DetailNews.id, Tarakan – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kalimantan Utara mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal naik kelas hingga menembus pasar ekspor. Sarang burung walet menjadi salah satu komoditas yang dinilai punya peluang besar untuk dikembangkan ke pasar global.
Upaya memperluas pasar UMKM Kaltara salah satunya dilakukan melalui ajang Misi Dagang dan Investasi Kalimantan Utara-Jawa Timur. Dalam kegiatan tersebut, sekitar 20 UMKM binaan BI Kaltara ikut memamerkan produk unggulan mereka.
Kepala KPwBI Kaltara Agus Taufik mengatakan produk yang dibawa cukup beragam, mulai dari makanan olahan, batik khas Kaltara hingga kain tenun.
“Kami kebetulan membawa sekitar 20 UMKM binaan Bank Indonesia yang berpartisipasi dalam kegiatan ini. Produk yang ditampilkan mulai dari olahan makanan, batik khas, hingga kain tenun,” kata Agus.
Menurut Agus, produk UMKM Kaltara memiliki peluang untuk memperluas pasar, termasuk ke Jawa Timur. Produk kuliner dan kerajinan disebut mendapat respons positif karena memiliki keunikan dan daya saing.
“Ternyata banyak produk unggulan kita yang diminati dan memiliki daya saing tinggi untuk dijual ke Jawa Timur,” ujarnya.
Walet Berpeluang Jadi Komoditas Ekspor
Selain produk olahan dan kerajinan, BI Kaltara melihat sarang burung walet sebagai komoditas dengan potensi ekonomi besar. Komoditas tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai salah satu produk unggulan ekspor Kaltara.
Agus mengatakan pengembangan walet membutuhkan dukungan dan sinergi berbagai pihak, terutama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait.
“Walet merupakan salah satu komoditas penting dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi. Kami mendorong adanya kerja sama intensif antara pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait untuk terus mengembangkan komoditas ini,” tegasnya.
BI Kaltara juga menyiapkan pendampingan agar UMKM lokal bisa naik kelas. Program tersebut mencakup onboarding hingga business matching untuk mempertemukan pelaku usaha dengan perbankan maupun calon pembeli.
“Melalui business matching, kami tidak hanya membukakan akses pembiayaan perbankan, tetapi juga mempertemukan pelaku UMKM secara langsung dengan calon pembeli potensial, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” jelas Agus.
Digitalisasi juga menjadi bagian dari strategi BI untuk memperluas pasar UMKM. Pelaku usaha didorong memanfaatkan transaksi dan pemasaran secara digital sehingga tidak hanya mengandalkan pasar lokal.
“Kami dorong agar UMKM di Kaltara aktif memanfaatkan transaksi secara online. Dengan begitu, jangkauan pasar mereka tidak lagi terbatas oleh wilayah,” pungkasnya.
Peliput: Raden




