BerandaEdukasiAkademisi Ingatkan Ancaman Karhutla, Dosen UBT: Jejak El Niño Terbaca di Lanskap...

Akademisi Ingatkan Ancaman Karhutla, Dosen UBT: Jejak El Niño Terbaca di Lanskap Kaltara

DetailNews.id, Tarakan — Fenomena El Niño tidak hanya berdampak pada meningkatnya suhu dan berkurangnya curah hujan. Perubahan kondisi tersebut juga meninggalkan jejak pada lanskap yang dapat menjadi indikator munculnya tekanan kekeringan hingga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hal itu diungkapkan Mohammad Wahyu Agang, S.Hut., M.P., dosen sekaligus Kepala Laboratorium Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan (UBT), yang saat ini tengah melanjutkan penelitian terkait respons lanskap terhadap fenomena El Niño.

Menurut Wahyu, pola perubahan kondisi lanskap yang diamati dalam rekaman tujuh periode pada rentang 2021-2025 menunjukkan adanya indikasi wilayah yang mengalami tekanan kekeringan.

“Pola ini bisa mengindikasikan wilayah yang mengalami tekanan kekeringan dan berpotensi berkaitan dengan kebakaran. Ini adalah jejak respons lanskap terhadap El Niño dalam rekaman tujuh periode, 2021-2025,” kata Wahyu, Sabtu (5/9/2026).

Ia menjelaskan, salah satu manifestasi dari kondisi tersebut adalah munculnya kebakaran, seperti yang terjadi di sejumlah wilayah saat ini.

Meski demikian, Wahyu menilai fenomena tersebut tidak semata-mata harus dilihat sebagai persoalan kebakaran yang terjadi ketika musim kering. Kondisi lanskap perlu dipantau sejak awal agar potensi kerawanan dapat diketahui sebelum berkembang menjadi bencana.

“Ini yang masih saya lanjutkan penelitiannya,” ujarnya kepada DetailNews.id.

Menurut dia, hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi bahan rekomendasi bagi para pemangku kepentingan dalam memperkuat strategi adaptasi dan mitigasi menghadapi perubahan kondisi iklim.

Terlebih, Kalimantan Utara masih memiliki modal ekologis yang relatif lebih baik dibandingkan sejumlah daerah lain, terutama karena kawasan hutannya masih cukup luas.

“Kita mengingat potensi kawasan hutan di Kaltara masih cenderung lebih baik saat ini dibandingkan daerah lain,” jelasnya.

Namun, kondisi tersebut bukan berarti Kaltara terbebas dari ancaman. Justru, keberadaan kawasan hutan yang masih relatif baik perlu dijaga melalui kebijakan yang berbasis data, pemantauan kondisi lanskap dan langkah pencegahan yang dilakukan lebih dini.

Wahyu mendorong agar hasil pemantauan terhadap kekeringan dan respons lanskap dapat diintegrasikan ke dalam sistem mitigasi karhutla. Dengan begitu, penanganan tidak hanya dilakukan ketika api sudah muncul, tetapi juga melalui langkah antisipasi terhadap wilayah yang mulai menunjukkan tekanan kekeringan.

“Rekomendasinya agar para pemangku kepentingan memperkuat upaya adaptasi dan mitigasi lebih baik ke depannya,” katanya.

Ia menilai pendekatan tersebut penting mengingat perubahan iklim dan fenomena El Niño dapat kembali terjadi. Pengalaman dari periode sebelumnya, kata dia, seharusnya menjadi pembelajaran untuk membangun sistem pengelolaan lingkungan yang lebih adaptif.

Dengan penelitian yang masih terus dikembangkan, pemetaan jejak respons lanskap terhadap El Niño diharapkan dapat membantu pemerintah dan pemangku kepentingan mengidentifikasi wilayah yang lebih rentan sekaligus menentukan prioritas pencegahan karhutla.

Bagi Kaltara, menjaga hutan bukan hanya soal mempertahankan tutupan vegetasi, tetapi juga bagian dari strategi menghadapi risiko iklim dan mencegah kebakaran yang dampaknya dapat meluas ke lingkungan, kesehatan, hingga aktivitas masyarakat.

Peliput: Raden

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments