DetailNews.id, Sulut – Beberapa tahun lalu, saya dihubungi secara khusus oleh Pitres Sombowadile, Mner Ridwan Lasabuda, dan kawan-kawan yang tergabung dalam Komunitas Penulis Bolaang Mongondow Raya.
Di dalam komunitas itu ada Donal Qumadiyansyah Tungkagi, Murdiono Mokoginta, Hasman Bahansubu, dan banyak nama lainnya; anak-anak muda dan tokoh BMR. Beberapa di antaranya adalah akademisi dan penulis dari Minahasa, yang memiliki keinginan untuk mengkaji dan menulis tentang Bolaang Mongondow.
Sebab, memang, soal Bolaang Mongondow selalu menarik untuk ditulis oleh siapa pun. Entah dia orang Mongondow maupun bukan.
Pitres kemudian mengajak saya bergabung dalam sebuah buku berjudul Bunga Rampai Bolaang Mongondow, sebuah kumpulan tulisan para penulis BMR dan Sulawesi Utara.
Sebagai orang Mongondow, tentu saya bangga diberikan kepercayaan untuk menulis tentang daerah saya sendiri. Terlebih, penggagas sekaligus orang yang mengundang saya bukan seorang Mongondow. Tetapi saya tahu, Pitres telah banyak mendedikasikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan melakukan sejumlah riset ilmiah tentang kebudayaan Bolaang Mongondow.
Saya kemudian menulis tentang hukum adat di Bolaang Mongondow; tentang embrionalisasi peristiwa hukum sejak masa kerajaan, perjumpaan hukum adat Mongondow dengan hukum positif, serta relasi dan perbedaan di antara keduanya.
Seingat saya, buku itu sebenarnya sudah rampung. Semua naskah telah kami kirimkan kepada tim perumus. Bahkan, kumpulan tulisannya sudah sempat saya baca. Hanya saja, pada saat itu buku tersebut gagal naik cetak karena dinamika yang begitu cepat dan kencang.
Di luar urusan kebudayaan, Pitres menghabiskan sebagian hidupnya untuk berkontribusi pada berbagai persoalan Bolaang Mongondow Raya. Bahkan sampai pada persoalan politik.
Hari ini saya mendapat kabar bahwa Pitres telah berpulang.
Tak akan ada lagi diskusi-diskusi yang akan dihadiri beliau di tanah Mongondow. Tak akan ada lagi percakapan, gagasan, dan perjumpaan seperti yang pernah kami lalui.
Namun saya percaya, sebagian dari dedikasinya akan Tuhan catat sebagai amal kebaikannya di sana.
Sebagai Ketua Wilayah Ansor, yang berbasis Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan memilih jalan dakwah melalui Islam moderat, saya menyaksikan sendiri bagaimana Bang Pitres mengaplikasikan esensi ajaran Gus Dur dalam berbagai perjumpaan dengan tokoh-tokoh agama, suku, dan budaya.
Ia menunjukkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh. Justru dalam perbedaan itulah ruang perjumpaan dan persaudaraan dapat dibangun.
Sebagai seorang Mongondow, saya mengucapkan terima kasih dan doa atas setiap dedikasi yang telah engkau berikan di tanah Bogani.
Selamat jalan, Bang Pitres.
Karya-karyamu mungkin akan terus kami diskusikan. Gagasan-gagasanmu mungkin akan terus kami baca. Dan dedikasimu akan menjadi saksi bahwa engkau pernah hadir, bekerja, berpikir, dan mencintai tanah ini.
Engkau telah pergi, tetapi tidak benar-benar hilang.
Sebab karya-karyamu akan menjadi saksi bahwa engkau tetap hidup dalam ingatan kami.
Al-Fatihah.
Penulis :
Hamri Mokoagow, Ketua PW GP Ansor Sulut




