DetailNews.id, Tarakan — BPJS Ketenagakerjaan resmi meluncurkan Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian Manfaat (PEKA) di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Program ini dirancang agar santunan yang diterima ahli waris peserta tidak berhenti sebagai bantuan konsumtif, tetapi dapat dikembangkan menjadi modal dan kegiatan ekonomi produktif.
Peluncuran PEKA dengan tema “Bangkit Merajut Kemandirian Menuju Kesejahteraan Berkelanjutan” digelar di Restoran Royal Crown Tarakan, Selasa (18/8/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul, Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Tarakan Masbuki, Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Regional Kalimantan Faizal Rachmat, serta perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltara, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan dan sejumlah pihak terkait.
Peluncuran PEKA di Tarakan merupakan bagian dari peluncuran serentak program tersebut di 34 provinsi di Indonesia. Peluncuran nasional dipusatkan di Bandung, Jawa Barat, dan dihadiri Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Yassierli serta Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan.
Di Tarakan, sebanyak 60 ahli waris penerima manfaat Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) mengikuti kegiatan tersebut.
Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Regional Kalimantan Faizal Rachmat mengatakan, secara regulasi BPJS Ketenagakerjaan memang memiliki tugas memberikan perlindungan kepada pekerja melalui program jaminan sosial ketenagakerjaan. Namun, menurut dia, tanggung jawab tersebut tidak berhenti ketika santunan dibayarkan kepada ahli waris.
“Ini bentuk dari kepedulian BPJS Ketenagakerjaan untuk memastikan manfaat yang diterima para ahli waris tidak putus hanya selesai dikonsumtif, tapi terus diberdayakan untuk melanjutkan kehidupannya yang lebih baik,” kata Faizal.
Salah satu perhatian utama dalam program tersebut adalah mencegah keluarga pekerja yang mengalami risiko kehilangan sumber penghasilan agar tidak kembali terjerumus dalam kemiskinan.
“Presiden nitip, bagaimana caranya supaya tidak ada kemiskinan baru. Harus ada manfaat yang kita berikan, dan kita pastikan manfaat ini berdaya guna sehingga kehidupan terus berlanjut,” ujarnya.
Di Tarakan, dari 60 ahli waris yang mengikuti program, sebanyak 20 orang diketahui telah memiliki usaha. Sementara 40 peserta lainnya mengikuti pelatihan keterampilan sesuai minat dan potensi yang dimiliki.
Pelatihan tersebut tidak hanya berorientasi pada keterampilan produksi, tetapi juga dibarengi dengan edukasi pengelolaan keuangan. BPJS Ketenagakerjaan menggandeng BI, OJK dan perbankan untuk memberikan literasi keuangan kepada para peserta.
“Materi wajib yang akan kami berikan adalah terkait literasi keuangan. Dari BI, perbankan dan OJK akan menyampaikan bagaimana pengelolaan keuangan yang baik, tidak terjebak investasi bodong atau habis untuk hal-hal yang tidak produktif,” jelasnya.
Selain literasi keuangan, peserta juga mendapatkan pelatihan keterampilan praktis, mulai dari pembuatan produk kuliner hingga kerajinan tangan. Pelatihan dilakukan dengan menggandeng Rumah BUMN serta Dinas Koperasi dan UMKM.
Faizal mengatakan, program tersebut tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Peserta akan mendapatkan pendampingan agar mampu menghasilkan produk secara mandiri.
“Ini tidak bisa sendiri, harus bersama sehingga sirkuler ekonominya berjalan,” katanya.
BPJS Ketenagakerjaan juga menyiapkan strategi pemasaran bagi produk yang dihasilkan peserta PEKA. Sebagai langkah awal, kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan Tarakan akan menjadi konsumen pertama produk peserta.
“Saya sudah minta ke Pak Wali dan Pak Masbuki Cabang, pertama kali konsumennya nanti Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Tarakan yang akan membeli produk Bapak Ibu,” tegasnya.
Selain membeli produk, BPJS Ketenagakerjaan akan menyediakan etalase khusus di kantor cabang untuk memajang produk UMKM peserta PEKA. Produk tersebut juga akan diperkenalkan kepada perusahaan-perusahaan yang menjadi mitra BPJS Ketenagakerjaan.
Menurut Faizal, strategi itu penting agar peserta tidak berhenti pada tahap produksi tanpa memiliki pasar.
“Kalau tidak dikenalkan, produknya akan mati nantinya. Untuk itu tugas kami selain pelatihan, juga membantu memonitor produk dan memasarkannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, produk yang dikembangkan melalui PEKA akan disesuaikan dengan potensi dan karakteristik masing-masing daerah.
“Produknya muatan lokal di masing-masing daerah. Kami melihat produknya apa, kemudian membantu pelatihannya dan mengomunikasikan dengan mitra-mitra yang mendukung,” katanya.
Untuk mengikuti program tersebut, ahli waris akan ditawarkan ketika mengajukan klaim JKK maupun JKM. Peserta yang berminat kemudian didata dan diarahkan mengikuti pelatihan sesuai jenis usaha atau keterampilan yang ingin dikembangkan.
Faizal berharap PEKA dapat menjadi bagian dari upaya memastikan santunan jaminan sosial benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi keluarga peserta.
“Harapannya dana santunan yang diterima bisa menjadi modal usaha produktif sehingga kehidupan keluarga terus berlanjut dan semakin mandiri,” pungkasnya.
Peliput: Raden




