Rabu, September 27, 2023
BerandaPojok SahabatKedalaman Laut

Kedalaman Laut

Tahun 90-an di Kota Baringtonia, pabrik pengalengan ikan bertumbuh pesat. Mungkin prospek ini di lihat bagus oleh para investor. Mengingat Baringtonia adalah kota pesisir dengan pendapatan utama berupa hasil laut, umumnya ikan. Ada satu jenis ikan yang menjadi maskot di kota ini, namanya katsuwonus pelamis.

Bagi setiap pemuda yang putus sekolah ataupun tidak, keberadaan pabrik olahan ikan merupakan peluang kerja. Pabrik memberi mereka harapan menyambung hidup. Bagi pabrik, cita-cita anak muda seperti ini adalah aset yang tidak boleh disia-siakan.

Gedung-gedung mulai bermunculan di pusat kota. Setiap pagi ada saja orang berkumpul untuk mendaftar pekerjaan. Mereka berasal dari berbagai pelosok kampung. Ada juga yang dari pinggiran kota. Mereka para pengangguran yang sumber ekonominya tergusur oleh bangunan-bangunan besar.

Para nelayan yang kehilangan lautan itu akhirnya hijrah. Dari penangkap ikan menjadi pengaleng ikan olahan. Dari nelayan menjadi buruh pabrik.

Bagi seorang buruh pabrik, setiap hari adalah sama. Bangun lebih pagi dari ayam, mandi lebih cepat dari angsa, dan berangkat kerja lebih cepat dari kuda, agar tidak terlambat adalah ritus harian. Tapi hari itu sedikit berbeda bagi seorang pria yang sedang dalam kecemasan. Cemas karena istri yang melepasnya kerja sedang hamil tua.

“Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi Aku”.

Kemudian pria dengan kecemasan itu berangkat mencari hidup. Dan sang istri, sambil mengusap perut, menatap suaminya hilang ke dalam lorong-lorong sempit, dan sekejab bergabung dengan kemacetan jalan raya.

Dering telephone tiba-tiba berbunyi nyaring. Ruang pabrik pengalengan ikan yang luas tidak bisa menyembunyikan suaranya. Pria dengan sarung tangan dan potongan ikan kecil yang menempel di pakaiannya segera mengangkat telepon. Tidak sampai 2 menit, di ujung telepon hanya terdengar suara.

“Tunggu, Aku segara pulang”.

Dia segera berlari, membiarkan telepon yang baru digunakan bergelantungan begitu saja. Kali ini dia harus buru-buru mengambil motor diparkiran, menyalakannya, dan bergegas menuju rumah. Hingga lupa mengganti pakaian yang dari tadi lusuh dan kotor karena bercak darah ikan.

Sepanjang jalan dia tidak bisa tenang. Kecemasannya benarbenar kejadian. Perut istrinya mulai sakit. Mungkin tanda akan segera melahirkan. Sementara dirumah hanya ada istri dan mertuanya yang sudah tua.

Tambah Iagi malam itu langit setengah mendung, seperti

ada tanda-tanda hujan akan turun. Bintang hanya ada satudua, dan bulan melipat dirinya di balik selimut gumpalan awan. Rasa-rasanya pria itu mau terbang jika bisa.

Rumah mereka berjarak kurang dari setengah jam dari pabrik. Bagaimana caranya agar cepat sampai disana. Dia memacu motornya dengan cepat. Mengikuti jalan tikus untuk memangkas waktu. Setibanya dirumah, dia mendapati istri dan mertuanya tengah bersiap-siap menuju rumah sakit. Mereka membawa baju secukupnya untuk beberapa hari. Istrinya mulai merintih kesakitan. Serasa perut akan meledak.

“Sabar sebentar, mobil akan segera tiba”.

Mobil yang ditunggu pun datang, istri dan mertuanya segera naik bersama barang bawaan. Sedang dia menuntun dari depan dengan motornya. Dari atas motor, sesekali pria itu menghadap kebelakang, melihat istri dan mertuanya untuk memastikan mereka baik-baik saja.

Rumah sakit yang akan di tuju tepat di pusat kota. Pria itu duluan tiba. Dia langsung menemui adminstratur untuk mengurus semuanya. Tak lama kemudian istri dan mertuanya juga tiba. Keduanya langsung menuju ruangan unit gawat darurat. Ada beberapa perawat jaga disana, dan tanpa berlama-lama mereka segera menangabi istrinya.

