DetailNews.id, Jember – Potensi limbah kulit kopi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal mulai dilirik sebagai solusi pakan ternak alternatif. Melalui pola integrasi domba-kopi, Bakorwil V Jawa Timur mendorong pemanfaatan limbah perkebunan menjadi sumber pakan bernilai ekonomi sekaligus memperkuat konsep pertanian terpadu berkelanjutan di Kabupaten Jember.
Bakorwil V Jatim menggelar sosialisasi penerapan pola integrasi domba-kopi bertema “Pemanfaatan Limbah Kulit Kopi Sebagai Pakan Ternak Alternatif” di UPT Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Jember, Rabu (15/7/2026).
Kabid Pembangunan Ekonomi Bakorwil V Jawa Timur, Choirul Anwar, S.H., M.H., menjelaskan bahwa sekitar 48 persen wilayah kerja Bakorwil V merupakan kawasan perhutanan yang menjadi sentra komoditas kopi. Khusus di Kabupaten Jember, produksi kopi pada tahun 2026 tercatat mencapai 4.700,4 ton dari lahan seluas 6.119 hektare yang tersebar di 17 kecamatan.
Menurutnya, potensi limbah kulit kopi yang cukup besar dapat dimanfaatkan melalui teknologi pengolahan seperti fermentasi maupun silase sehingga memiliki nilai ekonomi sebagai pakan ternak alternatif.
“Melalui teknologi pengolahan, limbah kulit kopi yang melimpah ini dapat disulap menjadi pakan bernilai tambah sekaligus mendukung pertanian terpadu yang berkelanjutan. Jika edukasi di Jember ini berhasil, nantinya akan kita kembangkan ke tujuh kabupaten/kota di wilayah kerja Bakorwil V Jember,” ungkap Choirul Anwar.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Perikanan (KPPP) Kabupaten Jember, drh. Sugiyarto, S.KH., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Jember di bawah kepemimpinan Bupati Fawait terus berupaya mengatasi persoalan kemiskinan di kawasan pinggiran hutan melalui pengembangan perhutanan sosial.
Ia menyebut, kelompok perhutanan sosial di Jember telah memiliki legalitas dan pada 9 Juli 2026 Pemkab Jember bersama Kementerian Kehutanan telah menandatangani Master Plan Integrated Area Development (IAD).
“Master plan ini untuk mengembangkan wilayah perhutanan sosial yang terintegrasi dengan perikanan, perkebunan, pertanian, peternakan, hingga industri. Selama ini petani sering menghadapi persoalan ketika musim panen bersamaan sehingga harga turun dan yang diuntungkan justru tengkulak,” jelas Sugiyarto.
Melalui konsep IAD, lanjutnya, setiap sektor akan saling mendukung. Ketika panen kopi berlangsung, koperasi diharapkan dapat menyerap hasil produksi petani, sementara komoditas pangan seperti padi telah memiliki dukungan penyerapan melalui Bulog.
Sugiyarto juga menekankan pentingnya peningkatan produktivitas usaha ternak domba, bukan sekadar menambah jumlah populasi. Menurutnya, percepatan pertumbuhan ternak menjadi kunci peningkatan pendapatan peternak.
“Bagaimana caranya ternak domba yang biasanya membutuhkan waktu enam bulan bisa dipercepat menjadi tiga bulan sudah dapat dijual. Salah satu solusinya melalui penggunaan bibit unggul dengan pertumbuhan cepat,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, pemateri pertama Prof. Dr. Sunaryo Hadi Warsito, drh., MP., dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga menyampaikan materi mengenai “Konsep Pola Integrasi Domba-Kopi”.
Ia menjelaskan bahwa pola integrasi domba-kopi merupakan inovasi pertanian terpadu yang memadukan pemanfaatan limbah kulit kopi sebagai pakan ternak dan limbah ternak sebagai pupuk organik.
“Melalui konsep ekonomi sirkular, model ini mampu meningkatkan efisiensi usaha, produktivitas, serta nilai tambah sektor perkebunan dan peternakan sehingga mendukung peningkatan kesejahteraan petani dan peternak secara berkelanjutan di Kabupaten Jember,” terang Prof. Sunaryo.
Sementara itu, pemateri kedua Dr. Ir. Nur Widodo, S.Pt., M.Sc., akademisi Universitas Jember, memberikan materi bertajuk “Diversifikasi Pakan Ternak Melalui Pemanfaatan Limbah Kulit Kopi”.
Ia menyampaikan bahwa pemanfaatan limbah kulit kopi sebagai pakan ternak merupakan inovasi yang mampu meningkatkan efisiensi usaha peternakan sekaligus memberikan nilai tambah terhadap limbah perkebunan.
“Dengan penerapan teknologi pengolahan yang tepat, limbah kulit kopi dapat menjadi sumber pakan alternatif yang aman, ekonomis, dan berkelanjutan. Inovasi ini diharapkan mampu memperkuat integrasi usaha domba-kopi, meningkatkan pendapatan petani dan peternak, serta mendukung pembangunan pertanian berwawasan lingkungan di Kabupaten Jember,” pungkasnya.
Melalui sosialisasi ini, Bakorwil V Jatim berharap pola integrasi domba-kopi dapat menjadi model pengembangan ekonomi pedesaan yang menghubungkan sektor perkebunan, peternakan, dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Peliput : Lukman






