BerandaBulunganDatu Dissan Hasanuddin Maulana, Putra Kesultanan Bulungan Penjaga Warisan Sejarah Tanah Benuanta

Datu Dissan Hasanuddin Maulana, Putra Kesultanan Bulungan Penjaga Warisan Sejarah Tanah Benuanta

DetailNews.id, Tanjung Selor — Kalimantan Utara kehilangan salah satu tokoh yang selama puluhan tahun dikenal sebagai penjaga sejarah dan kebudayaan Kesultanan Bulungan. Drs. H. Datu Dissan Hasanuddin Maulana berpulang pada Jumat, 2 Oktober 2026.

Datu Dissan dikenal sebagai Raja Muda Kesultanan Bulungan sekaligus salah satu pewaris keluarga Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin. Bagi masyarakat Bulungan, sosoknya bukan hanya bagian dari sejarah keluarga kesultanan, tetapi juga salah satu tokoh yang turut merawat ingatan tentang perjalanan panjang Bulungan sebagai bagian penting dari sejarah Kalimantan Utara.

Putra Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin dan Aji Ratu Djubaidah

Datu Dissan merupakan putra dari pernikahan Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin dengan Djubaidah yang bergelar Aji Ratu. Ayahandanya, Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin, merupakan Sultan Bulungan yang memerintah pada 1931–1949. Setelah masa kesultanan, beliau melanjutkan pengabdiannya dalam pemerintahan daerah dan menjabat sebagai Bupati Bulungan pada 1955–1958.

Dari garis ayahnya, Datu Dissan mewarisi garis bangsawan Bulungan, Tidung dan Berau yang bertaut melalui sejumlah perkawinan antarkeluarga bangsawan di Kalimantan.

Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin merupakan putra Sultan Azimuddin dengan Pengian Kesuma Sibut, putri Sultan Muhammad Kaharuddin II bin Maharaja Lela yang dalam sejumlah riwayat dikenal sebagai Raja Tidung atau Vorst de Tidongers.

Sultan Azimuddin sendiri merupakan putra Sultan Muhammad Kaharuddin I dengan Si Tinting, putri Sultan Adji Kuning dari Gunung Tabur.

Garis keturunan tersebut memperlihatkan eratnya hubungan sejarah antara Bulungan, Tidung dan Berau yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan sejarah kawasan Kalimantan Utara.

Mengalir Pula Darah Brunei, Sulu dan Dayak

Jejak genealogis Datu Dissan bahkan membawa kita lebih jauh ke masa awal terbentuknya dinasti Bulungan. Dalam tradisi sejarah Bulungan, salah satu leluhurnya adalah Kenawai Lumu, putri Datu Mancang dan Ratu Asung Luwan.

Riwayat tersebut memiliki tempat penting dalam sejarah asal-usul Bulungan. Sejumlah kajian sejarah mencatat pasangan Datu Mancang–Asung Luwan, kemudian Singa Laut–Kenawai Lumu, sebagai bagian dari mata rantai awal pemerintahan Bulungan.

Dalam tradisi tersebut, Datu Mancang dikaitkan dengan lingkungan bangsawan Brunei, sedangkan Asung Luwan memiliki akar masyarakat Dayak Kayan.

Putri mereka, Kenawai Lumu, kemudian menikah dengan Datu Rasyid yang bergelar Singa Laut, yang dalam tradisi Bulungan dikaitkan dengan Sulu. Dari perkawinan tersebut kemudian lahir generasi penguasa Bulungan berikutnya.

Karena itu, dalam silsilah tradisionalnya, Datu Dissan membawa pertautan sejarah berbagai unsur kebudayaan dan bangsawan Bulungan, Tidung, Berau, Brunei, Sulu dan Dayak Kayan.

Penjaga Arsip dan Ingatan Sejarah

Warisan Datu Dissan tidak berhenti pada silsilah. Ia dikenal sebagai salah satu penjaga arsip keluarga Kesultanan Bulungan. Arsip pribadi keluarga Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin menjadi bagian penting dalam dokumentasi sejarah Kalimantan Utara, termasuk sebagai sumber foto dan informasi mengenai Kesultanan Bulungan.