Ruang administratur tersambung dengan ruangan unit gawat darurat, sehingga dari sana dia bisa melihat istrinya naik di atas tempat tidur berjalan, dengan bola roda yang segera membawanya pelan-pelan menuju kamar bersalin.

Dia mengikutinya dari samping, sambil menggendong tas warna putih bermotif bunga-bunga berisi pakaian dari rumah. Sepanjang jalan menuju kamar bersalin, dia menggengggam tangan istrinya erat-erat sambil melihat ke dalam matanya, lalu berkata-kata yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

“Jika bisa kutukar, aku akan mengambil kesakitanmu saat kau di garis depan antara hidup dan mati. Tapi tidak bisa, ini jelas perjuanganmu sendiri. Namun aku akan tetap disini, sambil berdoa”.

Mereka tiba di depan Pintu masuk kamar bersalin. Dia dan mertuanya akhirnya berhenti, mereka berdua tidak bisa masuk ke dalam. Dari depan Pintu dia hanya bisa menunggu dan berdoa.

Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Istrinya sudah sejam berada di dalam kamar bersalin, namun kabar kelahiran belum juga datang. Rasa cemas kini menyelimuti kedua orang yang sejak tadi menunggu. Ini adalah penantian cucu pertama mertuanya dan anak pertama baginya.

Beberapa kali dia berdiri sambil menatap kedalam kamar besalin Iewat kaca seukuran lebar dada. Berharap ada yang Iewat untuk sekedar bersandi kabar. Di dalam penantian, dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi kecemasannya. Dia benar-benar menunggu, kali ini waktu seperti bermain-main dengannya. Memang di dalam waktu, manusia seringkali seperti budak.

Sesaat kemudian, seorang dokter akhirnya keluar dari kamar bersalin membawa kabar bagi mereka berdua. Kelahiran anak pertama seperti anugerah. Dia dan mertuanya tidak bisa menyembunyikan kabar bahagia itu, nampak dari senyum yang menempel di wajah mereka.

“Selamat Pak, anak anda perempuan, tetapi…”

“Tetapi kenapa dok?”

“Tetapi saya heran, waktu lahir tadi dia tidak menangis, awalnya saya sempat khawatir jangan-jangan dia tidak selamat”.

Bagaimana bisa seorang bayi lahir ke dunia namun tidak menangis sama sekali, umumnya semua yang lahir pasti menangis. Memang aneh, akan tetapi keanehan itu segera tertutupi dengan kenyataan bahwa anak dan istrinya selamat. Dia telah menjadi seorang bapak, dan ltu cukup baginya.

Sekarang bukan waktunya memikirkan hal-hal aneh, sekarang waktunya untuk memikirkan kepulihan istri dan nama untuk anaknya, dan bagaimana perasaannya saat anak itu memanggilnya bapak?. Bayangan-bayangan seperti itu muncul dibenaknya.

Setelah proses persalinan selesai. Dengan bekal pakaian yang dibawa dari rumah, dia mengajak mertuanya masuk untuk menjenguk istri dan anaknya.

Wajah istrinya masih pucat dan tampak kelelahan, seperti habis berjalan jauh. Tapi masih bisa menggendong anaknya yang masih merah. Karena penasaran, dia merapat seperti memberi isyarat ingin menggendongnya. Keinginan seorang bapak yang telah lama menanti tidak bisa di tawar-tawar. Sambil menggendong anaknya dia kembali menatap istrinya.

“Bola matanya biru, seperti milikmu”.

Sang istri balas menatapnya, lalu pelan-pelan bicara padanya.

“Akan kau beri nama siapa anak ini?”.

Dulu sebelum dia dan istrinya menikah. Mereka berdua seringkali menghabiskan waktu bersama di pesisir pantai kota Baringtonia. Melihat senja, bercumbu dan merangkai kata-kata, sembari membangun bayangan tentang masa depan.

“Laut telah memberikanku kita, kau ingat kita bertemu di sini. Waktu itu aku sedang menjala ikan”.

Jauh sebelum dia menjadi buruh pabrik, dia adalah seorang nelayan. Hari-hari dia habiskan untuk mencari ikan, kadang juga kerang. Dari laut dia bisa makan, membeli baju dan menamatkan sekolah. Laut juga yang menjadi saksi pertemuan antara dia dan bidadari, perempuan sederhana yang kemudian menjadi istrinya kelak.

Kini, tidak hanya istri yang cantik, laut juga telah memberinya anak. Seorang anak perempuan yang nanti akan menghiasi keluarga kecilnya.

“Aku akan memanggilnya Laut”.

Mendengar itu istrinya hanya diam dan tersenyum, seperti memberi tanda setuju. Nama itu bagaikan kesimpulan bagi kehidupan bekas nelayan yang tidak lupa dari mana asalnya. Kesimpulan bagi kisah mereka berdua serta harapanharapan.

Sebagaimana laut, dia bisa menampung segala yang datang dari segala penjuru tanpa bertanya, sekalipun yang datang itu sampah ulah manusia. Harapannya, Laut kecil akan menjadi manusia yang memiliki hati yang setabah lautan.

Tanpa sadar waktu cepat berlalu. Laut yang dulunya seukuran lengan orang dewasa, kini sudah berumur lima tahun. Sudah lancar memanggil bapak, ibu dan juga nenek.

Sekali waktu di Tahun 1 998, negara mengalami krisis moneter, dan ekonomi mulai jatuh. Banyak perusahaan yang gulung tikar, pabrik-pabrik tutup, ada yang akhirnya melakukan PHK besar-besaran. Dampaknya banyak buruh pabrik yang kehilangan pekerjaan, ada yang di pecat tanpa pesangon sama sekali. Salah satu korban adalah orang tuanya.

Hari-hari mereka lalui dengan kesulitan. Di dorong oleh kondisi yang menggenaskan itu akhirnya orang tuanya putar haluan kembali jadi nelayan, menangkap ikan dan mencari kerang. Sesekali ibunya menjajakan gorengan dan kue kampung untuk membantu bapaknya.

Pada satu malam yang dingin, bulan begitu terang dan itu adalah sebaiknya waktu untuk pergi melaut. Ikan biasanya berkumpul di bawah sinar bulan yang menembus permukaan air laut sampai dikedalaman.

“Aku akan pergi, ini waktu yang tepat, mungkin kembali besok pagi’ .

Pria nelayan kemudian mengambil bekal untuk satu malam, menyediakan alat pancing dan umpan. Tak lupa pula jaket dan penutup kepala yang telah disediakan istrinya.

“Hati-hati, akhir-akhir ini cuaca sering berubah tiba-tiba”.

Sebelum berangkat dia pergi ke kamar dulu untuk sejenak meninggalkan kecupan di kening Laut kecil yang sedang lelap. Setelah itu dia pergi menerobos lautan.

Sayangnya, itu adalah kali terakhir dia melihat istri dan anaknya. Pria nelayan tidak pernah kembali Iagi. Hanya terdengar berita dari seberang. Ada nelayan yang ditemukan mengapung diperairan negeri jiran tanpa nyawa.

Laut kecil yang belum mengerti apa-apa, seringkali melihat ibunya duduk di depan pintu sambil menitikan air mata. Setiap hari seperti itu, bahkan kadang-kadang bicara sendiri. Kondisi fisik ibunya semakin drop, matanya cekung dengan lingkaran hitam dibawahnya tanda kurang istirahat, sedang tubuhnya bagai tulang bungkus kulit.

Satu tahun kemudian setelah keperguan bapaknya, tenda terpasang di depan rumah mereka. Orang-orang berkumpul sambil melantunkan bahasa yang masih belum dimengerti oleh Laut kecil. Itu kumandang bahasa dola untuk ibunya yang telah tiada. Umurnya baru enam tahun, dia sudah kehilangan kedua orang tuanya.

Kini tinggal neneknya yang tersisa. Mereka berdua menjalani hidup seperti biasanya. Sekali waktu, neneknya terpikir untuk menitipkan Laut kecil pada adik mendiang bapaknya.

Di suatu pagi saat akan berangkat sekolah, dia menatap foto mendiang ibu-bapaknya lama-lama. Wajahnya sendu, ada air mata yang tak kunjung keluar. Seperti rindu yang di pendam dalam-dalam. Tetapi dia tidak juga bisa menangis. Padahal apa yang paling manusiawi dari manusia kalau bukan menangis.

Namun satu hal yang dia pahami, jangan bermain-main dengan lautan, sekali waktu dia bisa memberimu nama dan kehidupan. Ada saatnya dia bisa memberimu duka dan kematian.

Penulis : Zainuddin Makasaehe Pai

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments