DetailNews.id, Tanjung Selor – Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mendorong percepatan transformasi ekonomi di tengah mulai melambatnya industri pertambangan batu bara. Komitmen itu mengemuka dalam Benuanta Economic Forum (BEF) 2026 yang digelar di Tanjung Selor, Selasa (4/8/2026).
Mengusung tema Menavigasi Transformasi Ekonomi Kalimantan Utara Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Industri Pertambangan, forum tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, perbankan, hingga instansi vertikal untuk mencari strategi menjaga pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Utara, Agus Taufik, mengatakan ekonomi Kaltara pada Triwulan I 2026 masih tumbuh 5,23 persen secara tahunan (year on year). Namun, ketergantungan terhadap sektor batu bara dinilai menjadi tantangan karena permintaan global dan produksi mengalami tekanan.
“Ini menjadi momentum untuk mempercepat transformasi ekonomi,” kata Agus.
BI menilai pengembangan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) Mangkupadi, pembangunan PLTA Mentarang Induk, serta penguatan rantai pasok lokal menjadi langkah penting agar investasi yang masuk mampu memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian daerah.
Selain itu, BI juga mendorong penguatan UMKM melalui digitalisasi, peningkatan kapasitas usaha, dan perluasan akses pembiayaan agar mampu menjadi bagian dari ekosistem industri.
Dalam forum tersebut, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) turut meluncurkan kembali Website Neraca Pangan Siap Sigapku 2.0. Platform itu berfungsi memantau kondisi pangan secara real time sekaligus menjadi sistem peringatan dini terhadap potensi gangguan pasokan dan lonjakan harga.
Sementara itu, Wakil Gubernur Kalimantan Utara, Ingkong Ala, menyatakan Pemerintah Provinsi Kaltara berkomitmen mempercepat pembangunan infrastruktur, memperkuat konektivitas wilayah, mengembangkan UMKM, hingga mendorong percepatan KIHI Mangkupadi guna menarik investasi yang lebih produktif.
Menurutnya, sinergi pemerintah, Bank Indonesia, dunia usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar Kaltara memiliki sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih tangguh dan berdaya saing.
BEF 2026 juga menghadirkan Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk David Sumual, Kepala Bapperida Kaltara Bertius, serta akademisi Universitas Borneo Tarakan Dr. Margiyono. Ketiganya membahas prospek ekonomi Kaltara, tantangan geopolitik global, hilirisasi industri, hingga strategi memperkuat investasi dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Peliput: Raden






