DetailNews.id, Jakarta – Bagi jutaan masyarakat Indonesia, membayar belanja di warung, pasar, atau kedai kopi kini cukup dengan memindai QR Code. Mengirim uang ke rekening bank lain pun hanya membutuhkan hitungan detik dengan biaya yang jauh lebih murah. Kemudahan yang kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat itu lahir dari transformasi besar sistem pembayaran nasional yang dipimpin Perry Warjiyo.
Kini, perjalanan panjang tokoh di balik transformasi tersebut resmi berakhir. Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Minggu (26/7/2026) karena alasan pribadi, sekaligus menutup lebih dari 42 tahun pengabdiannya di bank sentral.
Kepergian Perry menandai berakhirnya kiprah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Bank Indonesia. Selama memimpin BI, ia dikenal sebagai arsitek transformasi sistem pembayaran nasional yang membawa Indonesia memasuki era transaksi digital yang lebih cepat, aman, efisien, dan inklusif.
Nama Perry Warjiyo hampir selalu dikaitkan dengan berbagai kebijakan strategis yang mengubah wajah sistem keuangan Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, Bank Indonesia tidak hanya menjaga stabilitas moneter dan nilai tukar rupiah, tetapi juga mempercepat digitalisasi pembayaran melalui peluncuran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan Bank Indonesia Fast Payment (BI-FAST).
Perry lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 1959. Ia menempuh pendidikan Sarjana di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), kemudian melanjutkan studi ke Iowa State University, Amerika Serikat. Di kampus tersebut, ia meraih gelar Master of Science pada 1989 dan doktor (Ph.D.) bidang ekonomi pada 1991.
Kariernya di Bank Indonesia dimulai pada 1984. Selama lebih dari empat dekade, Perry dipercaya menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari bidang riset ekonomi, kebijakan moneter, hubungan internasional, hingga kebijakan makroprudensial.
Rekam jejaknya di tingkat internasional juga sangat kuat. Pada periode 2007–2009, ia dipercaya menjadi Direktur Eksekutif International Monetary Fund (IMF) yang mewakili 13 negara dalam South-East Asia Voting Group. Pengalaman tersebut semakin mengukuhkan reputasinya sebagai salah satu ekonom Indonesia yang diperhitungkan di tingkat global.
Sekembalinya ke Indonesia, Perry diangkat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia pada 2013. Lima tahun kemudian, tepatnya pada 2018, ia dipercaya menjadi Gubernur BI menggantikan Agus Martowardojo.
Masa kepemimpinannya diwarnai berbagai tantangan besar, mulai dari perlambatan ekonomi global, gejolak pasar keuangan, hingga pandemi Covid-19. Dalam situasi penuh tekanan itu, Perry dikenal konsisten menjaga stabilitas ekonomi melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, serta penguatan koordinasi dengan pemerintah guna menjaga daya tahan ekonomi nasional.
Namun, warisan yang paling membekas dari kepemimpinannya adalah percepatan digitalisasi sistem pembayaran nasional.
Pada 2019, Bank Indonesia meluncurkan QRIS sebagai standar nasional pembayaran berbasis kode QR. Kehadiran QRIS menyatukan berbagai platform pembayaran digital dalam satu standar, sehingga masyarakat dan pelaku usaha cukup menggunakan satu kode QR untuk menerima pembayaran dari berbagai aplikasi.
Inovasi tersebut membawa perubahan besar bagi dunia usaha, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Jutaan pedagang pasar, warung makan, toko kelontong, hingga perusahaan besar kini memanfaatkan QRIS sebagai metode pembayaran yang praktis, aman, dan efisien.
Tak berhenti di sana, Perry juga menjadi sosok penting di balik lahirnya BI-FAST sebagai implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025. Sistem pembayaran ritel nasional itu resmi diluncurkan pada 21 Desember 2021.
Melalui BI-FAST, layanan transfer antarbank diproses secara real time dengan biaya maksimal hanya Rp2.500 per transaksi. Sistem tersebut menghadirkan layanan transfer yang lebih cepat, aman, efisien, dan tersedia hampir sepanjang waktu.
Kehadiran QRIS dan BI-FAST menjadi tonggak penting dalam perjalanan transformasi digital Indonesia. Kedua inovasi itu tidak hanya meningkatkan efisiensi transaksi masyarakat, tetapi juga memperluas inklusi keuangan hingga menjangkau jutaan pelaku UMKM di berbagai daerah.
Selain mendorong digitalisasi sistem pembayaran, Perry juga dikenal konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan moneter, penguatan cadangan devisa, stabilisasi pasar keuangan, serta sinergi erat dengan pemerintah dalam menghadapi dinamika ekonomi global.
Kini, setelah lebih dari 42 tahun mengabdi, Perry Warjiyo menutup babak panjang pengabdiannya di Bank Indonesia. Meski tak lagi memimpin bank sentral, jejak kebijakan yang ditinggalkannya akan terus hidup dalam setiap transaksi digital masyarakat, mulai dari pembayaran menggunakan QRIS hingga transfer instan melalui BI-FAST, sebuah warisan yang menjadi fondasi penting bagi sistem pembayaran modern dan ketahanan ekonomi Indonesia di masa depan.
Peliput: Raden






