DetailNews.id, Tarakan – Minat masyarakat Kalimantan Utara terhadap pendidikan tinggi berbasis jarak jauh terus meningkat. Universitas Terbuka (UT) Tarakan mencatat lonjakan signifikan jumlah mahasiswa baru pada semester ini, bahkan meningkat hampir tiga kali lipat dibanding periode sebelumnya.
Hal itu disampaikan Direktur UT Tarakan, Jeji Muhamad Najib, S.Kom., usai membuka kegiatan Layanan Pendukung Kesuksesan Belajar Jarak Jauh (LPKBJJ) dan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) 2026 di Gedung BPK Perwakilan Kalimantan Utara, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 350 calon mahasiswa baru dan turut dihadiri Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes.
“Yang sudah berhasil mengonversi pendaftaran menjadi Nomor Induk Mahasiswa (NIM) sebanyak 1.885 orang dari sekitar 2.440 pendaftar. Ini meningkat hampir tiga kali lipat dibanding semester sebelumnya yang hanya sekitar 600 mahasiswa baru,” ujar Jeji.
Meski demikian, proses registrasi masih terus berlangsung. Hingga saat ini baru sekitar 800 mahasiswa yang telah menyelesaikan registrasi mata kuliah, sementara sisanya masih dalam tahap verifikasi dokumen dan validasi data.
Secara keseluruhan, jumlah mahasiswa UT Tarakan kini mencapai 7.311 orang yang tersebar di seluruh Kaltara hingga Sabah, Malaysia. Dalam waktu dekat, UT Tarakan juga bersiap memperluas layanan ke Brunei Darussalam.
“Sebentar lagi Brunei juga akan masuk dalam wilayah layanan kami. Jadi akses pendidikan semakin luas,” katanya.
Jeji menilai meningkatnya jumlah mahasiswa muda tidak lepas dari perubahan pola belajar masyarakat sejak pandemi COVID-19. Menurutnya, generasi muda kini semakin terbiasa dengan sistem pembelajaran daring yang dinilai sama efektifnya dengan kuliah tatap muka.
“Mereka merasa belajar daring sama efektifnya dengan tatap muka. Anak-anak sekarang senang belajar secara fleksibel, bisa kuliah sambil bekerja atau melakukan aktivitas lain,” jelasnya.
Ia menambahkan, sistem pembelajaran UT juga dirancang untuk menjangkau masyarakat di wilayah terpencil. Mahasiswa yang mengalami kendala jaringan internet tetap dapat mengikuti tutorial secara tatap muka di daerah masing-masing.
“Kalau ada wilayah yang sulit jaringan, kami tetap melaksanakan tutorial tatap muka. Di KTT, Malinau dan beberapa daerah lainnya tetap ada pertemuan langsung,” ujarnya.
UT Tarakan juga terus memperluas jangkauan layanan hingga ke wilayah perbatasan. Sosialisasi telah dilakukan di Nunukan, Malinau, Krayan Selatan hingga Sabah, Malaysia. Saat ini keterwakilan mahasiswa di tingkat kecamatan di Kaltara telah mencapai lebih dari 90 persen.
“Kami ingin memastikan masyarakat di wilayah terjauh juga mendapatkan kesempatan kuliah. Kalau di suatu daerah belum ada tenaga pengajar yang sesuai, kami kirim dosen dari Tarakan agar kualitas pembelajaran tetap terjaga,” kata Jeji.
Sementara itu, Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul, M.Kes. menilai kehadiran Universitas Terbuka menjadi solusi nyata untuk meningkatkan angka partisipasi pendidikan tinggi di Kaltara yang masih tergolong rendah.
Khairul mengungkapkan, berdasarkan data Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi, capaian nasional saat ini baru sekitar 32,98 persen, sedangkan Kalimantan Utara masih berada di angka 27,93 persen.
“Artinya masih banyak anak-anak usia kuliah yang seharusnya melanjutkan pendidikan tinggi, tetapi belum bisa mengaksesnya,” katanya.
Menurut Khairul, ada dua persoalan utama yang menyebabkan rendahnya angka tersebut, yakni faktor geografis dan kondisi ekonomi keluarga.
“Anak-anak yang tinggal di pedalaman menghadapi tantangan yang lebih besar dibanding mereka yang tinggal di perkotaan. Jarak menjadi hambatan utama. Selain itu, banyak lulusan SMA memilih langsung bekerja untuk membantu ekonomi keluarga sehingga tidak melanjutkan kuliah,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai sistem pembelajaran yang diterapkan Universitas Terbuka mampu menjawab dua persoalan tersebut. Mahasiswa tetap dapat belajar dari daerah asalnya tanpa harus meninggalkan pekerjaan atau keluarganya.
“Mereka tidak harus setiap hari datang ke kampus. Bisa belajar dari kampungnya menggunakan internet atau modul pembelajaran. Pertemuan tatap muka hanya beberapa kali dalam satu semester sehingga tetap bisa bekerja sambil kuliah. Biaya kuliahnya juga relatif lebih terjangkau,” katanya.
Khairul juga mengapresiasi perubahan komposisi mahasiswa baru UT Tarakan. Jika sebelumnya mayoritas mahasiswa merupakan pekerja, kini sekitar 70 persen mahasiswa baru merupakan lulusan baru SMA dan SMK.
“Ini perkembangan yang menggembirakan. Semakin banyak lulusan sekolah yang langsung melanjutkan kuliah. Harapan kita, angka partisipasi pendidikan tinggi di Kaltara terus meningkat,” ucapnya.
Ia menegaskan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi syarat utama agar daerah mampu bersaing dengan wilayah maupun negara lain.
“Kalau dibandingkan negara tetangga, kita masih tertinggal. Malaysia APK perguruan tingginya sekitar 43 persen, Thailand hampir 50 persen, sedangkan Singapura sudah mencapai sekitar 91 persen. Kalau kita ingin Kaltara menjadi daerah yang maju, maka investasi terbesar yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan,” tegas Khairul.
Kegiatan OSMB merupakan rangkaian awal dari program LPKBJJ yang terdiri atas empat tahapan, yakni Orientasi Studi Mahasiswa Baru, latihan pendukung kesuksesan belajar jarak jauh, workshop tugas, dan klinik ujian sebagai bekal mahasiswa baru dalam menjalani perkuliahan di Universitas Terbuka.
Peliput: Raden






