DetailNews.id, Kotamobagu – Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Utara (PW GP Ansor Sulut), Hamri Mokoagow, mendorong generasi muda, khususnya Persatuan Remaja Masjid Agung Baitul Makmur (PRMABM) Kotamobagu, untuk mengambil posisi sebagai inti perubahan di tengah masyarakat.
Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Utara (PW GP Ansor Sulut), Hamri Mokoagow saat menjadi salah satu narasumber dalam diskusi bertajuk “Pemuda Sebagai Gagasan Utama Perubahan” yang digelar Persatuan Remaja Masjid Agung Baitul Makmur (PRMABM) Kotamobagu di Balai Desa Kobo Kecil
Dorongan tersebut disampaikan Hamri saat menjadi salah satu narasumber dalam diskusi bertajuk “Pemuda Sebagai Gagasan Utama Perubahan” yang digelar Persatuan Remaja Masjid Agung Baitul Makmur (PRMABM) Kotamobagu di Balai Desa Kobo Kecil.
Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya Hamri Mokoagow selaku Ketua PW GP Ansor Sulut, Amaluddin Bahansubuh dari Pemuda Muhammadiyah, serta Murdiono Mokoginta, seorang sejarawan Bolaang Mongondow yang mengurai perjalanan dan peran pemuda dalam sejarah dunia.
Dalam pengantarnya sebagai narasumber, Hamri Mokoagow diminta membahas posisi pemuda sebagai pelopor perubahan. Ia mengatakan, perjalanan sejarah Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran generasi muda yang hadir dalam berbagai momentum penting perubahan bangsa.
Menurut Hamri, setidaknya terdapat tiga momentum besar yang menjadi tonggak pergolakan pemuda Indonesia, yakni Generasi 1908, Generasi 1928 dan Generasi 1998.
“Kenapa harus pemuda? Dalam teori sosial, pemuda adalah agent of social change, karena berada pada kelas transisi menuju kemapanan, baik secara sosial, politik maupun ekonomi,” kata Hamri.
Menurutnya, posisi pemuda yang berada dalam fase transisi tersebut membuat mereka memiliki ruang untuk berpikir lebih bebas dan tidak terlalu terikat dengan kepentingan kelompok-kelompok yang telah mapan.
Pemuda, lanjut Hamri, memiliki kesempatan untuk menjaga idealisme dan melahirkan gagasan-gagasan baru yang mampu menjawab persoalan masyarakat.
Ia kemudian mengutip pemikiran Tan Malaka mengenai idealisme yang menjadi salah satu kekuatan penting yang dimiliki generasi muda.
“Anak muda dalam pandangan para pemikir dan tokoh pejuang adalah mereka yang belum tercampur dengan sistem-sistem yang instan, transaksional dan pragmatis,” ujarnya.
Karena itu, Hamri mengajak para pemuda untuk tidak takut berpikir kritis, berkarya dan menghasilkan gagasan yang berbeda.
“Silakan berpikir, berkarya dan menulis hal-hal yang baru yang bisa memberikan kontribusi kepada pemerintah dan negara,” tegasnya.
Selain menjadi agent of social change, Hamri menyebut pemuda juga harus mampu menjadi kekuatan moral atau moral force di tengah masyarakat.
Menurutnya, pemuda harus memberikan contoh melalui sikap, kepribadian, kedisiplinan dan etika. Nilai-nilai tersebut dinilai penting karena pemuda memiliki pengaruh besar terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.
“Pemuda harus memberi contoh. Sikap, kepribadian, disiplin dan etika itu menjadi bagian penting yang dapat mempengaruhi publik dan masyarakat sekitar,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, Hamri mengajak para anggota PRMABM Kotamobagu untuk tidak hanya menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun intelektualitas, karakter, kepemimpinan dan kepedulian sosial generasi muda.
Ia juga mengingatkan pemuda agar mampu membaca perubahan zaman. Dalam tradisi pemikiran Nahdlatul Ulama, terdapat prinsip “Kun Ibna Jamanika”, yang berarti jadilah anak zamanmu.
“Jadilah anak zamanmu. Pemuda harus mampu membaca zaman, memahami persoalan yang berkembang dan kemudian mengambil peran dalam menjawab persoalan tersebut,” ungkap Hamri.
Sementara itu, Murdiono Mokoginta dalam pemaparannya mengurai panjang mengenai posisi pemuda dalam sejarah dunia. Ia membahas bagaimana generasi muda menjadi bagian penting dalam berbagai pergerakan dan revolusi yang berkembang dari Eropa, Amerika hingga kawasan Dunia Ketiga, termasuk Asia dan Afrika.
Pembahasan tersebut kemudian diarahkan pada peran pemuda dalam perjalanan Revolusi Indonesia pada abad ke-20.
Menurut Murdiono, berbagai perubahan besar dalam sejarah dunia menunjukkan bahwa generasi muda memiliki energi, keberanian dan daya kritis untuk mempertanyakan keadaan serta menawarkan gagasan baru.
Semangat tersebut, menurutnya, relevan dengan kondisi generasi muda saat ini yang menghadapi perubahan sosial, teknologi dan ekonomi yang berlangsung sangat cepat.
Berbagai gagasan positif yang lahir dari pemuda, kata Murdiono, dapat menjadi kekuatan untuk membawa arah bangsa menuju kondisi yang lebih baik.
Pandangan tersebut sejalan dengan ungkapan sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, yang menyebut bahwa “Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, maka matilah sejarah sebuah bangsa.”
Diskusi yang melibatkan unsur kepemudaan lintas organisasi tersebut menjadi ruang bertukar gagasan mengenai bagaimana generasi muda dapat mengambil peran lebih besar dalam kehidupan sosial, kebangsaan dan pembangunan daerah.
Hamri berharap forum seperti itu tidak berhenti pada diskusi, tetapi mampu melahirkan gerakan dan karya nyata.
Ia menilai pemuda harus berani mengambil posisi sebagai subjek perubahan, bukan sekadar menjadi penonton atas perubahan yang berlangsung di sekitarnya.
“Pemuda harus menjadi bagian dari perubahan. Gagasan, karya dan sikap yang dibangun hari ini akan menentukan seperti apa masyarakat dan bangsa kita ke depan,” pungkasnya.
Peliput : Owen




