DetailNews.id, Tana Tidung – Upaya menjaga kelestarian mangrove di Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara (Kaltara), turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir. Melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), kelompok perempuan mulai mengembangkan usaha kerajinan dan olahan pangan lokal, sementara petambak diperkenalkan dengan sistem budidaya perikanan yang terintegrasi dengan mangrove atau silvofishery.
Program ini tidak hanya mendorong pelestarian lingkungan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan dan membangun sumber penghasilan. Meski demikian, menjelang berakhirnya program, warga berharap pendampingan tetap berlanjut agar usaha dan kegiatan yang telah dirintis dapat berkembang secara mandiri.
Salah satu kelompok yang merasakan manfaat program tersebut adalah Kelompok Usaha Kerajinan Tangan Inggilad Taka di Desa Tengku Dacing, Kecamatan Tana Lia. Kelompok yang digerakkan kaum perempuan ini mendapatkan pendampingan serta bantuan peralatan produksi melalui skema matching grant.
Perwakilan Kelompok Usaha Inggilad Taka, Mita, mengatakan kehadiran M4CR memberikan ruang bagi kelompoknya untuk mengembangkan usaha sekaligus membuka peluang tambahan penghasilan bagi para anggota.
Dia menceritakan, sebelum mendapatkan pendampingan dan bantuan, kelompoknya masih berupaya menjalankan kegiatan usaha secara mandiri. Kondisi tersebut terkadang membuat sebagian anggota kurang bersemangat karena aktivitas produksi belum memberikan penghasilan.
Namun, setelah mendapatkan dukungan M4CR, semangat anggota kelompok kembali tumbuh. Mereka memiliki kesempatan mengembangkan produk sekaligus memperoleh tambahan pendapatan dari kegiatan usaha.
“Melalui kehadiran M4CR ini kami sangat terbantu. Program ini memberikan wadah pendampingan kepada kelompok. Sebelumnya kami masih berdiri sendiri, bahkan terkadang ada ibu-ibu yang tidak mau bekerja karena belum mendapatkan penghasilan. Tetapi dengan adanya bantuan matching grant ini, ibu-ibu kembali bersemangat karena bisa mendapatkan penghasilan tambahan,” ujar Mita.
Dukungan yang diterima kelompok Inggilad Taka salah satunya berupa mesin 3 in 1. Peralatan tersebut diharapkan dapat membantu mengembangkan variasi produk dan meningkatkan kapasitas produksi.
Selama ini, kelompok tersebut menghasilkan berbagai produk kerajinan dan olahan pangan lokal. Mulai dari kipas batik khas Tana Tidung, Virgin Coconut Oil (VCO), nata de coco, serundeng, sambal blondo, hingga sejumlah produk lainnya.
Mita mengatakan, produk kipas batik buatan kelompoknya bahkan telah dipasarkan ke luar desa. Pemasaran dilakukan melalui sejumlah wadah, termasuk Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), serta jaringan pembeli dari masyarakat.
M4CR juga pernah memfasilitasi pemasaran produk sehingga hasil kerajinan dan olahan kelompoknya memiliki kesempatan menjangkau pasar yang lebih luas.

Meski begitu, perjalanan mengembangkan usaha tidak sepenuhnya mudah. Kondisi geografis Desa Tengku Dacing yang cukup terpencil menjadi salah satu tantangan dalam distribusi dan pemasaran produk.
Untuk mencapai wilayah tersebut, masyarakat harus melewati jalur sungai kecil. Keterbatasan akses ini terkadang menjadi pertimbangan ketika kelompok hendak membawa produk ke luar daerah.
Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para anggota untuk terus mengembangkan usaha.
“Tantangan ini tidak mengecilkan hati kami untuk membuat produk ini bisa sampai keluar. Kami selalu berkonsultasi dengan pendamping,” katanya.
Bagi Mita, pendampingan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan usaha. Karena itu, menjelang berakhirnya program M4CR, dia berharap pembinaan terhadap kelompok masyarakat tetap dilanjutkan.
Menurutnya, kelompok masih membutuhkan arahan untuk mengevaluasi perkembangan produk, memperluas pemasaran, hingga meningkatkan kemampuan produksi.
Dia berharap bantuan peralatan dan pengetahuan yang telah diberikan tidak berhenti setelah program selesai, tetapi menjadi modal bagi kelompok untuk terus berkembang.
“Harapan saya, dengan apa yang telah diberikan M4CR kepada kami, kelompok tetap melakukan pengembangan. Jangan sampai ketika program M4CR berhenti, kami juga ikut berhenti. Semoga apa yang sudah diberikan bisa terus kami kembangkan ke depannya,” harapnya.
Semangat membangun kemandirian juga terlihat pada Kelompok Masyarakat Tumas Abadijaya. Salah satu anggotanya, Anas Tahir, mengatakan program M4CR memberikan kesempatan bagi petambak untuk mengenal dan mulai menerapkan teknik silvofishery.
Sistem tersebut mengintegrasikan kegiatan budidaya perikanan dengan penanaman mangrove dalam pengelolaan kawasan tambak. Pendekatan ini diharapkan dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga fungsi ekologis ekosistem pesisir.
Namun, bagi kelompoknya, penerapan silvofishery masih tergolong baru. Anas mengaku para petambak masih membutuhkan bimbingan agar memahami tahapan pengelolaan dan penerapan teknik tersebut secara tepat.
Dia khawatir, jika pendampingan langsung terhenti setelah program berakhir, masyarakat yang baru mulai belajar akan kesulitan melanjutkan kegiatan secara mandiri.
“Kami sangat berharap M4CR ini tetap berlanjut. Terus terang, dengan teknik silvofishery ini kami petambak masih pemula dan baru pertama kali mencoba. Kalau baru belajar kemudian langsung ditinggalkan, kami khawatir tidak tahu bagaimana melanjutkannya. Harapannya tetap ada pendampingan agar kami bisa memahami keberlanjutan teknik silvofishery ini,” ungkap Anas.
Harapan Mita dan Anas menggambarkan bahwa pemberdayaan masyarakat pesisir membutuhkan proses yang berkelanjutan. Bantuan peralatan, pengembangan keterampilan, akses pemasaran, hingga pengenalan metode budidaya ramah lingkungan menjadi bekal awal bagi masyarakat untuk membangun kemandirian.
Pada akhirnya, keberhasilan program pemberdayaan tidak hanya diukur dari luas kawasan mangrove yang dipulihkan atau bantuan yang telah disalurkan. Lebih dari itu, keberhasilan juga tercermin dari kemampuan masyarakat menjaga ekosistem sekaligus mengembangkan sumber penghidupan setelah program berakhir.
Melalui penguatan ekonomi masyarakat dan pengelolaan mangrove yang berkelanjutan, harapan tumbuh agar kawasan pesisir Tana Tidung tetap terjaga dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Peliput: Raden




