tuturnya.

Karena itu, kata Ustaz Mattori tidak menjadikan penilaian dan pengakuan manusia sebagai tujuan utama dalam menjalani kehidupan.

“Baik tidak digosipkan? Tergantung orientasi hati kita. Kalau orientasinya kepada Allah dan pahala, digosipkan justru bisa menjadi tambahan pahala. Tetapi kalau orientasi kita bukan kepada akhirat, kita akan sibuk membalas ketika digosipkan,” lanjutnya.

Keteladanan Rasulullah SAW di Thaif

Kemudian ia mengangkat kisah Rasulullah SAW ketika menghadapi penolakan dan perlakuan buruk masyarakat Thaif. Saat dakwahnya ditolak, Rasulullah SAW mendapat hinaan hingga dilempari batu dan mengalami luka. Dalam kondisi tersebut, Malaikat Jibril datang menawarkan untuk menimpakan gunung kepada penduduk Thaif.

Namun, Rasulullah SAW memilih tidak membalas keburukan dengan keburukan. “Nabi tetap sabar. Nabi tetap istiqamah dalam kebaikan. Tidak ingin membalas dengan keburukan,” tambahnya.

Sikap itu menunjukkan kuatnya orientasi Rasulullah SAW kepada rida Allah SWT. Dalam kondisi penuh tekanan, Nabi justru mengadukan kelemahan dan kesulitannya kepada Allah SWT melalui doa.

“Ya Allah, aku mengadukan kelemahanku, aku mengadukan lemahnya siasatku dan kehinaanku di mata manusia,” tuturnya.

Kisah tersebut, lanjutnya, menjadi pelajaran agar umat Islam tidak mudah membalas hinaan, cacian maupun perlakuan buruk dengan keburukan. Nabi tetap sabar, karena orientasi Nabi adalah bagaimana mendapatkan rida Allah SWT.

Drama Santri hingga 2.000 Telur Malay

Selain tausiah, kemeriahan acara diisi dengan penampilan drama santri Insan Mandiri berjudul “Terbawa Arus 2” dengan pesan “Roda Kebaikan, Langkah Setiap Pilihan”.

Hadrah gabungan ibu-ibu dan santri Insan Mandiri juga tampil memeriahkan rangkaian Gebyar Sholawat dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Panitia turut menyiapkan sekitar 2.000 telur Malay sebagai bagian dari tradisi dan kemeriahan acara. Telur-telur tersebut menjadi simbol kebersamaan yang dinikmati jamaah, santri, wali santri dan masyarakat yang hadir.

Melalui kegiatan tersebut, peringatan Hari Santri di Juata Permai diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah, mempererat silaturahmi serta menumbuhkan keteladanan terhadap akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan bermasyarakat.

Peliput: Raden

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments