Kamis, Mei 21, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaBulunganRisman Tajuddin, Anak Daerah di Tengah Lahirnya Kawasan Industri

Risman Tajuddin, Anak Daerah di Tengah Lahirnya Kawasan Industri

DetailNews.id, Tana Kuning – Tidak semua perjalanan menuju keberhasilan dimulai dari kemudahan. Sebagian orang harus melewati jalan panjang, penuh keterbatasan, bahkan jatuh bangun demi mengubah nasib. Kisah itu tergambar dalam perjalanan hidup Risman Tajuddin, seorang putra daerah asal Desa Tanah Kuning, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, yang tumbuh bersama mimpi besar di tengah kondisi serba terbatas.

Di balik kesibukannya hari ini sebagai pelaku usaha yang ikut berkontribusi dalam aktivitas kawasan industri di Tanah Kuning, tersimpan cerita perjuangan yang mungkin tidak pernah dibayangkan banyak orang. Sebuah perjalanan hidup tentang kerja keras, pengorbanan, keberanian mengambil peluang, dan keyakinan bahwa tidak ada usaha yang mengkhianati hasil.

Lahir dan besar di Desa Tanah Kuning, Risman tumbuh dalam lingkungan sederhana. Sebagai anak kampung dari daerah pesisir yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar, hidup tidak selalu menawarkan banyak pilihan. Fasilitas terbatas dan kesempatan kerja yang sempit membuat banyak anak muda memilih merantau demi mencari penghidupan yang lebih baik.

Begitu pula dengan Risman.

Dengan tekad ingin mengubah kehidupan keluarga, ia memutuskan meninggalkan kampung halaman menuju Kalimantan Timur. Bukan perjalanan yang mudah. Sebagai perantau tanpa banyak modal, Risman harus berjuang dari nol dan menerima pekerjaan apa pun yang bisa membantunya bertahan hidup.

Di Samarinda, hidup mengajarkannya arti perjuangan yang sesungguhnya.

Risman pernah bekerja di tempat pencucian motor dan mobil. Di bawah panas matahari, ia membersihkan kendaraan pelanggan demi mendapatkan penghasilan. Tidak berhenti di situ, ia juga pernah menjadi pelayan restoran atau waiter, bekerja melayani tamu dengan jam kerja panjang.

Saat kebutuhan hidup semakin mendesak, Risman tak gengsi menjalani profesi lain. Ia pernah menjadi loper koran, menyusuri jalanan kota demi memastikan surat kabar sampai ke tangan pembaca. Bahkan, demi bertahan hidup, ia sempat mengenakan kostum badut di salah satu pusat perbelanjaan di Samarinda untuk menghibur anak-anak.

Bagi sebagian orang, pekerjaan-pekerjaan itu mungkin terlihat kecil. Namun bagi Risman, semua pekerjaan adalah pelajaran hidup. Ia percaya, tidak ada pekerjaan yang rendah selama dilakukan dengan cara yang baik dan halal.

Masa-masa sulit itu perlahan membentuk mentalnya menjadi pribadi tangguh. Ia belajar menghadapi kerasnya kehidupan, memahami arti disiplin, kerja keras, hingga bagaimana bertahan di tengah keterbatasan.

Namun di tengah perjuangan sebagai perantau, pikirannya tidak pernah benar-benar meninggalkan kampung halaman. Sampai akhirnya, tahun 2019 menjadi titik balik penting dalam perjalanan hidupnya.

Kabar tentang rencana pembangunan kawasan industri besar di Tanah Kuning mulai terdengar luas. Bagi banyak orang, kabar itu mungkin hanya informasi biasa. Namun di mata Risman, itu adalah peluang besar yang bisa mengubah masa depan daerah sekaligus kehidupan masyarakat setempat.

Alih-alih terus bertahan di perantauan, ia memilih pulang.

Keputusan kembali ke kampung halaman bukan tanpa risiko. Tidak ada jaminan hidup akan langsung berubah. Namun Risman percaya, jika kampungnya sedang bertumbuh, maka putra daerah tidak boleh hanya menjadi penonton.

“Kalau kampung sendiri sedang berkembang, masa kita hanya lihat orang lain datang dan mengambil peluang?” menjadi prinsip yang terus ia pegang.

Sekembalinya ke Tanah Kuning, Risman mulai menata langkah baru. Ia sempat bekerja sebagai tenaga administrasi di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Kalimantan Utara selama kurang lebih dua tahun. Pengalaman itu memberinya pemahaman baru tentang sistem kerja pemerintahan dan pengelolaan administrasi.

Tidak berhenti di sana, ia juga pernah mengabdi sebagai tenaga teknis kehutanan di Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara. Dari pekerjaan itu, ia semakin banyak belajar mengenai tata kelola wilayah, lingkungan, hingga pembangunan daerah.

Meski telah memiliki pekerjaan, Risman tetap menyimpan mimpi besar: menjadi bagian dari perubahan yang sedang terjadi di Tanah Kuning.

Kesempatan itu akhirnya datang ketika ia mendapat tawaran bergabung dengan PT KIPI sebagai Government Relationship.

Posisi tersebut membuka cakrawala baru baginya. Ia mulai melihat secara langsung bagaimana investasi besar masuk, bagaimana kawasan industri bertumbuh, dan seperti apa kebutuhan jasa penunjang yang akan terus meningkat.

Di sinilah naluri bisnisnya mulai tumbuh.

Risman menyadari, kawasan industri tidak hanya membutuhkan tenaga kerja, tetapi juga dukungan berbagai sektor jasa. Ia melihat peluang besar di bidang jasa bongkar muat—sebuah sektor yang akan terus dibutuhkan seiring meningkatnya aktivitas industri.

Namun membangun usaha tentu bukan perkara mudah.

Banyak keraguan muncul. Modal terbatas, tantangan besar, hingga risiko kegagalan menjadi hal yang harus dihadapi. Tetapi satu hal yang selalu ia ingat: dirinya pernah hidup jauh lebih sulit dari itu.

Jika dulu ia mampu bertahan sebagai pencuci kendaraan, waiter, loper koran, hingga badut mall, maka rasa takut memulai usaha bukan alasan untuk berhenti.

Dengan keberanian dan keyakinan, Risman akhirnya mendirikan perusahaan jasa bongkar muat bernama PT Pantai Indah Perkasa (PT PIP).

Perusahaan yang ia bangun perlahan berkembang dan mulai mengambil bagian dalam mendukung aktivitas operasional kawasan industri di Tanah Kuning. Bagi Risman, usaha yang dirintis bukan sekadar bisnis, tetapi juga bentuk kontribusi sebagai anak daerah yang ingin tumbuh bersama kampung halamannya.

Ia percaya, pembangunan daerah seharusnya memberi ruang bagi masyarakat lokal untuk ikut berkembang.

Kini, perjalanan hidup Risman Tajuddin menjadi inspirasi bagi banyak anak muda di Kalimantan Utara, khususnya di Desa Tanah Kuning. Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah, dan asal-usul dari desa terpencil bukan penghalang untuk bermimpi besar.

Kisahnya mengajarkan satu hal sederhana namun penting: kesuksesan tidak selalu datang kepada mereka yang paling kuat atau paling kaya, tetapi kepada mereka yang tidak berhenti mencoba.

Dari seorang anak kampung yang pernah menjadi pencuci motor, waiter, loper koran, hingga badut mall, Risman kini berdiri sebagai bagian dari geliat kawasan industri di tanah kelahirannya.

Dan mungkin, perjalanan itu baru saja dimulai.

Peliput: Raden

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments