DetailNews.id, Tarakan – Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kalimantan Utara terus memperluas akses kerja luar negeri bagi generasi muda melalui program SMK Go Global. Program ini tidak hanya membuka peluang bekerja secara legal di berbagai negara, tetapi juga menyiapkan pelatihan kompetensi dan kemampuan bahasa asing sesuai kebutuhan negara tujuan.
Program tersebut disosialisasikan dalam Seminar Gerakan Nasional Migran Aman melalui Pengembangan Program SMK Go Global yang digelar Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Kalimantan Utara di Auditorium Gentamu BPK Perwakilan Kaltara, Tarakan, Kamis (30/7/2026).Mewakili Kepala BP3MI Kalimantan Utara Kombes Pol. Andi M. Ichsan, Ketua Tim Kelembagaan dan Kerja Sama BP3MI Kaltara, Usman Afwan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menyebarluaskan informasi mengenai peluang kerja ke luar negeri yang aman, legal, dan sesuai prosedur.
“Pada momen yang sangat baik ini kami membawa misi penyebarluasan informasi peluang kerja luar negeri melalui program SMK Go Global. Hari ini kami berkolaborasi dengan Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Utara untuk menghadirkan para peserta seminar,” kata Usman kepada DetailNews.id.
Ia menjelaskan, BP3MI menyiapkan program peningkatan kapasitas bagi lulusan SMK yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar kerja internasional.
Para peserta nantinya akan mendapatkan pelatihan teknis, peningkatan kompetensi, hingga pembelajaran bahasa asing yang disesuaikan dengan negara tujuan penempatan.
“Kita membuat program peningkatan kapasitas bagi anak-anak kita, khususnya alumni SMK sesuai jurusan dan jabatan yang tersedia di luar negeri. Mereka akan mendapatkan pelatihan teknis maupun bahasa asing sesuai dengan job dan negara tujuan penempatan,” ujarnya.
Usman mengungkapkan, setiap jurusan memiliki peluang kerja yang berbeda-beda. Sebagai contoh, lulusan bidang perhotelan atau housekeeping memiliki peluang besar bekerja di Turki.
Sementara lulusan SMK bidang perikanan, seperti dari SMKN 3 Tarakan, diproyeksikan dapat mengisi kebutuhan tenaga kerja di Jepang.
“Nanti pada saat sosialisasi akan kami buka semua informasi mengenai negara tujuan, jenis pekerjaan, serta jurusan yang sesuai. Misalnya housekeeping memiliki peluang di Turki, sedangkan lulusan perikanan kami proyeksikan ke Jepang,” jelasnya.
Kemampuan bahasa menjadi salah satu syarat utama bagi calon pekerja migran. Karena itu, BP3MI akan memfasilitasi pelatihan bahasa sesuai negara tujuan, seperti bahasa Jepang maupun bahasa Korea, disertai sertifikasi kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Kalau tujuannya Korea tentu kita siapkan bahasa Korea. Semua tetap berbasis kompetensi dan sertifikasi agar mereka benar-benar siap bersaing di pasar kerja internasional,” katanya.
Usman menegaskan Kaltara bukan termasuk daerah kantong pekerja migran Indonesia, melainkan lebih dikenal sebagai wilayah transit menuju Malaysia, terutama melalui Kabupaten Nunukan.
Kondisi tersebut membuat BP3MI lebih fokus melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mencegah keberangkatan pekerja migran secara ilegal.
“Yang kami antisipasi adalah saudara-saudara kita dari luar daerah, terutama dari Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur, yang singgah di Tarakan atau Nunukan kemudian diberangkatkan secara ilegal ke Malaysia,” ujarnya.
Kasus yang paling banyak dialami pekerja migran Indonesia di Malaysia masih berkaitan dengan persoalan keimigrasian, seperti tidak memiliki dokumen resmi maupun overstay atau melebihi masa izin tinggal.
“Biasanya mereka ditangkap dalam operasi imigrasi Malaysia karena dokumen tidak lengkap atau masa tinggalnya sudah habis tetapi tetap bekerja di sana,” jelasnya.
Sepanjang tahun 2026, BP3MI Kaltara telah memfasilitasi pemulangan sekitar 200 pekerja migran bermasalah dari Malaysia. Namun, sekitar 600 orang lainnya memilih tidak kembali ke daerah asal setelah dipulangkan.
“Mereka kami arahkan melalui Dinas Tenaga Kerja untuk bekerja di perusahaan-perusahaan perkebunan di Nunukan. Selain itu kami juga mendorong mereka menjadi pelaku usaha mandiri,” katanya.
BP3MI juga menjalankan program pemberdayaan bagi purna pekerja migran melalui pelatihan kewirausahaan. Saat ini terdapat sekitar 40 purna PMI yang menjadi binaan BP3MI Kaltara dan memperoleh pelatihan serta bantuan usaha budidaya rumput laut.
Usman turut mengapresiasi deklarasi Gerakan Kapal Migran yang diinisiasi PW Pemuda Muhammadiyah Kaltara.
Menurutnya, kehadiran komunitas tersebut akan memperkuat kolaborasi pemerintah dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kami membutuhkan mitra, baik organisasi masyarakat maupun komunitas. Kehadiran Kapal Migran sangat membantu memperkuat sinergi kami dalam melindungi pekerja migran Indonesia,” katanya.
Ia berharap para relawan Gerakan Kapal Migran dapat menjadi agen informasi di tengah masyarakat, khususnya di Kota Tarakan yang selama ini menjadi salah satu titik transit calon pekerja migran sebelum menuju Kabupaten Nunukan dan menyeberang ke Malaysia.
“Kami ingin teman-teman menjadi agen edukasi. Jika ada warga dari luar daerah yang singgah di Tarakan dan diduga akan diberangkatkan secara ilegal, mereka bisa memberikan informasi kepada kami sehingga pencegahan dapat dilakukan lebih cepat,” pungkasnya.
Peliput: Raden






