DetailNews.id, Bitung — Festival budaya lokal “Lembut Badaseng” yang digelar di Kelurahan Binuang, Kecamatan Lembeh Utara, Jumat (15/5/2026), berlangsung meriah dan penuh semangat persatuan. Kegiatan yang melibatkan masyarakat pesisir lintas agama dan suku itu menjadi simbol kebangkitan budaya lokal sekaligus penguatan identitas maritim di wilayah pesisir Kota Bitung.
Festival tersebut mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat dan TNI Angkatan Laut melalui Satrol Kodaeral VIII Bitung. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2026.
Camat Lembeh Utara, Yekonia Nanangko, mengatakan Festival Lembut Badaseng lahir dari semangat menjaga budaya lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, kegiatan itu berangkat dari ide sederhana yang awalnya dianggap mustahil karena tidak masuk dalam anggaran pemerintah.
“Semua ini berawal dari angan-angan. Banyak yang menganggap ide ini terlalu besar, bahkan mustahil, karena tidak memiliki dukungan anggaran. Tapi kami percaya budaya harus tetap hidup dan diperjuangkan,” ujar Nanangko.
Ia menegaskan, dasar pelaksanaan festival merujuk pada amanat UUD 1945 Pasal 32 tentang kebudayaan serta Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang mendorong pelestarian tradisi lokal, baik melalui seni maupun olahraga budaya masyarakat.
Menurutnya, festival budaya bukan sekadar seremoni, melainkan perekat sosial yang mampu menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Ada hal paling spesial dalam kegiatan ini, yaitu bagaimana masyarakat dari berbagai agama, suku, dan etnis di Lembeh Utara bisa menyatu dalam satu kebersamaan. Budaya menjadi perekat kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” katanya.
Nanangko juga menyampaikan apresiasi kepada Satrol Kodaeral VIII Bitung yang dinilai memberi dukungan nyata terhadap pengembangan budaya pesisir.
“Kami sangat bersyukur karena permohonan masyarakat pesisir dijawab langsung oleh Dansatrol bersama jajaran. Mereka tidak hanya hadir memberi motivasi, tetapi juga membantu secara material dan turun langsung mendukung kegiatan budaya masyarakat,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah terus memberi perhatian terhadap pelestarian budaya lokal sebagai bagian penting dalam pembentukan karakter generasi muda.
“Kalau budaya lokal diabaikan, maka generasi mendatang akan kehilangan identitas dan etika sosialnya. Budaya harus terus ditumbuhkan karena menjadi fondasi persatuan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Komandan Satrol Kodaeral VIII, Marvill Marfel Frits, mewakili Dankodaeral VIII Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi, menyampaikan apresiasi atas semangat masyarakat dalam menjaga warisan budaya pesisir.
“Festival budaya seperti ini bukan hanya melestarikan tradisi lokal, tetapi juga memperkuat semangat persatuan, gotong royong, dan kecintaan terhadap identitas bangsa maritim Indonesia,” ujar Marvill.
Ia menegaskan kehadiran TNI Angkatan Laut melalui Satrol Kodaeral VIII merupakan bentuk komitmen menjaga hubungan harmonis antara prajurit Jalasena dan masyarakat pesisir.
“Kami ingin budaya pesisir tetap hidup dan menjadi kekuatan sosial masyarakat. TNI AL akan terus mendukung kegiatan positif yang mempererat persaudaraan dan membangun nasionalisme masyarakat maritim,” katanya.
Festival “Lembut Badaseng” diisi dengan berbagai pertunjukan budaya lokal masyarakat pesisir dan menjadi ruang kolaborasi warga dalam menjaga tradisi leluhur agar tetap lestari di tengah perkembangan modernisasi.
Peliput : ical




