Senin, Maret 16, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaKotamobaguPasar Senggol Terancam Gagal, Lapak Liar Menjamur di Luar Area

Pasar Senggol Terancam Gagal, Lapak Liar Menjamur di Luar Area

DetailNews.id, Kotamobagu – Deretan rangka tenda mulai berdiri di lahan kosong itu sejak pagi. Terpal warna-warni dibentangkan, kabel listrik ditarik, dan panggung kecil mulai dirakit. Dari kejauhan, semuanya tampak siap menyambut keramaian khas Pasar Senggol yang selalu dinanti warga setiap tahunnya.

Namun di balik persiapan yang hampir rampung, kegelisahan justru menyelimuti panitia.

Hingga beberapa hari menjelang pembukaan, sekitar 130 lapak masih belum terisi dari total 288 lapak yang telah disiapkan panitia.

“Kami sudah sosialisasi ke pedagang sejak lama. Tapi sampai sekarang masih banyak yang kosong,” kata Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Sarjan Korompot, Sarjan Korompot alias Om Dade, sambil memandangi barisan tenda yang belum berpenghuni.

Di tengah kekosongan itu, persoalan lain justru muncul di luar area pasar.

Lapak-lapak liar mulai menjamur di sekitar lokasi Pasar Senggol. Beberapa pedagang mendirikan tenda sederhana di pinggir jalan, trotoar, hingga lahan kosong di sekitar area pasar. Mereka menjual beragam barang, mulai dari makanan, pakaian, hingga mainan anak.

Situasi ini membuat panitia semakin khawatir.

Sebab di dalam area resmi masih banyak lapak kosong, sementara di luar kawasan justru mulai dipadati pedagang yang berjualan tanpa menyewa tempat dari panitia.

“Ini yang kami takutkan. Pedagang resmi sudah bayar sewa, tapi di luar ada yang jualan bebas. Akhirnya pedagang lebih pilih di luar,” ujar Om Dade.

Fenomena tersebut dinilai berpotensi mengganggu keberlangsungan Pasar Senggol tahun ini. Jika lapak resmi terus kosong, panitia khawatir kegiatan yang selama ini menjadi magnet keramaian warga itu bisa berjalan setengah hati, bahkan terancam gagal.

Padahal selama ini Pasar Senggol dikenal sebagai ruang perayaan rakyat. Ketika malam tiba, kawasan itu biasanya berubah menjadi lautan manusia. Lampu-lampu menggantung di lorong tenda, aroma sate dan gorengan bercampur dengan musik dari wahana permainan anak.

Pedagang pakaian, makanan, hingga aksesoris saling berlomba menarik pembeli.

Bagi banyak warga, Pasar Senggol bukan sekadar tempat berburu barang murah. Ia juga menjadi ruang nostalgia—tempat keluarga berjalan santai setelah berbuka, tempat anak-anak meminta balon, hingga tempat remaja berdesakan mencari jajanan yang sedang viral.

Namun tahun ini suasananya terasa berbeda.

Minat pedagang menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebagian memilih berjualan secara daring, sementara sebagian lain mengaku daya beli masyarakat sedang melemah.

“Biasanya jauh sebelum pembukaan sudah penuh. Sekarang masih banyak kosong,” ujar salah satu panitia.

Lapak-lapak kosong itu tampak kontras dengan beberapa tenda yang sudah terisi. Di satu sisi pedagang mulai menata gantungan baju dan lampu hias, sementara di sisi lain hanya terlihat rangka besi dan terpal yang masih terlipat.

Meski begitu, panitia belum menyerah. Promosi terus dilakukan, mulai dari media sosial hingga mendatangi pedagang secara langsung.

Mereka berharap sisa waktu menjelang pembukaan bisa menjadi penyelamat.

“Harapan kami tetap sama, semoga lapak cepat terisi dan Pasar Senggol tetap ramai seperti dulu,” kata Om Dade.

Sebab bagi mereka, Pasar Senggol bukan sekadar deretan tenda. Ia adalah denyut ekonomi kecil yang memberi kesempatan bagi banyak orang untuk mencari rezeki meski hanya dalam beberapa minggu.

Peliput : Yardi

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments