DetailNews.id, Dairi – Sesuai jadwal, hari ini saya kembali ke Sidikalang setelah mengikuti rapat bersama Kementerian Dalam Negeri pada Senin–Selasa, 4–5 Mei 2026. Namun, Selasa sore kemarin, Bupati Dairi dan Ketua DPRD menerima undangan rapat di Kementerian ATR/BPN, Jakarta, yang dijadwalkan Kamis, 7 Mei 2026. Rasanya lebih efektif menunggu di Jakarta.
Di sela waktu itu, hati saya tergerak menulis artikel ini. Rutinitas mingguan menulis artikel inspiratif pun saya “langgar”. Baru tiga hari lalu saya memposting tulisan berjudul “Kartini, Kartono, dan Kartana”. Responsnya cukup hangat, dengan sekitar 400 tanda suka dan komentar. Ditambah lagi satu unggahan video koor ibadah Minggu HKBP Perkembangan yang mendapat 1.708 apresiasi netizen.
Kami, generasi Baby Boomers yang lahir pada 1946–1964, dikenal sebagai generasi pekerja keras, bahkan cenderung workaholic. Sebelum kami ada Generasi Silent, generasi yang lahir di masa penjajahan dan perang kemerdekaan. Didikan keras dari generasi itulah yang tampaknya membentuk kami menjadi pribadi yang tahan banting.
Dalam obrolan santai, kami kadang bercanda bahwa generasi Baby Boomers adalah generasi yang paling lengkap “merasakan dimarahi” — oleh orang tua, oleh anak, bahkan kadang oleh cucu. Namun di balik itu, kami merasa menjadi generasi yang beruntung karena mengalami begitu banyak perubahan besar dalam kehidupan, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, baik yang berevolusi perlahan maupun yang berkembang secara revolusioner.
Saya masih ingat suasana mencekam saat peristiwa G30S/PKI. Orang tua menjemput kami dari sekolah dengan wajah penuh kecemasan. Masa itu juga diwarnai kontraksi ekonomi yang berat. Sebelum makan nasi, kami lebih dulu terbiasa makan ubi atau jagung. Ikan asin menjadi menu andalan, dan kami bersyukur bila ada tambahan setengah telur serta sayur daun singkong atau daun pepaya.
Seiring waktu, ekonomi membaik. Kesempatan kuliah di universitas semakin terbuka, dan setelah lulus, mencari pekerjaan relatif lebih mudah.
Dalam bidang teknologi, sejak SMA kami sudah mengenal radio tabung. Ukurannya besar, hampir seperti microwave kecil, dengan konsumsi listrik mencapai 120 watt. Disebut radio tabung karena menggunakan tabung elektronik sebagai penguat sinyal. Filamennya membutuhkan daya besar dan waktu untuk memanas.
Ketika masuk perguruan tinggi, teknologi transistor mulai hadir. Dengan kemampuan yang sama, transistor hanya membutuhkan daya kecil dan cukup menggunakan baterai kering. Ukuran radio pun mengecil dan mudah dibawa ke mana-mana.
Tak lama berselang, teknologi elektronika melompat jauh dengan hadirnya Integrated Circuit (IC), yang kemampuannya ribuan kali lebih besar dibanding transistor. Radio semakin kecil, demikian pula perkembangan teknologi audio dan video berlangsung sangat cepat.
Pada pertengahan 1960-an, televisi hitam putih mulai dikenal masyarakat. Konsumsi listriknya besar. Kemudian hadir televisi berwarna dengan teknologi flyback bertegangan tinggi. Kini, televisi berubah menjadi layar tipis berwarna tajam dengan konsumsi daya rendah.
Perkembangan elektronika juga melahirkan komputer. Dahulu ukurannya sebesar lemari, kini laptop dapat dibawa ke mana saja.
Pada tahun 1986, di usia 29 tahun, saya pernah ikut mengganti bahan bakar nuklir di sebuah pembangkit listrik di Jerman Barat. Tak banyak orang memiliki kesempatan mengalami hal itu. Saya juga pernah merasakan menjadi pilot Boeing 737 di simulator Garuda Indonesia pada awal 2000-an, setelah memberi kuliah di Pusdiklat Garuda, Cengkareng.

Selain Presiden Soekarno, saya pernah bekerja di era seluruh Presiden RI berikutnya. Sosok BJ Habibie sangat istimewa bagi kami karena pernah menjadi atasan langsung di BPPT. Pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saya beberapa kali berkesempatan minum teh di Istana Negara. Beliau pula yang menganugerahkan Satyalancana Pembangunan pada 17 Agustus 2011.
Sebelumnya, saya juga pernah membantu beliau saat menjabat Menteri Pertambangan dan Energi. Hari ini, salah satu eselon satu di kementerian tersebut dimakamkan, almarhum Haposan Silalahi, Inspektur Jenderal yang berasal dari Paropo, sekampung dengan saya di Dairi.
Begitu pesat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diciptakan generasi Baby Boomers, lalu dinikmati bersama generasi X, Y, Z, Alpha, hingga Beta. Banyak kisah bangsa dan dunia yang dialami generasi kami sebagai pelaku sejarah.
Beruntung pula, kemajuan teknologi kesehatan membuat angka harapan hidup meningkat hingga sekitar 75 tahun. Banyak dari kami kini menikmati hidup bersama anak, cucu, bahkan cicit.
Dulu, cita-cita anak sekolah umumnya menjadi guru, dokter, atau insinyur. Generasi X mulai banyak memilih menjadi ekonom dan pengacara, dengan kebanggaan bekerja lama di satu institusi. Generasi berikutnya berbeda lagi; mereka lebih dinamis dan tidak selalu nyaman bekerja di satu tempat dalam waktu lama.
Dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan gaya hidup, percepatan pergantian generasi juga terasa semakin cepat. Generasi Baby Boomers mencakup periode 1946–1964. Lalu Generasi X (1965–1980), Generasi Y (1981–1995), Generasi Z (1996–2010), Generasi Alpha (2011–2025), dan kini hadir Generasi Beta (2026–2039).
Memahami karakter setiap generasi menjadi penting, terutama dalam dunia pemasaran dan pengembangan produk. Segmentasi generasi sangat menentukan keberhasilan suatu produk di pasar. Apalagi, siklus hidup produk kini semakin pendek sehingga diperlukan kehati-hatian dalam pengelolaan produksi dan logistik agar tidak cepat tertinggal oleh produk baru.
Saya berharap para sahabat Baby Boomers, juga orang tua kami dari Generasi Silent, dapat memperkaya tulisan ini dengan pengalaman dan kisah masing-masing. Romantisme masa lalu, budaya gotong royong, kesetiakawanan sosial, dan kepedulian menjaga bumi adalah warisan luhur yang jangan sampai hilang ditelan zaman.
Kini, ungkapan “Dulu kami tidak begitu” rasanya hanya tersisa sampai generasi Baby Boomers. Setelah itu, kita mulai memahami bahwa memaksakan gaya hidup lintas generasi bukan lagi sesuatu yang ideal. Namun ada tiga nilai yang tetap relevan sepanjang masa: gotong royong, kesetiakawanan sosial, dan menjaga bumi.
Nilai-nilai itulah yang perlu terus diwariskan demi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, juga demi harmoni hubungan antarbangsa, antarsuku, antaragama, antarras, dan antargolongan.
Artikel ini saya tulis di Cinere, Rabu petang, 6 Mei 2026. Semoga menjadi bacaan yang menyenangkan di tengah kesibukan minggu ini. Tulisan ini saya dedikasikan untuk Generasi Silent dan para Baby Boomers di seluruh negeri. Tetap sehat dan penuh semangat menikmati usia senja.
Untuk generasi X, Y, Z, Alpha, dan Beta: teruslah berkarya. Tinggalkan jejak dan warisan terbaik, sebagaimana para seniormu telah mengukirkannya.
Penulis: Ir. Vickner Sinaga, MM.
- Bupati Kabupaten Dairi 2025–2030,
- BOD PLN 2009–2014,
- Penerima Setya Lencana Pembangunan dari Presiden RI
- Penulis buku “Solusi Out of The Box”, seri 1 s/d 5