Di tangannya, sejarah keluarga tidak sekadar menjadi cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut. Sejarah juga dirawat dalam bentuk dokumen agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Datu Dissan juga menjadi narasumber dalam berbagai kajian mengenai adat dan kebudayaan Bulungan, termasuk rumah adat, bahasa dan tradisi masyarakat.

Namanya tercatat dalam Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2018 berkaitan dengan tradisi Biduk Bebandung, salah satu warisan budaya masyarakat Bulungan.

Dalam perjalanan pengabdiannya, Datu Dissan juga pernah dipercaya sebagai anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) bidang Seni dan Budaya serta Tim Ahli Gubernur.

Ia juga pernah menjabat Ketua Umum Himpunan Keluarga Besar Bulungan (HKBB) Kota Tarakan, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Tarakan, serta menjadi anggota Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN).

Memilih Mewariskan, Bukan Sekadar Memiliki

Salah satu jejak penting Datu Dissan dalam pelestarian sejarah adalah keterlibatannya dalam hibah lahan bekas kompleks Istana II Kesultanan Bulungan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara.

Sebagai kuasa ahli waris Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin, ia turut menyerahkan lahan tersebut untuk kepentingan pelestarian dan pembangunan kembali kawasan Kesultanan Bulungan.

Langkah tersebut kemudian menjadi bagian dari proses revitalisasi kawasan kesultanan sebagai pusat sejarah, budaya dan pariwisata Kalimantan Utara.

Di sinilah sosok Datu Dissan memiliki arti tersendiri. Ia tidak hanya menerima warisan dari leluhur. Beliau juga memilih untuk mewariskannya kembali kepada masyarakat.

Sejarah yang Hidup dalam Dirinya

Bagi Datu Dissan, Kesultanan Bulungan bukan sekadar nama dari masa lampau. Di dalamnya terdapat perjalanan panjang masyarakat Kalimantan Utara—tentang perpindahan manusia, hubungan antarkerajaan, perkawinan antarsuku, perkembangan Islam, adat istiadat, bahasa, perdagangan, pemerintahan, hingga perjuangan mempertahankan identitas daerah.

Karena itu, kehadiran Datu Dissan selama ini menjadi salah satu penghubung antara Bulungan masa lalu dan Kalimantan Utara masa kini. Ia merupakan bagian dari generasi yang masih dapat mendengar secara langsung kisah-kisah keluarga kerajaan dari para pendahulunya, kemudian menyampaikannya kepada masyarakat dan generasi muda.

Melalui dirinya, sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku dan arsip, tetapi juga hidup dalam ingatan dan cerita.

Selamat Jalan, Datu Dissan

Kepergian Datu Dissan Hasanuddin Maulana meninggalkan duka bagi keluarga besar Kesultanan Bulungan dan masyarakat Kalimantan Utara. Namun, warisan seorang penjaga sejarah tidak berakhir ketika ia meninggalkan dunia.

Warisan itu tetap hidup dalam arsip yang tersimpan, adat yang dijalankan, bahasa yang digunakan, tradisi yang dirawat, tanah leluhur yang dijaga, serta cerita yang terus disampaikan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Datu Dissan telah menjalani bagian dari tugas sejarahnya.

Ia lahir dari garis keturunan panjang yang mempertemukan Bulungan, Tidung, Berau, Gunung Tabur, Brunei, Sulu dan Dayak Kayan. Ia kemudian menghabiskan hidupnya sebagai salah satu penjaga warisan yang diterimanya. Ia bukan hanya pewaris sebuah nama besar.

Beliau adalah bagian dari rantai panjang yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan Tanah Benuanta. Selamat jalan, Datu Dissan Hasanuddin Maulana.

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kekhilafan beliau, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan tempat peristirahatannya, serta menempatkan almarhum di antara hamba-hamba-Nya yang mendapat rahmat. Al-Fatihah.

Obituari oleh: Joko Supriyadi
Ketua Yayasan Sejarah dan Budaya Kaltara

Peliput: Raden

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments