Minggu, Juni 21, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaNasionalApa yang Engkau Bawa Pulang, Anakku? Renungan Vickner Sinaga tentang Ilmu, Keluarga...

Apa yang Engkau Bawa Pulang, Anakku? Renungan Vickner Sinaga tentang Ilmu, Keluarga dan Prestasi WIM Chelsea Monica

DetailNews.id, Dairi – Kamis pagi, 18 Juni, jadwalku selaku Bupati Dairi diwawancarai LSI Indikator. Tak diberitahu topik-topik bahasan, termasuk isian kuesioner dalam acara yang berlangsung hampir satu jam penuh itu.

Wawancara dimulai dengan pencocokan data terlebih dahulu. Klop, termasuk latar belakang pendidikan. Topik pertama tentang keterwakilan pemimpin perempuan, kini dan di masa depan. Saya diminta memberi tanggapan dengan angka-angka yang dikuantifikasi. Berlanjut dengan geliat pelaksanaan otonomi daerah sejak era reformasi berlangsung di negeri ini.

Diminta juga memberi pendapat tentang ragam konsep pilkada. Apakah tetap seperti sekarang ini, dilakukan perbaikan secara gradual, atau bahkan konsep yang lebih radikal dengan kembali ke praktik sebelum era reformasi.

Sesi berakhir. Pewawancara memberi informasi bahwa sobat lama, Prof. Burhanuddin Muhtadi, sudah menunggu untuk wawancara di luar konteks. Momen yang menjadi ajang nostalgia.

Pascamenimba ilmu di negeri orang dan memperoleh gelar doktor dari Australia, Prof. Burhanuddin Muhtadi banyak berbagi dengan jajaran Direksi PLN. Paling relevan adalah pengaruh geopolitik dunia terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan. Seketat apa kopling antara dinamika geopolitik terhadap makroekonomi Indonesia.

Konteks kekinian malah lebih sedikit brutal. Perubahan geopolitik dapat terjadi dalam waktu singkat. Konflik Amerika Serikat dan Israel versus Iran berakibat langsung terhadap ekonomi kerakyatan NKRI.

Menimba ilmu itu tidak terbatas oleh geografi. Prof. Burhanuddin Muhtadi diakui sebagai narasumber terkemuka saat ini. Jadi, manfaatlah yang menjadi substansi.

“Apa yang engkau bawa pulang, anakku?”

Bumi Pertiwi akan bertanya.

Topik kita kali ini bersinggungan dengan “luar negeri”.

Tak lama berselang, siang itu adik mertuaku ada di ujung telepon. Pamit. Pesawat Etihad segera lepas landas. Sebagaimana lazimnya dalam adat Batak, saya selaku boru senior biasanya selalu mendampingi untuk gawe sepenting itu. Itu dulu, ketika bebas menikmati masa pensiun dan bisa bepergian ke mana saja.

Kini, tuntutan tugas membuat bepergian ke luar negeri hampir tak mungkin lagi. Padahal gawe itu adalah meminang calon menantu, seorang putri berkebangsaan Swiss, yang akan berlangsung akhir pekan ini.

“Gute Reise, nicht vergessen NKRI,” itulah ucapan selamat jalan dariku melepas adik mertua, Edwin P. Situmorang dan istri.

Pernikahan antarbangsa akan terjadi dalam waktu dekat di keluarga kami. Kami menganut bahwa membentuk keluarga tidak harus sesuku.

Meski masih didominasi pernikahan dalam adat yang sama, namun di keluarga ring satu kami sudah banyak yang menikah antarsuku. Ada Ambon, Jawa, bule, dan terbanyak Tionghoa. Jika berkumpul saat tahun baru, hubungan kekeluargaan justru terasa lebih hangat dibanding keluarga yang homogen.

Pak Edwin P. Situmorang, tokoh adat dan gereja, pernah menjabat eselon satu di Kejaksaan Agung, yakni Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) periode 2008-2010 dan Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) periode 2010-2012.

Lanjut, sore hari saya berkomunikasi dengan seorang keponakan, anak asuh saya di belahan utara negeri. Chelsea Monica memenangkan pertandingan catur melawan juara dunia Magnus Carlsen.

Event itu merupakan bagian dari pemanasan Kejuaraan Catur Dunia, Rapid Chess International di Hong Kong. Magnus Carlsen melawan 25 pecatur dunia secara simultan dan menelan satu-satunya kekalahan dari WIM Chelsea Monica Sihite, S.E., M.M.

Kini, ia aktif di Chess.com dan telah bertahun-tahun menggeluti profesi tersebut sambil mengajar di Sekolah Catur Utut Adianto.

Putri Batak kelahiran Balikpapan ini pantas menjadi rujukan tentang kecerdasan keempat, AQ (Adversity Quotient), yakni kegigihan.

Awal tahun 2001, saat saya bertugas sebagai Deputi GM PLN Proyek Se-Borneo, saya memperoleh informasi bahwa keluarga ini sedang berduka. Sang ayah, Luther Sihite, mengalami kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawanya. Padahal, beliau sedang bersemangat mengumpulkan biaya untuk mengantar Chelsea Monica mengikuti Kejuaraan Catur Junior ASEAN di Thailand.

Sayang, niat baik itu tak kesampaian. Si buah hati di usia yang sangat dini harus berangkat tanpa didampingi sang ayah. Ia berangkat bersama pengurus Percasi Kaltim dan sobat saya, MN Nugroho RS., yang sekaligus menjadi lawan latihnya.

Di usia belum genap 10 tahun, Chelsea Monica sudah mendapat gelar Master Percasi. Kemudian memperoleh gelar Master Nasional sebelum hijrah ke ibu kota. Kurang lebih tujuh tahun kami berlatih bersama di rumah dinas dan di sekolah catur yang saya dirikan, Sekolah Catur Dian Harapan.

Selaku mentor, kami mencarikan sekolah SMP di Bekasi yang dekat dengan tempat latihannya. Hal ini merupakan hasil musyawarah dengan PB Percasi yang kerap mengutusnya bertanding di berbagai event nasional maupun internasional.

Hasil kegigihannya, dibantu para mentor, membuat Chelsea Monica meraih pencapaian yang luar biasa. Di usia remaja, bahkan sebelum masuk SMP, ia telah memiliki rumah sendiri dari hasil pertandingan lokal, nasional, dan internasional.

Kami juga mengupayakan beasiswa dari Pemerintah Kota Balikpapan. Tak tanggung-tanggung, sekitar Rp5 juta per bulan pada awal tahun 2000-an.

Waktu terus berlalu. Prestasi di papan catur mengantarkannya meraih gelar Woman International Master (WIM). Saya berharap keseimbangan karier juga dibarengi pencapaian akademik.

Chelsea menempuh pendidikan di Universitas Perbanas yang relatif memberi kelonggaran karena jadwal perkuliahannya sering berbenturan dengan event di luar negeri. Dengan kegigihannya, gelar Sarjana Perbankan berhasil diraih tepat waktu. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Manajemen Perbankan.

Kami dan keluarga berharap Chelsea Monica memperoleh kebahagiaan dengan menikah pada tahun 2027. Namun, masih ada pekerjaan rumah yang tertunda, yakni gelar Woman Grandmaster (WGM).

Persyaratan meraih gelar tersebut memang sangat sulit. Sudah beberapa kali hampir tercapai, namun harus memulai dari awal kembali apabila norma GM terputus. Harus berurutan hingga empat kali.

Komunitas catur Indonesia berharap Chelsea Monica kelak memperkuat skuad grandmaster putri Indonesia bersama WGM Irene Kharisma Sukandar, WGM Medina Warda Aulia, serta WIM lainnya seperti Dewi Citra.

Selamat untuk bereku, WIM Chelsea Monica, atas pencapaian spektakuler mengalahkan pecatur nomor satu dunia, meski dalam pertandingan simultan dan di negeri orang. Prestasi ini menambah goresan sejarah dalam daftar sukses PB Percasi.

Artikel ini kutulis sesaat setelah percakapan internasional kami di salah satu sudut Kota Jakarta Selatan. Kaum muda NKRI bisa. Buatlah debut gemilang hingga ke negeri orang.

Kudedikasikan tulisan ini kepada si ibu, itoku, single parent Rumondang Sinaga, MN Nugroho RS., Rizal Effendi, mantan Pemred Kaltim Pos sekaligus mantan Wali Kota Balikpapan, sahabat Udin Hianggio, Ketua Percasi Kaltim dan mantan Wali Kota Tarakan.

Tak lupa kepada seluruh pengurus PB Percasi dan para sobat lama PB Percasi. Salam kangen.

Last but not least, congratulations for the outstanding achievement, dear WIM Chelsea Monica Sihite, S.E., M.M.

Penulis: Ir. Vickner Sinaga, MM.

  • Bupati Kabupaten Dairi 2025–2030,
  • BOD PLN 2009–2014,
  • Penerima Setya Lencana Pembangunan dari Presiden RI
  • Penulis buku “Solusi Out of The Box”, seri 1 s/d 5
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments