DetailNews.id, Cilacap – Kebutuhan ambulans di Kabupaten Cilacap tidak mengenal waktu. Saat kecelakaan terjadi, pasien harus dirujuk, atau keluarga membutuhkan kendaraan jenazah, kecepatan respons dan koordinasi menjadi bagian penting dalam pelayanan kemanusiaan.
Kondisi tersebut mendorong Paguyuban Ambulans Cilacap Raya (PACR) memperkuat komunikasi dan koordinasi antarjejaring ambulans di wilayah Kabupaten Cilacap.
Upaya itu kembali dilakukan melalui agenda silaturahmi dan koordinasi PACR yang digelar di kawasan Pantai Sidayu Indah, Desa Sidayu, Kecamatan Binangun, Rabu (7/10/2026).
Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi para pengemudi ambulans, tetapi juga membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan pelayanan di lapangan, mulai dari koordinasi antararmada, peningkatan kapasitas pengemudi, keselamatan berkendara hingga peluang membangun kemitraan dengan Pemerintah Kabupaten Cilacap.
Pengemudi ambulans memiliki peran penting dalam situasi yang membutuhkan respons cepat. Mereka tidak hanya bertugas membawa pasien menuju fasilitas kesehatan, tetapi juga harus memastikan perjalanan berlangsung aman serta berkomunikasi dengan keluarga dan pihak terkait.
Dalam kondisi tertentu, pengemudi bahkan menjadi salah satu pihak yang pertama tiba di lokasi kejadian.
PACR menilai pelayanan ambulans tidak cukup hanya bergantung pada ketersediaan kendaraan. Komunikasi, kemampuan pengemudi, keselamatan perjalanan dan koordinasi antarjejaring juga menjadi faktor penting.
Hal tersebut semakin relevan mengingat Kabupaten Cilacap memiliki wilayah yang luas, terdiri dari 24 kecamatan, 269 desa dan 15 kelurahan.
Kebutuhan ambulans pun tidak hanya muncul di wilayah perkotaan atau sekitar rumah sakit. Masyarakat di desa dan kecamatan juga membutuhkan akses transportasi kesehatan ketika menghadapi kondisi darurat.
Karena itu, jejaring antarambulans dinilai dapat membantu mempercepat respons ketika salah satu armada sedang digunakan atau berada di lokasi yang jauh.
PACR mempertemukan berbagai unsur yang bergerak dalam pelayanan ambulans dan mobil jenazah.
Jejaring tersebut mencakup ambulans rumah sakit pemerintah maupun swasta, puskesmas, klinik, ambulans siaga desa, serta ambulans yang dikelola organisasi dan komunitas masyarakat.
Sejumlah organisasi keagamaan juga tergabung dalam jejaring tersebut, di antaranya Muhammadiyah, NU, MTA, LDII, Forum Masyarakat Katolik Indonesia, Forum Gereja Indonesia, serta perwakilan umat Hindu dan Buddha.
Selain itu, sejumlah relawan, termasuk PMI, turut berada dalam jaringan PACR.
Keragaman unsur tersebut membuat PACR tidak hanya menjadi wadah bagi pengemudi ambulans, tetapi juga menjadi ruang koordinasi berbagai kelompok yang memiliki kepentingan yang sama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pengurus PACR Budhi Burhan Zain mengatakan, saat ini jejaring PACR telah memiliki ratusan anggota.
Menurutnya, paguyuban dibentuk untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi teknis di lapangan.
“Pemerintah daerah tidak mungkin bekerja sendiri dengan hanya mengandalkan Dinas Kesehatan dan puskesmas. Setiap hari selalu ada kebutuhan pelayanan, baik karena sakit maupun kecelakaan. Kehadiran Paguyuban Ambulans Cilacap Raya ini bisa menjadi mitra strategis dalam mendukung layanan tersebut,” kata Burhan.
Ia menegaskan, keberadaan PACR bukan untuk mengambil alih kewenangan pemerintah maupun tenaga kesehatan.
Sebaliknya, paguyuban ingin menjadi bagian dari jejaring pendukung pelayanan masyarakat.
“Kami tidak ingin berjalan sendiri. Pemerintah juga tidak mungkin berjalan sendiri. Relawan juga tidak bisa berjalan sendiri. Yang dibutuhkan adalah komunikasi dan koordinasi,” ujarnya.
Atas dasar itu, PACR berharap keberadaannya dapat diperkuat melalui kemitraan dengan Pemerintah Kabupaten Cilacap.
PACR berharap dapat dikukuhkan sebagai salah satu mitra strategis pemerintah daerah dalam mendukung pelayanan kemanusiaan, kebencanaan, sosial dan transportasi kesehatan.
Menurut Burhan, kemitraan tersebut bukan semata-mata mengenai pengakuan organisasi, tetapi lebih pada pembentukan pola koordinasi yang jelas ketika masyarakat membutuhkan pelayanan.
“Kalau ada kejadian, masyarakat tidak boleh bingung harus menghubungi siapa. Relawan juga harus tahu harus berkoordinasi dengan siapa. Ini yang ingin kami perkuat,” katanya.
Selain penguatan jejaring, PACR juga menaruh perhatian terhadap kapasitas para pengemudi ambulans.
Burhan menyebut latar belakang pengemudi dan relawan ambulans cukup beragam. Tidak seluruhnya memiliki latar belakang kesehatan.
Karena itu, PACR mendorong adanya pelatihan berkala agar para pengemudi memiliki pengetahuan dasar dalam menghadapi kondisi pasien selama perjalanan maupun ketika berada di lokasi kejadian.
“Kami berharap pemerintah daerah berkenan memberikan pelatihan secara berkala agar para pengemudi ambulans memiliki kemampuan dasar dalam menangani pasien di lapangan,” katanya.
Pelatihan tersebut diharapkan mencakup penanganan dasar kondisi darurat, khususnya ketika ambulans membawa korban kecelakaan.
PACR juga mendorong pelatihan keselamatan berkendara atau safety riding bagi pengemudi ambulans.
Menurut Burhan, pengemudi menghadapi dua tuntutan sekaligus ketika menjalankan tugas, yakni tiba secepat mungkin dan tetap menjaga keselamatan pasien, pendamping, dirinya sendiri maupun pengguna jalan lainnya.
“Cepat saja tidak cukup. Harus cepat dan aman,” tegasnya.
PACR juga menyoroti aspek kesejahteraan para pengemudi ambulans yang tergabung dalam jejaring tersebut.
Para pengemudi dituntut siap memberikan pelayanan ketika sewaktu-waktu dibutuhkan, termasuk pada kondisi dan waktu yang tidak terduga.
Karena itu, PACR berharap pemerintah daerah dapat membuka ruang dukungan bagi kesejahteraan pengemudi yang terdaftar dalam jejaring.
Dukungan tersebut, menurut Burhan, dapat dijajaki melalui program yang relevan pada perangkat daerah seperti Dinas Sosial maupun Dinas Kesehatan, program CSR perusahaan dan sumber dukungan lainnya sesuai ketentuan.
“Kalau kita ingin pelayanan kemanusiaan semakin baik, orang-orang yang menjalankan pelayanan itu juga harus diperhatikan,” ujarnya.
Pertemuan di Pantai Sidayu Indah menjadi bagian dari upaya PACR menyatukan berbagai unsur yang selama ini bergerak dalam pelayanan ambulans di Cilacap.
PACR menegaskan tidak ingin menggantikan peran pemerintah, rumah sakit, puskesmas, tenaga medis maupun lembaga penanggulangan bencana.
Paguyuban justru ingin memperkuat komunikasi antaraktor yang berada di lapangan.
Harapannya, ketika masyarakat membutuhkan ambulans, informasi dapat diteruskan dengan cepat kepada armada yang tersedia dan koordinasi dengan fasilitas tujuan dapat dilakukan secara lebih baik.
“Harapan kami sederhana. Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, kita semua bisa bergerak bersama,” kata Burhan.
Dengan penguatan jejaring tersebut, PACR berharap pelayanan transportasi kemanusiaan di Kabupaten Cilacap dapat berlangsung lebih cepat, aman dan terpadu.
Sebab, ketika panggilan darurat datang, setiap menit dapat menjadi sangat berarti bagi pasien maupun keluarga yang membutuhkan pertolongan.
Peliput : Sani




