DetailNews.id, Bolmong – Semangat keberagaman mewarnai penutupan peringatan HUT ke-73 Desa Ikhwan yang digelar di GOR Desa Ikhwan, Jumat (12/6/2026) malam, melalui berbagai kegiatan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang agama.
Kegiatan tersebut dihadiri pemerintah desa, masyarakat, peserta lomba, serta sejumlah tamu undangan, di antaranya Anggota DPRD Bolaang Mongondow Amri Modeong, SIP, Staf Khusus Bupati, Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Bolmong Kamsiran Yusuf, S.Pd.I., M.Pd.I., pejabat Kementerian Agama Bolsel Maksum Maspeke, S.Ag., M.HI., tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, perangkat desa, dan anggota BPD.
Acara diawali dengan penyampaian laporan pertanggungjawaban oleh Ketua Panitia HUT ke-73 Desa Ikhwan, Suardi K. Baderan. Dalam laporannya, Suardi mengungkapkan bahwa peringatan hari jadi desa tahun ini menghadirkan 13 cabang lomba yang diikuti 94 peserta.
Menurutnya, pelaksanaan kegiatan didukung dana APBDes sebesar Rp4 juta, sementara kebutuhan lainnya dipenuhi melalui swadaya masyarakat dan kontribusi putra-putri Desa Ikhwan yang sukses di berbagai daerah perantauan.
Menariknya, perayaan HUT kali ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang memperkuat nilai-nilai toleransi dan kebersamaan antarumat beragama.
Meski mayoritas penduduk Desa Ikhwan beragama Islam, panitia tetap memberikan ruang yang sama kepada masyarakat dari agama lain. Sejumlah kegiatan seperti lomba bintang vokalia umat Kristiani dan cerdas cermat Alkitab turut masuk dalam rangkaian perlombaan yang digelar.
Suardi menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai yang telah diwariskan para pendiri desa sejak awal berdirinya pada tahun 1953.
“Para tokoh terdahulu telah mengajarkan pluralisme dan hidup dalam kemajemukan. Kami ingin membuktikan bahwa toleransi bukan hanya kata-kata, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kerukunan yang ada saat ini harus menjadi warisan bagi anak cucu kita,” ujarnya.
Momentum HUT desa, lanjut Suardi, menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali pentingnya persatuan dan persaudaraan antarwarga dalam menjaga kebhinekaan.
Semangat tersebut tercermin dalam falsafah lokal yang terus dijunjung masyarakat Desa Ikhwan, yakni Ma Sawa Sawangan, Ma Ele-Eleangan, Wo Ma Leo-Leosan. Mototompiaan, Mototabian, bo Mototanoban, Pakatuan wo Pakalewiran Kita Nuaya.
Mantan anggota DPRD Bolmong itu juga menyampaikan apresiasi kepada Penjabat Sangadi Ikhwan yang telah memberikan kepercayaan kepadanya memimpin panitia perayaan HUT desa yang untuk pertama kalinya dilaksanakan secara besar dan terstruktur.
Sementara itu, Penjabat Sangadi Ikhwan, Arman Robot, S.Kom., mengatakan bahwa pelaksanaan HUT desa bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk penghormatan kepada para pemimpin dan pendiri desa yang telah meletakkan fondasi pembangunan hingga saat ini.
Ia mengingatkan pentingnya menghargai sejarah sebagaimana pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, tentang pentingnya tidak melupakan sejarah.
“Desa Ikhwan memiliki banyak momentum bersejarah yang harus terus diingat. Karena itu, setelah upacara HUT kami melakukan ziarah ke makam para tokoh pendiri desa sebagai bentuk penghormatan dan ucapan terima kasih atas jasa mereka,” kata Arman.
Arman juga memberikan apresiasi kepada seluruh panitia yang mampu menyukseskan berbagai kegiatan meski di tengah keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi.
Menurutnya, semangat gotong royong masyarakat menjadi kekuatan utama sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik.
Rangkaian peringatan HUT ke-73 Desa Ikhwan sendiri belum sepenuhnya berakhir. Panitia masih akan menggelar kegiatan istiqosah dan doa bersama yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu malam sebagai penutup seluruh rangkaian perayaan.
Kegiatan tersebut rencananya akan menghadirkan sejumlah kiai dari Provinsi Gorontalo dan Kota Manado. Pemerintah desa berharap masyarakat dapat kembali hadir untuk bersama-sama memanjatkan doa demi kemajuan dan keberkahan Desa Ikhwan di masa mendatang.
Di usia ke-73 tahun, Desa Ikhwan tidak hanya merayakan perjalanan panjangnya. Lebih dari itu, desa ini menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan, dan toleransi dapat tumbuh menjadi warisan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Peliput : Dayat






